Pergaulan Bebas Sebabkan Aborsi
Pergaulan bebas menjadi salah satu faktor terjadinya aborsi. Aborsi atau pengguguran kandungan masih banyak terjadi di masyarakat. Menurut data Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sekitar 2,4 juta angka yang menunjukkan terjadinya aborsi. Dan terdapat peningkatan sekitar 15% tiap tahunnya. Sementara data hasil survei dari LSM menunjukkan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) sebesar 37.000 kasus, di antaranya terjadi dalam lingkungan pranikah sebesar 27%.
Pergaulan anak muda belakangan ini sangat mengkhawatirkan. Berhubungan seksual di luar pernikahan seakan menjadi hal yang biasa saat ini, tidak lagi tabu. Kita dapat melihat fenomena itu di kehidupan nyata, di mana banyak muda mudi bercumbu mesra dengan status belum menikah. Belum lagi sesi curahan hati dan berbagi pengalaman asmara pribadi di media sosial yang menunjukkan hal itu sudah ternormalisasikan oleh sebagian masyarakat. Dengan gaya hidup seperti itu, maka semakin besar peluang terjadinya aborsi. Oleh sebab itu artikel ini akan membahas apa hubungan pergaulan bebas dan aborsi, serta penyebabnya.
Hubungan Aborsi dan Pergaulan Bebas
Pergaulan bebas banyak menyumbang terjadinya aborsi. Banyak kalangan yang terjun ke pergaulan bebas, mulai dari anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa. Dan dari semua kalangan itu jika terjadi KTD maka berpotensi besar terjadi aborsi.
Pergaulan bebas banyak terjadi pada anak muda, di mana kebanyakan masih ingin bersenang-senang. Jika KTD terjadi pada remaja terlebih pelajar dan mahasiswa, banyak hal yang harus mereka hadapi. Stigma sosial yang memberi label negatif pada mereka terutama perempuan, faktor ekomoni yang belum mapan, masih ada pendidikan yang belum terselesaikan, tidak bertanggung jawabnya pasangan dan berbagai tekanan lainnya. Hal itu membuat mereka memutuskan untuk aborsi.
Rahasia Umum di Tahun Baru
Fenomena rahasia umum menyedihkan terjadi di Indonesia tiap malam tahun baru. Di mana banyak pasang muda mudi berkeliaran dan melakukan hubungan seksual, bahkan tanpa pengaman. Biasa yang terjadi (sepengamat penulis) beberapa bulan kemudian, satu persatu beberapa pelajar atau pemuda memutuskan berhenti sekolah dan menikah. Setelah ditelusuri, ternyata terjadi KTD.
Beberapa pelaku pergaulan bebas yang mengalami KTD memutuskan untuk mempertahankan janin dan menikah, namun tidak sedikit juga yang memutuskan untuk aborsi. Bahkan, yang mempertahankan janin pun sebelumnya juga sempat berusaha menggugurkan dengan berbagai cara yang familiar seperti memakan nanas muda, dan ramuan lainnya namun tetap gagal.
Pendidkan Seksual
Pendidikan seksual sangatlah penting untuk diterapkan. Namun sayangnya hal itu belum terealisasikan. Di Indonesia, pendidikan seksual tidak banyak anak dapatkan baik dari orang tua maupun sekolah. Pendidikan seksual masih masyarakat anggap tabu. Bahkan orang tua tidak mampu dan merasa aneh untuk menjelaskan fungsi bagian tubuh dan alat reproduksi manusia pada anak. Akibatnya, anak memenuhi rasa ingin tahunya dengan cara yang tidak benar seperti pornografi, dan ’ajaran’ dari temannya yang tidak sesuai dan mengarah pada hal negatif.
Berbekal pengetahuan anak yang sudah terkontaminasi itulah anak mencoba mempraktekkannya di kehidupan nyata, terjadilah pergaulan bebas dengan beberapa faktor lainnya. Terlebih jika pergaulan bebas itu terjadi pada remaja labil yang tidak tahu menahu konsekuensi dari pergaulan bebas. Anak-anak kebanyakan akan berpikir di bagian senang-senangnya saja, tanpa tahu ada risiko dari perbuatannya. Banyak remaja berhubungan seksual tanpa pengaman lalu terjadilah KTD lalu berusaha untuk aborsi.
Pengaruh Media
Dengan semakin mudahnya manusia mengakses internet, maka semakin mudah juga manusia mencari dan menerima informasi baik positif maupun negatif. Kini banyak konten tidak mendidik seperti pornografi yang mudah terakses oleh anak-anak. Hal ini juga lah yang sering menjadi perdebatan di kalangan netizen. Di mana sebagian netizen menyalahkan creator konten dewasa di media sosial yang dapat terakses anak di bawah umur, sementara sebagian netizen menyalahkan orang tua yang memberi anak kebebasan bermain gadget.
Pengaruh Lingkungan
Lingkungan sosial dan pertemanan sangat berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola pikir seseorang. Tidak sedikit anak-anak SD yang bahkan sudah mengerti dengan perbuatan hubungan seksual dalam pengertian yang tidak benar. Mirisnya, orang dewasa di sekitar anak tidak mempertahikan perkataan dan tindakan mereka sehingga anak menerima informasi yang tidak tepat tanpa adanya pengarahan. Sehingga anak berlaku sesukanya dan berbagi pengetahuan itu kepada temannya juga. Sudah menjadi hal yang benar di mana lingkungan dapat sangat memengaruhi seseorang.
Penaruh Media dan Lingkungan dalam Keputusan Aborsi
Internet yang mudah di akses membuat pelaku pergaulan bebas yang mengalami KTD mudah juga untuk mencari tahu informasi terkait aborsi. Dari bagaimana cara aborsi yang tidak menyakitkan, hingga informasi klinik tempat aborsi yang ”aman” mudah mereka dapatkan oleh diri sendiri atau informasi dari lingkungan pertemanan. Terutama lingkungan pertemanan yang sama-sama terjun di dunia pergaulan bebas. Mereka dapat saling berbagi informasi dan juga mendapatkan contoh bahwa memiliki anak dengan kondisi mereka yang belum mapan tidak dapat mereka lakukan. Mungkin mereka juga melihat bagaimana teman mereka yang dahulu mengalami KTD lalu memutuskan untuk tidak aborsi namun kehidupannya justru kesusahan. Karena tidak mau bernasib sama sehingga mereka memutuskan untuk aborsi.
Itulah tadi pembahasan mengenai aborsi dan pergaulan bebas. Semoga kita dan orang yang kita cintai terjauh dari pergaulan bebas dan hal yang Allah murkai. Penulis berharap kedepannya pendidikan seksual dapat kita terapkan mulai dari rumah hingga sekolah secara baik dan benar. Sehingga harapannya pergaulan bebas tidak lagi marak, dan angka aborsi setidaknya terus menurun.

