Deep Message dari Atta-Aurel untuk Netizen Indonesia
Masih teringat jelas di ingatan tentang rangkaian pernikahan sepasang insan muda yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga para penikmat televisi maupun pegiat dunia maya, tidak lain yakni Atta dan Aurel.
Atta adalah salah satu youtuber ternama di kalangan para remaja, dan mulai dikenal luas di penjuru negeri setelah didaulat menjadi the king of yotube; yang sampai saat ini sudah mencapai hampir 27juta subscriber. Keluarga Atta, Keluarga Gen Halilintar, juga sudah punya tempat di hati para remaja dan anak-anak yang menyukai segala macam video yang ada di kanal youtube Gen Halilintar.
Lain halnya dengan Aurel, ia sudah menjadi sorotan publik sejak dini sebagai anak dari pasangan artis dengan huru-hara di keluarganya. Sekarang ia terkenal sebagai selebgram dengan followers hingga 19 juta.
Berangkat dari background singkat tersebut, maka tidak heran jika pernikahan mereka menjadi sasaran empuk salah satu televisi swasta untuk dijadikan sebagai konsumsi publik yang berguna untuk memancing viewers yang dapat menaikkan rating.
Antusiasme tinggi dalam mengikuti serangkaian agenda tersebut berasal dari kalangan remaja putri hingga emak-emak. Muncullah fenomena “kondangan online”, di mana para pemirsa sudah bersiap diri selayaknya tamu undangan dan duduk manis di depan televisi untuk mengikuti khidmadnya rangkaian acara.
*
Tidak sedikit yang terbawa suasana, terharu hingga ikut sesenggukan, seperti melepas anak atau saudara sendiri menuju gerbang pernikahan. Atta-Aurel berhasil memenuhi ekspektasi yang selalu diidam-idamkan oleh remaja dan juga emak-emak, yaitu pernikahan mewah nan megah.
Keberhasilan Atta-Aurel tidak cukup sampai di situ. Mereka juga berhasil mempersatukan pemerintah dengan oposisinya, Pak Jokowi hadir bersama Pak Prabowo di hari pernikahan. Masih terekam di memori terkait beberapa tahun silam Indonesia terbelah menjadi dua kubu besar dan dampaknya di akar rumput sangat terasa. Keakraban antara keduanya di pernikahan Atta-Aurel memberi andil untuk menutup ketegangan masyarakat yang sudah mulai mereda.
Namun kedatangan Presiden di kala pandemi saat ini menjadi buah bibir di kalangan para influencer negeri. Ada yang pro namun ada juga yang kontra. Salah satu pihak yang mengkritisi adalah sastrawan sekaligus penyanyi Fiersa Bersari. Cuitannya di twitter pada 4 April 2021, ia menuliskan:
“Banyak paradoks di negeri ini. Mudik dilarang, tapi destinasi wisata buka serempak. Penutupan jalan raya, tapi malah macet di sana-sini. Izin resepsi masyarakat dipersulit, tapi pernikahan seleb dihadiri langsung oleh pemimpin negara. Ah, tapi saya tahu apa. Cuma rakyat jelata”
Cuitan tersebut secara transparan menggambarkan kebingungan masyarakat terkait aturan yang sedang berlaku di masa pandemi saat ini. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pun berekasi mendukung cuitan Fiersa dengan memberikan emoticon di kolom reply.
*
Selain pihak kontra ada juga pihak yang pro, dr. Tirta dan Ernest Prakarsa, terkait kehadiran presiden dengan berdalih bahwa pernikahan Atta-Aurel sudah sesuai protokol kesehatan dan memang Atta-Aurel millenials berpengaruh di Indonesia jadi wajar saja jika beberapa pejabat negeri hadir di dalamnya.
Akan tetapi, mereka mempertanyakan sisi lain dari sekedar kehadiran Presiden. Pasalnya agenda kehadiran beliau dipublikasikan di akun media sosial Kementrian Sekretaris Negara. Tak lama setelah posting-an mencuat pada 4 April 2021, sang sutradara yang dulunya adalah seorang komika ernest prakarsa berkomentar:
“Apa urusanya sama NEGARA, woy?”
Sejalan dengan Ernest, dr. Tirta juga menyampaikan bahwa suatu keanehan apabila kehadiran politisi tersebut sampai dipublikasikan dengan akun media sosial Sekretariat Negara hingga di kanal youtube official mereka. Seakan-akan kegiatan tersebut menjadi agenda Negara, padahal ada agenda yang lebih penting untuk diurusi oleh Pemerintah ketimbang pernikahan sepasang insan.
