f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
hujan dan

Memaknai Kebahagiaan Sejati

Sahabati yang dirahmati oleh Allah Swt, setiap manusia yang dilahirkan ke bumi pasti mendambakan suatu kebahagiaan. Sering kali telinga ini tidak asing mendengar kata “bahagia” di dalam doa-doa yang kita sematkan. Apa yang terlintas dalam pikiran anda jika mendengar kata bahagia? Apakah kita mendapatkannya saat memiliki rumah mewah? Mungkinkah bahagia juga datang saat memiliki kekayaan dan kendaraan yang melimpah?

Apakah bahagia saat memiliki pasangan yang mempunyai paras menawan ataukah bahagia saat memiliki kecantikan fisik yang dapat dibanggakan? Dan apakah bahagia saat hanya mengejar keduniawian saja seperti kedudukan dan kekuasaan?

Bisa jadi bagi sebagian orang memilih kebahagiaan sejati itu karena mereka memiliki kebahagiaan yang bersifat material seperti kekayaan yang melimpah, kebutuhan ekonomi tercukupi, memiliki pasangan impian, mempunyai keluarga yang harmonis, memiliki kedudukan dan kekuasaan dan lain sebagainya yang dapat memenuhi hasrat mereka dalam hidup  dan bisa jadi juga, sebagian yang lain menganggap persyaratan tadi tidak bisa memenuhi kebahagiaan sejati lantas apakah sebenarnya kebahagiaan sejati itu?

***

 Kisah seorang yang bernama Ahmad ibn Hambal. Ia hidup sangat bahagia. Padahal, kain putihnya yang dipakai penuh dengan tambalan dan ia pun sendiri yang sering menjahitnya. Di dalam rumahnya, ia hanya mempunyai kamar berjumlah tiga yang terbuat dari tanah. Makanan sehari-hari hanya sepotong roti yang dilumuri minyak zaitun. Sepatunya  sudah berumur tujuh belas tahun yang selalu ditambal dan dijahitnya sendiri.

Hanya sekali setiap bulan ia makan daging. Dia sendiri lebih banyak berpuasa. Dia tidak memedulikan masalah keduniaan dan hanya sibuk mencari Hadist. Karena itulah dia mendapat ketenangan dan hidup tanpa beban. Dia memiliki pijakan yang kokoh yaitu sebuah iman. Dia mengetahui kemana arah tujuan hidupnya dan apa makna dunia beserta isinya. Kisah khalifah  Al-Makmum, Al-Watsiq, dan Al-Muttawaqil  memiliki banyak istana, emas, perak, prajurit, lencana dan banyak penghargaan. Apa saja yang mereka inginkan selalu tersedia. Tetapi hidup mereka sangat tertekan. Mereka dihantui rasa kecemasan, kekhawatiran karena perang, pemberontakan, dan kekacauan politik yang membuat pikiran mereka menjadi kalut.

Baca Juga  Harta, Ujian, atau Kemuliaan? Inilah Cara Pandang Para Ulama

Syaikhul ibnu Taimiyyah hidup seorang diri. Tidak punya keluarga, tidak punya rumah, tidak punya kekayaan dan pangkat. Dia hanya mempunyai satu kamar yang menempel di samping  masjid Jami’ Bani Umaiyyah. Hanya sepotong roti yang mengisi perutnya sehari-hari. Hanya ada dua potong baju yang dipakainya secara bergantian. Kadang kala ia tidur di dalam masjid. Namun seperti yang dikatakannya surga tetap di dalam dadanya. Kematiannya adalah syahid. Penjara adalah tempat merenung. Pengusiran diri adalah perjalanan wisata. Semua itu bisa terjadi karena di dalam hatinya memiliki pohon keimanan yang tegak lurus di atas akar yang memberinya makanan setiap saat sesuai izin Rabb-nya.

***

Sahabati yang dirahmati oleh Allah, dari cuplikan kisah singkat di atas; kebahagiaan sejati adalah kekayaan batiniah di dalam diri dan keringanan hati karena kebenaran yang dihayatinya dan juga ketenangan hidup karena kebaikan di sekelilingnya. Ia mampu melapangkan, mengikhlaskan dan menerima setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Kekayaan batiniah ini adalah bersumber dari manisnya mereguk iman dan tidak mengejar dunia terlalu berlebihan.

Sifat yang selalu bersyukur dan qonaah ( merasa cukup ) akan memupuk rasa ketenangan dan menjauhkan dari sifat ketamakan akan mengejar sesuatu. Di dalam pelajaran ekonomi sewaktu SMA dijelaskan masalah atau kelangkaan ekonomi karena keinginan manusia yang tidak terbatas; sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia bersifat terbatas sehingga kelangkaan ekonomi pun bisa terjadi.

Intinya manusia tidak pernah merasa puas terhadap apa yang dimilikinya. Seperti contoh kebutuhan kita membeli sepasang sepatu tetapi keinginan kita  membeli 5 pasang sepatu akibatnya, kita hidup bukan sesuai kebutuhan melainkan keinginan. Karena sejatinya dalam hidup ini, apa yang kita miliki hanyalah bersifat lahiriah. Mereka hanya bersifat temporer atau tidak lama. Seperti rumah mewah dan mobil. Tembok rumah akan mengelupas, catnya yang memudar, kekuatan beton akan menurun dan usianya akan semakin menua sehingga butuh perawatan.

