Rabiah Al-Adawiyah, Sufi Perempuan dalam Teologi Patriaki
Dunia terbentuk oleh sebuah persepsi, bahwa ia terkonstruksi sebagai ruang hidup manusia atas dasar bangunan persepsi terhadapnya. Bangunan persepsi atau cara pandang atas dunia ini terbentuk atas dasar konstruksi patriaki. Konsep yang hampir menggejala dalam seluruh sistem kerja budaya manusia; yang acapkali kebenaran ditentukan berdasarkan standar atasnya.
Perempuan seringkali diletakkan sebagai sosok inferior dalam relasi kuasa laki-laki dalam dunia patriaki. Persepsi budaya patriaki atas agama terkadang memahami wujud perempuan dalam sosok yang dikendalikan oleh sebuah kekuasaan laki-laki. Pemahaman ini bukanlah berbicara mengenai salah dan benar, melainkan adalah sebuah cara pandang yang menyejarah dalam struktur berpikir manusia sejak era purba hingga memasuki era postmoderen.
Perempuan kemudian berupaya membangun sebuah kesadaran baru atas peran pentingnya bagi ruang hidup bersama. Kesadaran sosio-kuktural dan religi diciptakan untuk memberikan sebuah ruang yang lebih adil atas peran perempuan bagi dunia. Kesadaran ini sudah dimulai sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam dunia sufisme atau tasawuf, peran perempuan dalam pengembangan ilmu tasawuf telah ada sejak lebih dari 1000 tahun yang lalu.
Salah satu tokoh sufi agung dalam sejarah peradaban Islam adalah Rabiah al-Adawiyah (713-801 M). Ia adalah seorang mistikus sufi agung perempuan kelahiran Bashrah Iraq yang menghembuskan nafas cinta dalam relasi manusia dan Tuhan (mahabatullah).
Rabiah sebagai Sufi Perempuan
Rabiah adalah seorang sufi perempuan yang telah mencapai derajat khawasul khawas atau khusus di atas khusus, super istimewa dalam pendekatan al-Ghazali (Kurniawan, 2020). Ia juga merupakan perempuan sufi yang begitu dihormati oleh kalangan ulama besar tasawuf termasuk Hasan Bashri dan Sufyan at Tsauri. Rabiah begitu dalam dan intens membangun relasi transendental dengan Allah, ia selalu memohon ampun atas ketidaksempurnaan dalam beribadah dan mencintaiNya.
Dalam telaah Al-Qur’an sendiri, Allah memberikan kesempatan yang sama dalam beramal baik kepada laki-laki maupun perempuan (Qs.[16]: 97). Dalam keadaan ini, maka pada hakikatnya perempuan sangat dimuliakan dalam ruang teologi Islam, termasuk di dalamnya adalah dunia spiritualisme melalui hadirnya sosok sufi agung perempuan, Rabiah al-Adawiyah.
Rabiah al-Adawiyah sendiri tidak menyatakan posisinya sebagai seorang pejuang hak perempuan dalam sebuah relasi gender. Rabiah tepatnya adalah seorang mistikus yang menekankan ide substansi manusia bertuhan tanpa melihat gender yang sering dipertentangkan. Walaupun demikian, Rabiah secara tidak langsung telah memberikan kesadaran sebuah konsep manusia bertuhan yang sejati, dalam hal ini telah berhasil ditunjukkan oleh sosok perempuan agung dalam sejarah agung peradaban Islam. Bahwa seorang muslimah memiliki kedudukan derajat yang agung dihadapan manusia (dan Tuhan).
Dalam perpektif gender, Rabiah telah membuktikan bagaimana seorang (sufi) perempuan memiliki kontribusi besar dalam pengembangan ilmu tasawuf, sebuah ilmu Islam yang sebagian besar tokohnya didominasi oleh ulama laki-laki, seperti: Abu Nuwas, Abu Yazid al-Busthami, Junaid al-Baghdadi, Al-Hallaj, al-Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Jailani, Suhrawardi, Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi, dan masih banyak lagi.
