f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
publik perempuan

Laki-Laki: Berbagi Ruang Publik dengan Perempuan

Topik mengenai perempuan menjadi sesuatu yang kerap menarik perhatian, apalagi dalam dekade 2000 yang merupakan dekade kepemimpinan perempuan. Ramalan ini dicetuskan oleh John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam sebuah buku yang amat populer “Megatrend 2000”. Ramalan tersebut mengisyaratkan bahwa abad ke-21 merupakan dasawarsa yang penting bagi kehidupan perempuan. Hal ini berarti memberikan kesempatan bagi banyak perempuan untuk berkarir di setiap bidang; bahkan peranannya akan semakin menonjol dan dibutuhkan sebagai sumber daya manusia yang penting dalam aspek kehidupan.

Saat ini, hampir tidak terlihat lagi perbedaan antara laki-laki dan perempuan, kedua entitas itu memiliki status, kesempatan, dan peranan yang luas untuk berkembang dalam struktur masyarakat modern. Orang tidak merasa ganjil lagi ketika melihat ada seorang perempuan bekerja di sebuah pabrik, menjadi sopir, wartawan, atlet, guru besar; bahkan di negara Republik Indonesia pernah dipimpin oleh kepala negara seorang perempuan—Megawati Soekarno Putri.

Publik untuk Perempuan dan Diskriminasi Gender

Sejak dulu pun telah banyak orang yang bermunculan untuk memberi attention eksklusif terhadap nasib perempuan; di mana perempuan ini selalu mendapatkan persepsi dan perlakuan yang buruk dalam masyarakat  maupun di dalam keluarga daripada laki-laki. Di mana pun, perempuan kerap dengan kontribusi mencurahkan tenaganya untuk membina keluarga, mendidik anak-anaknya, merawat anggota keluarga yang sakit, bahkan di luar rumah pun, perempuan ambil kendali dalam usaha kesejahteraan masyarakat. Tapi eksistensinya masih dirasakan ada ketimpangan dalam pengakuan dan penghargaan terhadap perempuan dibandingkan laki-laki.

Transformasi eksponensial ilmu dan teknologi menghadirkan efek globalisasi yang pesat turut membawa berbagai perubahan yang mendasar dalam segala aspek kehidupan. Proses transformasi struktural dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri, menuntut penyesuaian baik dalam hal kualitas pengetahuan dan ketrampilan maupun sikap mental, disiplin, dan etos kerja.

Baca Juga  Apakah Salah Membaca Buku Self Improvement?

Hal ini juga musti mendapat perhatian khusus dari kalangan laki-laki, bahwasanya sebagai makhluk sosial, seharusnya sudah tidak ada lagi persepsi diskriminatif gender. Globalisasi juga membawa pengaruh yang semakin kompleks terhadap kehidupan, khususnya dalam ranah domestik dan publik. Misalnya, peluang kerja di sektor publik yang semakin kompetitif. Kerap kali kita menemukan bahwasanya beberapa posisi atau jabatan dalam pekerjaan selalu dilatarbelakangi oleh persoalan gender. Hal ini yang sering menimbulkan persoalan. Bahwa jabatan sebagai kasir semata-mata diperuntukkan bagi perempuan, sebab karena alasan fisik dan kecekatan ragawi. Laki-laki cenderung mendapatkan posisi dengan jobdesk yang kasar.

Oleh karena itu, melalui kaca mata laki-laki, dengan berupaya mendorong akses publik terhadap perempuan tanpa menimbulkan kecemburuan berbasis gender, tatkala perlu diperlukan cara seperti:

Memperluas Pengetahuan

Keterbatasan akses dalam memperoleh ilmu pengetahuan cukup mempengaruhi setiap individu untuk menentukan ideologi apa yang mereka yakini. Dulu, pengetahuan bersifat feodal, turun-temurun dari guru ke murid, kemudian menyebar ke kalangan orang-orang biasa yang menerima informasi tersebut sebagai doktrin tanpa adanya upaya pengujian yang lebih lanjut. Nah, orang-orang biasa ini yang disebut sebagai orang yang tidak punya akses dalam memperoleh pengetahuan. Karena dulu, pengetahuan hanya dimiliki dan dapat diakses oleh mereka yang berada di kelas atas. Seperti golongan Bangsawan, Kstaria, Pendeta (Kelas Pedagang awalnya masih belum termasuk, hingga terjadinya Revolusi Borjuis).