Begitu juga mobil lama kelamaan akan menurun daya gedornya karena semakin hari semakin tersusut nilainya. Bila seseorang bangga karena kecantikan fisik atau memiliki pasangan yang mempunyai paras menawan, lama kelamaan umur akan mendekati penuaan. Seperti saat usia 50 tahun, kulit akan mengeriput, rambut memutih dan tanda-tanda kelemahan lainnya.

Baca Juga  Mensyukuri Pakaian Seadanya itu Perlu
***

Berbeda saat memiliki kekayaan batiniah dan keringanan hati setiap saat. Kekuatannya akan semakin bertambah. Ujian hidup dan pengalaman hidup yang didapatkan akan membuatnya semakin matang dalam memaknai kehidupan dan mengetahui kemana arah tujuan hidupnya. Ia mampu memaknai bahwa kualitas manusia itu bukan terletak dari benda atau segala hal yang bersifat lahiriah saja tetapi terletak dari keimanan dan bagaimana ia menginterpretasikan semua itu dalam kehidupannya.

Adapun di dalam Al-Quran menjelaskan bahwa kebahagiaan karena keutamaan dan rahmat Allah adalah kebahagiaan yang terpuji. Allah Swt berfirman :

” Dengan keutamaan Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Keutamaan Allah dan rahmat-Nya adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Qs. Yunus [10] :58)

Lalu apakah keutamaan dan rahmat Allah? Firman Allah menjawab:

” Hai manusia sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit ( yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. ( Qs. Yunus  [10] : 57 ).

Maka inti dari ayat di atas; bahagia adalah karena pelajaran yang datang  dari Allah kepada manusia yang memberikan hikmah serta kebaikan di dalamnya. Bahagia karena menyembuhkan penyakit-penyakit dalam dada mereka berupa kejahilan, kegelapan dan kesesatan. Kebahagiaan karena mereka mendapat petunjuk serta mengamalkan amal kebaikan sesuai ajaran Islam.

***

Untuk mengamalkan ini, mereka memiliki keringanan hati. Tidak ada rasa cemas atau takut kehilangan harta benda bahkan terhadap hidup yang mereka jalani . Apa yang terjadi nanti dan setelahnya mereka tidak khawatir dan selalu berserah diri kepada Allah Swt. Anggapan bahwa kita bisa memperluas rumah, memperbanyak barang, dan berhasil menumpuk semua perabotan dan apa saja yang kita senangi dapat membuat bahagia.

Hal tersebut membuat bahagia tetapi bahagia di sini tidak bukanlah kebahagiaan sejati karena hal tersebut bersifat sementara, tidak abadi. Hal-hal yang bersifat duniawi hanya akan memberi kebahagiaan palsu dan tidak membuat hati semakin tenang; tetapi justru membuat hati menjadi resah, suntuk karena memikirkan ‘pembayaran pajak’.  

Baca Juga  Pentingnya Melindungi Data-data Pribadi

Kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh tempat dan waktu tetapi oleh keimanan; yaitu kualitas dalam beragama yang bersumber dari ketaatan dan hati. Hati adalah tempat untuk melihat Rabb. Ketika hati sudah tertancap oleh keyakinan, maka akan mengalirkan kedamaian dan keteduhan di dalam jiwa. Dari situlah kebahagiaan akan meluap kepada yang lain.

Kita boleh mengejar dunia sebesar-besarnya tetapi ingatlah hanya sekedar dalam genggaman tangan  semata bukan dalam artian mengejarnya sepenuh hati karena bila hanya ada duniawi yang selalu  berada dalam hati dan pikiran , selama  hidup,  tidak akan pernah puas mengejarnya dan akan  selalu  merasa kurang dan kurang. Akibatnya mereka hanya sibuk mengejar dan terus mengejar dunia hingga lupa kebahagiaan sejati sesungguhnya. Sungguh sangat sulit sekali memperoleh kebahagiaan sejati karena di dalamnya ada ujian dan perjuangan yang menjadikan mereka lebih berderajat dan lebih beriman.

***

Dunia hanya sementara. Harta, kedudukan dan kekuasaan lama-kelamaan akan sirna tetapi iman dan kebaikan yang melekat dalam hati akan selalu abadi sepanjang masa. Sahabati yang dirahmati oleh Allah, meski kita belum merasakan kebahagiaan sejati, semoga kita termasuk orang-orang yang selalu bersyukur atas nikmat-Nya  dan selalu berada dalam  lindungan serta rahmat-Nya.

Kebahagiaan   menurut para sahabat adalah sesuatu yang tidak menyibukkan, kehidupan yang sederhana dan penghasilan yang pas-pasan. Sedangkan  menurut Ibnul Musayyib adalah pemahaman terhadap Rabb Nya, menurut Al-Bukhari adalah Sahihnya, menurut Al-Hasan Al-Bashriy adalah kejujurannya; menurut Asy-Syafi’i adalah hukum-hukum yang disimpulkannya; menurut Malik adalah kehati-hatiannya, menurut Ahmad bin Hambal adalah sikap wara ‘nya dan menurut Tsabit Al- Bunani adalah ibadahnya. Lalu bagaimanakah kebahagiaan sesungguhnya menurut anda? Apakah kita benar-benar sudah mendapatkannya?

Wallahu a’lam bish-shawab

Bagikan
Post a Comment