Musim Kampanye di Musim Pandemi
Komisi Pemilihan Umum menetapkan masa kampanye pilkada serentak tahun 2020 berlangsung selama 71 hari, mulai 26 September sampai 5 Desember. Masa kampanye ini akan menjadi musim semi pencitraan politik di 270 daerah yang menggelar pilkada di musim pandemi.
Masa kampanye pilkada kali ini lebih singkat daripada pilkada sebelumnya. Masa kampanye pilkada 2015 berlangsung 81 hari sedangkan pemilu 2019 berlangsung lebih panjang, mulai dari 23 September 2018 hingga 13 April 2019.
Permasalahan Klasik Pada Musim Kampanye
Sebenarnya setiap musim kampanye akan muncul sampah visual yang menggangu penglihatan. Alat peraga seperti baliho dan spanduk yang berisi wajah para bakal calon bertengger di tiang listrik, tiang telepon, dan tiang lampu di jalan raya. Alat peraga juga dipaku di pohon-pohon. Selain melukai pohon, alat peraga di pohon tidak enak dipandang. Kasihan si pohon harus dirusak karena urusan politik manusia.
Alat peraga kampanye di ruang publik sungguh tidak terkendali. Dipajang bertumpuk di lokasi strategis, seperti jalan perempatan, gapura, dan jalan kampung. Alat peraga juga acap sengaja dibuat di lahan kosong yang strategis, dengan menancapkan bambu atau kayu. Tidak sedikit yang dipasang melintang di separuh jalan. Terkadang, ada baliho yang dipajang asal-asalan.
Ukuran alat peraga yang dipakai beragam. Dari kecil, besar hingga jumbo. Padahal, alat peraga kampanye semestinya dipasang dengan memperhatikan keindahan dan kebersihan kota sesuai peraturan yang berlaku.
Baliho, poster, spanduk adalah alat peraga kampanye. Umumnya, jargon dalam alat peraga dibuat dengan kata-kata yang manis. Petahana mengusung janji melanjutkan program. Sementara, para penantang menawarkan perubahan. Misalnya, “Bersatu untuk Maju”, atau “Solid Bergerak”.
Saya juga menemukan sebuah baliho dengan huruf besar-besar: “Bung Ali Siap Melayani”. Bung Ali tentu nama samaran. Slogan yang ia buat itu bukan cuma pamer kata. Dia ingin melayani! Tapi tunggu dulu. Siap Melayani? Melayani siapa? Seharusnya ditulis kepada siapa ia melayani. Apakah melayani para taipan yang sudah menyokong ongkos kampanyenya? Slogan semacam itu bertebaran dan bisa menyesatkan.
Petahana Diuntungkan
Dalam situasi pandemi, petahana diuntungkan. Nama petahana menjadi sohor dan populer karena pemilih selalu melihat mereka melakukan kegiatan darurat, seperti pemberian dana bansos dan bantuan stimulus lainnya. Petahana akan memanfaatkan momen itu untuk popularitas. Ia akan tampil terdepan dalam kegiatan penyaluran bansos kepada masyarkat, meski hal itu bisa diwakilkan oleh pejabat lain.
Petahana juga lebih mungkin memanfaatkan kegiatan penanganan pandemi dari anggaran negara untuk menaikkan citra dirinya sebagai calon kandidat. Sementara, penantang harus kerja lebih keras dalam musim kampanye.
Kampanye adalah aktivitas paling penting dalam pilkada. Karena bisa dijadikan kesempatan oleh bakal calon untuk mengenalkan diri, dan menyampaikan program. Juga menjadi momentum untuk uji publik kapasitas bagi para calon kepala daerah. Yang mengerikan, kita hanya bisa tahu misi visi para kandidat dari baliho, umbul-umbul, dan spanduk yang bertebaran di pinggir jalan. Yang kerap bikin mumet mata itu!