Namun di balik semua pro-kontra, ada pesan besar tersirat yang ingin Atta-Aurel sampaikan untuk netizen Indonesia khususnya para remaja.
Umumkan Pernikahan, Jauhi Nikah Siri
Dilansir dari voaindonesia.com, KPAI pada tahun 2019 menerima laporan sebanyak 198 kasus perdagangan dan eksploitasi yang melibatkan anak sebagai korban, di dalamnya termasuk kasus nikah siri. Namun, laporan dari KPAI tidak sebanyak fakta di lapangan.
Nikah siri bisa terjadi pada sesama anak-anak atau orang dewasa dan anak. Karena sering terjadi secara senyap dan tidak tercatat oleh negara, korban nikah siri rentan terhadap kekerasan dan tidak mendapat perlindungan (Kunthi Tridewiyanti, Akademisi sekaligus mantan Komisioner Komnas Perempuan).
Ia menambahkan, dampak dari nikah siri paling parah bisa terjadi kekerasan dalam rumah tangga baik itu fisik, psikis, seksual, dan ekonomi. Bahkan bisa rentan terjadi perdagangan orang terkait eksploitasi seksual.
Beberapa faktor yang mendorong untuk melakkukan pernikahan siri menurut Rochayati (2014) adalah lemahnya ekonomi, faktor usia yang belum cukup untuk melangsungkan pernikahan, rendahnya tingkat pendidikan, dorongan dari keluarga dan masyarakat, serta keinginan poligami. Dalam kaitan ini, Nabi SAW bersabda, yang artinya:
“Umumkanlah pernikahan dan pukullah rebana” [H.R. Ibnu Majah dari ‘Aisyah]
“Adakanlah walimah (perhelatan) meskipun hanya dengan memotong seekor kambing” [H.R. Al-Bukhori dari “Abdurrahman bin ‘Auf]
Terlihat jelas bahwa mengumumkan suatu pernikahan adalah suatu yang fundamental karena mengandung kemashlahatan. Islam secara tegas memberikan perintah dan didukung dengan adanya aturan jelas melalui perundangan Negara, sehingga tidak ada lagi alasan untuk tidak mengumumkan sebuah pernikahan.
Asimilasi Perkawinan
Atta-Aurel lahir dari dua suku yang berbeda, sehingga pasti dalam adaptasinya saat pra-pernikahan hingga dalam pernikahan kelak harus saling berkompromi dengan adanya dua kultur yang saling mereka bawa. Atta berdarah Minang, sedangkan Aurel asli suku Jawa.
Seorang sosiolog Vander Zanden mengatakan bahwa, asimilasi adalah bagian dari proses antar kelompok yang melakukan interaksi sosial; di antaranya berpikir, saling menghargai, dan melakukan sesuatu yang memungkinkan mereka untuk berbaur dan membentuk sebuah identitas baru.
Hidup di negara majemuk yang terdiri dari berbagai budaya dan suku yang beraneka ragam seperti Indonesia, untuk melakukan proses asimilasi bukanlah sesuatu yang sulit. Namun, terkadang kebiasaan masyarakat yang enggan keluar dari zona nyaman menghalangi proses akulturasi antar budaya.
Tidak menutup fakta, bahwa asimilasi perkawinan antar etnik sangat sulit diterima masyarakat tradisional. Bahkan, lebih ekstrem, perkawinan yang seperti itu mendapat stereotipe sebagai kegagalan dalam meneruskan generasi. Allah Swt berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 13, yang artinya:
“Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal (li-ta’arofu). Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Menurut tafsir Al-Misbah, ayat ini menyampaikan bahwa dengan perkenalan-lah manusia dapat saling bantu membantu dan saling melengkapi. Allah tidak menyukai orang-orang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kepangkatan, atau kekayaan, karena yang paling mulia di sisi Allah Swt hanyalah orang yang palling bertakwa.
Tidak main-main, ayat tersebut dijadikan Muhammadiyah sebagai salah satu pedoman perekat pemersatu bangsa. Alangkah damainya negeri ini jika terus membuka ruang-ruang diskusi dan berakulturasi antar budaya.
Maka, sebagai penutup penulis ingin menyampaikan, perluaslah pergaulan, bukalah pemikiran, karena kehidupan tidak hanya di situ-situ saja. Sekali lagi, selamat mengarungi bahtera rumah tangga untuk Atta-Aurel.

Kaskadia Ahli Aulia
MaasyaaAllah barakallah ustadzah Ihmahku ❤