f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perceraian keluarga

Masalah Pernikahan yang Berujung Perceraian

Keluarga adalah tempat penting bagi anak. Di dalamnya ada ayah, ibu, dan anak. Mereka adalah komponen inti keluarga. Keutuhan keluarga penting untuk keluarga sakinah. Keluarga utuh dapat menjalankan fungsi kekeluargaan dengan lebih baik. Fungsi sosial, edukasi, hiburan, dan lainnya bisa berjalan dengan lebih baik. Dalam keluarga utuh, ayah dan ibu dapat bermusyawarah tentang kebutuhan anak. Misalnya, metode pola asuh, sekolah, dan pendidikan pertama. Pendidikan agama juga penting dalam keluarga untuk membentuk pribadi anak yang religius dan menjadi kebiasaan sehari-hari.

Lonjakan kasus perceraian

Harapan menggapai keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah akan semakin sulit, jika tidak terpenuhinya keutuhan dan kerukunan dalam sebuah keluarga. Sebagaimana fakta yang ada mengenai kasus perceraian yang marak terjadi di tanah air ini, mulai dari kalangan masyarakat biasa sampai para publik figur. Akibatnya anak  yang menjadi korban mereka menjadi kurang kasih sayang, kurang perhatian, kehilangan pendukung serta dampak buruk lainnya. Pada laporan statistik di Indonesia situs databoks.katadata.co.id angka perceraian tahun 2022 mengalami lonjakan kasus, mencapai 516.334 kasus. Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 15,31% dibandingkan tahun sebelumnya sejumlah 447.743 kasus. Sehingga pada tahun tersebut menempati peringkat tertinggi dalam kasus perceraian dalam kurun waktu enam tahun terakhir.

Pertengkaran dan Perselisihan

Pemicu setiap perceraian dalam pernikahan faktornya berbeda-beda, ada kasus pertengkaran dan juga perselisihan. Pada situs databoks.katadata.co.id disebutkan menjadi faktor utama penyebab perceraian nasioanal sepanjang tahun 2022. Jumlahnya mencapai 284.169 kasus atau sebesar 63,41% dari total faktor penyebab kasus perceraian. Perselisihan dan pertengkarang merupakan ujian dalam pernikahan maka saling memaafkan dan tidak memperpanjang persoalan adalah kuncinya sebagaimana dalam hadis

“Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang menaruh dendam kesumat (bertengkar)”. (HR Muslim)

Sosioekonomi

Pada situs yang sama menyebutkan bahwa faktor perceraian terbanyak berikutnya adalah ekonomi dengan jumlah sebanyak 110.939 atau 24,75% dari kasus perceraian yang terjadi. Tidak bisa dipungkiri bahwa kestabilan ekonomi keluarga memiliki bagian dan pengaruh yang basar untuk keberlangsungan kehidupan berkeluarga. Kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil membuat tekanan psikologis yang mempengaruhi mental pasangan sehingga dapat mengakibatkan stres yang berkepanjangan.

Baca Juga  Fenomena Gamophobia dan Dugaan Orang Tua Durhaka pada Anak

Menurut studi yang dilakukan oleh National Marriage Project di University of Virginia, bahwa konfilk keuangan merupakan salah satu ontributor terbesar terhadap perceraian seperti Ketidakstabilan ekonomi, pengangguran, utang yang berlebihan, atau ketidakseimbangan keuangan. Maka edukasi keuangan dalam keluarga menjadi hal yang penting, anggapan uang bukan segalanya memang ada benarnya melainkan dengan kondisi keuangan yang baik, bagian dari upaya untuk mengindari konflik sosioekonomi pada pasangan. Adapun faktor penyebab perceraian yang lain seperti meninggal 39.359 kasus (8,78%), KTDR 4.972 kasus (1,1%), zina 690 kasus (0,15%), dan sebagainya.

Kedewasaan setiap pasangan

Kedewasaan pasangan penting dalam pernikahan. Kesiapan mental menandakan kesiapan dalam pernikahan. Seseorang yang siap mental mudah menyesuaikan diri, mengendalikan emosi, dan bertanggung jawab. Ketidakdewasaan berdampak merugikan dalam pernikahan.

Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, Subandi Sardjoko dalam buku Child Marriage Report 2020 menyampaikan bahwa faktor umur juga menentukan kesiapan mental. Seseorang yang menikah pada usia di bawah 18 tahun akan memiliki kerentanan yang lebih besar baik pada akses pendidikan, kualitas kesehatan, potensi mengalami tindak kekerasan, serta hidup dalam kekurangan. Dampak buruk pernikahan seorang yang belum cukup dewasa tentu saja tidak hanya bagi seseorang yang dinikahi. Namun juga berdampak pada anak-anaknya sehingga berpotensi memunculkan generasi yang serba kekurangan.

Larangan Menolak pernikahan

Di tengah kekhawatiran dalam pernikahan seperti adanya perselisihan antar pasangan atau ketidak pastian finansial untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Islam sendiri sebagai agama yang menjunjung tinggi cinta dan kasih menganjurkan kepada manusia agar tetap menikah, dan tidak menganjurkan untuk membujang. Bahkan Rasulluah  menegur Utsman bin Mazh’un ingin hidup membujang (tabattul) dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Perlu kita pahami setiap ujian dalam pernikahan dan serba-serbinya merupakan hal yang wajar dan pasti terjadi. Maka perlu sikap kedewasaan pasangan dan tentunya keyakinan kepada sang Khaliq yang maha mengatur hidup dan matinya sesorang.

Baca Juga  Menghapus Stigma Negatif Sebuah Perceraian

Pernikahan juga merupakan sunnah bernilai ibadah yang menjadi penyempurna setengah dari agama. Untuk itu setiap pasangan hendaklah menikah dengan niat yang benar (lillah) maka akan dimudahkan urusannya serta dilapangkan rezekinya sebagaimana dalam surah An-Nur (32).

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allahakan memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui”.

Maka tujuan pernikahan bukan hanya sekedar menyalurkan syahwat birahi dan mencetak keturunan semata. Namun juga harus menciptakan iklim keluarga yang sehat, penuh kebahagiaan, saling mengasihi serta menyayangi pasangan. Keluarga yang utuh dan rukun akan mempengaruhi kualitas keturunannya, sehingga menjadikan generasi yang dapat berkontribusi untuk kemaslahatan orang banyak.

Tulisan ini adalah refleksi sosial tentang pernikahan. Banyak orang dengan mudah menikah dan berpisah. Ada yang terlalu takut dengan pernikahan. Pernikahan perlu persiapan serius. Gagal dalam pernikahan tidak bisa dicoba lagi. Pernikahan bukan hanya tentang kebutuhan seksual, tapi juga tanggung jawab sosial, moral, dan agama. Unsur pernikahan adalah ikatan batin. Tanpa unsur itu, pernikahan menjadi rapuh. Sikap merasa paling benar harus dihilangkan dalam hubungan.

Bagikan
Post a Comment