Pencurian Start Kampanye Para Calon Kepala Daerah
Yang perlu diperhatikan, masa kampanye baru dimulai pada 26 September. Dengan begitu, baliho, poster, dan spanduk yang menyesaki ruang publik sebelum tanggal itu disebut mendahului ketetapan. Alias mencuri start.
Baliho dan poster kampanye para bakal calon semestinya dibersihkan dari ruang publik sebelum tanggal penetapan paslon, 23 September. Ruang publik seharusnya menjadi area bersama, bukan milik para kandidat.
Ruang publik berkali-kali dirampas keindahannya. Pertama, ruang publik kerap disesaki dengan spanduk dan umbul-umbul partai bila sedang merayakan hari lahirnya atau saat mengadakan rapat pertemuan atau kongres. Seluruh jalan kota pasti penuh dengan umbul-umbul parpol. Kedua, ruang publik juga senantiasa dicemari saat musim kampanye pilkada, pemilu, dan pilpres tiba. Para peserta pemilu jangan terus menerus merampas ruang publik untuk dijadikan ruang privat.
Tentu saja kegiatan kampanye pada pilkada kali ini wajib memperhatikan situasi pandemi yang belum usai. Virus korona tidak kenal batas wilayah. Tidak ada pilihan lain selain menaati protokol kesehatan dalam pelaksanaan kampanye. Kita tidak boleh anggap sepele karena taruhannya nyawa manusia. Jangan sampai pilkada jadi kluster baru penularan virus.
Sementara bagi para peserta kampanye, seperti paslon dan tim suksesnya, harus disiplin dengan melaksanakan protokol kesehatan dengan kesadaran.
Kampanye Berbasis Daring : Mengurangi Sampah dan Hemat Anggaran
Kampanye saat pandemi sebaiknya mengoptimalkan media digital, media daring, dan media sosial. Pada pilkada sebelumnya, kampanye melalui media daring dianggap sebagai metode pelengkap, tetapi pada musim pandemi semestinya dijadikan sebagai media utama. Selain mengurangi terjadinya kerumunan, metode kampanye multimedia bisa menekan tidak membludaknya baliho, poster, spanduk kampanye para calon di ruang publik.
Kampanye kali ini meniadakan pertemuan besar, konser musik, jalan santai, dan sejenisnya. Karena bisa membentuk kerumunan dan menciptakan kluster baru. Kandidat bisa memanfaatkan multimedia untuk berkampanye. Penggunaan medsos akan lebih marak lantaran penggunaanya meningkat seiring adanya pembatasan sosial. Kandidat bisa menyampaikan janji programnya kepada umum melalui iklan di media massa cetak, radio, dan televisi
Memang tidak semua di 270 daerah pemilihan memiliki akses internet. Kendala itu bisa diselesaikan dengan melakukan pertemuan terbuka yang terbatas dengan menaati protokol kesehatan, sebagaimana tercantum dalam PKPU Nomor 6 Tahun 2020 yang ditetapkan 6 Juli lalu.
Kita bisa belajar dari Korea Selatan dan Singapura yang relatif sukses melaksanakan pemilu saat pandemi. Dua negara maju itu mengoptimalkan kampanye berbasis daring. Kampanye akbar di ditiadakan. Peserta pemilu didorong untuk mengadakan live streaming. Cara itu berhasil menekan tidak banyak kerumunan warga, yang bisa memicu penularan virus. Juga berhasil menciptakan situasi ruang publik yang rapi dari alat peraga kampanye.
Teruntuk warga yang daerahnya menggelar pemilu pada tahun ini, saya cuma mau berpesan agar mereka sabar sampai masa kampanye selesai. Spanduk dan baliho para kandidat yang wara-wari di jalan itu diambil saja buat bikin kanopi warung. (Editor : Jajang)

Sarjana dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2016), jurnalis anak di Grid Network (saat ini), dan alumni Pengajar Muda XIV Yayasan Indonesia Mengajar.