Oleh karena itu, di zaman seperti sekarang ini, semestinya sudah tidak ada penerimaan informasi buruk secara doktrinal, seperti halnya menerima persepsi buruk publik terhadap perempuan. Sebagai makhluk yang dikenal sebagai Homo Sapiens, kiranya diharuskan untuk menguji dalil publik dengan melalui pengetahuan yang sudah tersebar di mana-mana sekarang ini. Sehingga eksistensi perempuan tidak dipermasalahkan dalam ruang publik.

Baca Juga  Bukan Cuma Buat Perempuan! Ini Alasan Kenapa Harus Menjaga dan Merawat Diri
Mengasah Keterampilan

Sedang di atas adalah pentingnya aspek kognitif, kali ini tidak lupa adalah pentingnya mengasah keterampilan. Sebagian besar orang masih percaya bahwa ijazah tidak begitu penting dalam dunia kerja, melainkan yang penting adalah keterampilan. Ini masuk akal, karena keterampilan tidak berupa tinta bertuliskan angka yang hanya tertulis dalam selembar kertas, melainkan keterampilan itu adalah sesuatu yang praksis. Misalnya, seorang penjahit. Seorang penjahit tidak begitu memerlukan pengetahuan sejarah dunia, dia hanya butuh keterampilan menjahit saja. Seorang pemahat tidak memerlukan pengetahuan eksakta, dia hanya perlu menghidupkan imajinasinya dengan mengasah kemampuan memahatnya saja.

Kalau setiap orang fokus dan tekun mengasah keterampilan masing-masing, maka lapangan kerja bukan lagi menjadi persoalan. Apabila laki-laki mempunyai keterampilan menjahit, dia akan punya potensi dalam dunia kerja, bahkan dunia usaha. Pun apabila perempuan memiliki keterampilan bermain sepak bola, potensi untuk menjadi atlet masih terbuka. Kiranya sudah tidak ada alasan untuk mempersoalkan lapangan kerja dengan mengkaitkan persoalan gender.

Mempunyai Integritas

Ini menjadi bagian yang paling dilarang untuk dilupakan. Ketajaman pengetahuan tidak bisa dimaknai tanpa ada keteguhan yang utuh dalam diri sendiri. Keluesan dalam hal keterampilan, tidak bisa tersalurkan dengan baik bila tanpa ada konsistensi untuk terus berkarya. Ini yang biasa disebut sebagai integritas. Seseorang yang berpengetahuan, masih potensial untuk terombang-ambing oleh berbagai persepsi. Oleh karena itu, mempunyai inetegritas ini menjadi penting. Agar keutuhan dalam hal pengetahuan dan keterampilan, bisa terjaga dengan baik, dan bisa disalurkan dengan prinsip-prinsip yang baik.

Ambil contoh Marry Wollstonecraft, dalam buku “Feminist Thought”, dia dicitrakan sebagai sosok penulis dan sosok feminis yang berintegritas dalam menyuarakan pembelaan terhadap kaum perempuan. Dia tidak setuju dengan proyeksi pemikiran Roessau yang menganggap bahwa perempuan cenderung hanya memakai sisi emosional, bukan rasional.  

Baca Juga  Menunjukkan Eksistensi Tak Harus dari Kontes Kecantikan

Tiga poin primer ini adalah langkah untuk masuk ke dalam kancah ruang publik. Tetap bahwa seluruh poin di atas selalu dilandasi dengan sisi kemanusiaan yang berintegritas. Artinya, punya proyeksi kemanusiaan yang utuh dan konsisten untuk bersosial, entah itu di dalam ruang kerja, di kampus, di angkringan, dan di ruang publik lainnya. Dengan begitu, tidak hanya etika keseteraan gender yang hendak bisa dicapai, melainkan pula etika kepedulian gender.

Bagikan
Comments
  • Ghoster

    Nice

    September 28, 2021
Post a Comment