Hingga akhir hayatnya Rabiah al-Adawiyah tidak menikah, walaupun ia menerima banyak pinangan dari laki-laki terhormat. Ia menolak menikah bukan karena pemahaman feminisme yang memandang institusi perkawinan sebagai sebuah bentuk penindasan akan eksistensi perempuan. Ia memilih tidak menikah karena ia tidak ingin cintanya terbagi kepada yang lain, karena cintanya hanya ia tujukan semata kepada Allah tanpa imbalan apapun (Fajrian, 2021).
Rabiah Al-Adawiyah dan Kesadaran Teologis
Rabiah al Adawiyah menerapkan ide dan gagasan cinta atau kepada Allah (mahabatullah), dan bukan atas dasar ketakutan manusia kepadaNya. Dalam sebuah kalimat yang sangat terkenalnya, Rabiah menyatakan:
“Ya Tuhan jika aku menyembahMu karena takut akan neraka, maka bakarlah aku di dalam neraka. Jika aku menyembahMu karena mengharapkan surga, maka keluarkan aku dari surgaMu. Tetapi jika aku menyembahMu karena diriMu sendiri, maka janganlah marah padaku, dan biarkan aku menatap keindahanMu yang abadi“. (Mardatila, 2021).
Rabiah al-Adawiyah telah menghadirkan sebuah kesadaran teologis bagi siapapun bahwa perempuan memiliki sebuah peran besar dalam dunia religi. Rabiah secara cerdas telah mampu menjelaskan hakikat manusia bertuhan, bahwa substansi relasi transenden antara manusia dan Allah adalah cinta yang mampu membunuh segenap kebencian.
Cinta kepada Allah bagi Rabiah adalah totalitas penghambaan manusia. Cinta kepadaNya berarti tenggelam bersamaNya dan berpaling dari segala selainNya. CintaNya telah menjadikan diri manusia kehilangan rasa benci kepada semua makhlukNya (Mustamin, 2020). Di sini dapat terlihat bahwa cinta telah melaburkan segala bentuk kebencian kepada siapapun, karena yang hadir dalam jiwa manusia adalah kesadaran akan cinta semata. Cinta yang hadir memenuhi ruang kalbu manusia.
Rabiah al-Adawiyah mampu memberikan warna cahaya yang cukup gemilang dalam konstruksi pemikiran tasawuf dengan menghadirkan substansi berupa cinta kepadaNya. Menjadi hal yang logis ketika Rabiah seorang perempuan ahli tasawuf yang lebih mampu merasakan kehadiran cinta dibandingkan sosok laki-laki dalam merasakan hadirnya cinta atau mahabbah dalam dirinya.
Relasi Peribadatan Manusia Menurut Rabiah
Gagasan mahabbatullah (cinta kepada Allah) Rabiah al-Adawiyah berhasil menyadarkan manusia atas relasi peribadatan manusia kepada Tuhan; yang selama ini hanya dibalut oleh motif ketakutan akan neraka dan harapan atas surga. Ia menyadarkan akan relasi yang lebih tinggi yaitu hubungan yang didasarkan atas cinta dari seorang pecinta (hamba), dengan Yang Dicinta (Allah). Relasi ini berlandaskan pada keikhlasan (tanpa pamrih) apapun, tanpa berharap apapun, yang ada hanyalah keabadian cinta bersamaNya.
Bahwa relasi manusia bertuhan di tangan Rabiah al-Adawiyah memiliki makna tertingginya yaitu keikhlasan atas segala motif. Sebuah upaya membersihkan diri dari segenap hal selain Allah. Segala gerak ibadah dengan segenap niatnya adalah terbentuk oleh hadirnya eksistensiNya, dan tidak oleh hal apapun selainNya; apakah itu kehendak duniawi, hingga motif surga dan neraka. Segala motif itu telah mengesampingkan hadirnya Allah dalam diri manusia itu sendiri.
Konsep mahabatullah atau totalitas cinta kepada Allah bukanlah cinta dalam makna fisik. Cinta yang demikian adalah cinta yang terbelenggu oleh ruang, dan terbatas; yang tak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu, sehingga cinta itu menjadi tak membelenggu. Cinta Illahiyah ini merupakan cinta spiritual dan bukan cinta yang diselimuti oleh hawa nafsu. Cinta Allah adalah tingkatan tertinggi, puncak dari segala tingkatan. Mahabattullah adalah jalan keabadian menuju Tuhan.
Totalitas penghambaan selayaknya tidak menduakanNya, tidak menjadikan wujud-wujud selainNya menjadi eksis dan menjadi motif laju gerak ibadah dan penghambaan manusia. Allah tidak dapat dibandingkan dengan apapun jua, maka yang ada hanya Dia tidak selainNya. Kedekatan relasi transendental antara Allah dan makhluk hanya dan harus dilandasi oleh sebuah kata sederhana: cinta.
Bahwa kualitas hubungan manusia dan Tuhan adalah seberapa besar manusia mampu menumbuhkan cinta kepadaNya, sehingga tidak ada tempat lagi bagi kebencian untuk bersemayam dalam hatinya. Cinta sebagai substansi relasi transendental ini tampaknya begitu dibutuhkan oleh manusia postmoderen yang begitu kehilangan nilai mahabbah atau cinta dalam hubungan kemanusiaannya.
Totalitas Cinta Rabiah Al-Adawiyah
Rabiah al-Adawiyah bukan hanya menguasai ilmu tasawuf, tetapi juga ilmu tafsir, ilmu fiqih, dan juga ilmu hadis. Banyak ulama yang datang untuk berdiskusi dengannya dalam majelis-majelis yang dihadiri oleh Rabiah. Ketika beliau meninggal, lautan manusia mengiringi pemakamannya; mulai dari pejabat kekhalifahan, tokoh ulama, hingga kaum miskin. Walau beliau telah tiada, tetapi ilmu yang ia wariskan masih terus bergema hingga kini (Hafil, 2020).
Rabiah al-Adawiyah telah mampu menghadirkan sebuah landasan dalam relasi manusia bertuhan, yaitu totalitas cinta. Bahwa manusia secara sadar harus memahami mengapa ia menyembahNya, dan untuk apa manusia meletakkanNya dalam substansi jiwa terdalam, semua tidak lain adalah cinta tanpa pamrih. Sebuah cinta tanpa meminta, yang hanya Dia dalam relung jiwa.
Kini dapat disaksikan adanya manusia postmoderen yang selalu melaju berlandaskan pada motif materialisme, bergerak bagai robot tak berjiwa yang berjalan tanpa cinta, dan kesadaran akan arti penting bertuhan dengan cinta tampaknya perlu ditumbuhkan kembali melalui gagasan cinta dari seorang sufi agung perempuan, Rabiah al-Adawiyah.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan salat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan RasulNya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. at-Taubah [9]:71)
Dosen Program Magister Hukum
Universitas Al Azhar Indonesia

Syafrida
Assalamulaikum wr wb
Jum at barokhah
Sy sdh baca tulisannya pak Fokky bagus menanbah ilmu pengetahuan ttg tokoh perempuan Islam Rabiah Al Adawiyah tk atas ilmunya semoga menjadi amal ibadah ibadah yg tdk putus putusnya bagi bapak amiin YRA
Salam sehat utk bapak beserta keluarga
Aam
Masyaallah manfaat bngt prof Syukron sehat sehat panjang umur berkah rezekinya
Aam
Alhamdulillah bermanfaat sekali prof Syukron,,,,,semoga makin sukses sehat sehat dan selalu dalam lindungan Allah
Ivan adines
Sangat menginspirasi pak tulisannya. Sehat selalu pak