f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
masa muda

Masa Muda yang Membawa Perubahan

Masa muda, adalah masa yang didambakan semua kalangan, bisa dibilang adalah masa kejayaan dari seseorang. Masa muda juga sering disebut sebagai tombak dari peradaban, yang artinya, pusat arah dari peradaban itu ada di tangan para pemuda.

Pemuda juga bisa dikatakan sebagai jembatan menuju peradaban yang diinginkan, yaitu peradaban yang nyaman, adil, dan juga tentram. Yup semua itu terletak pada pundak-pundak para pemuda di masa tersebut.

Tentunya para pemuda tidak bisa menjadi jembatan untuk mencapai tujuan suatu peradaban tanpa seorang role model, atau tanpa seorang tokoh yang mencerminkan sikap teladan.

Di sini kita akan membahas beberapa tokoh muda yang memiliki kontribusi besar untuk perkembangan Islam.

Muhammad Al Fatih

Nama asli Muhammad Al Fatih adalah Muhammad II, ia lahir pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine. Kota itu sebagai ibukota Daulah Utsmaniyah pada masa itu. Ia merupakan anak dari salah Sultan Murad II dan Hüma Hatun.

Pada usia belia, Muhammad II sudah disadarkan tentang tanggung jawabnya di masa depan. Maka dari itu sang ayah sudah menyiapkan “Bekal” untuk Muhammad di masa depan.

Di usianya yang masih seumur jagung, Muhammad II sudah berhasil menyelesaikan hafalannya 30 juz. Tak ketinggalan juga mempelajari hadist-hadist dan juga ilmu fikih, falak, matematika dan juga strategi perang.

Selain itu, Muhammad II juga mempelajari banyak bahasa di antaranya adalah Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani.

Ketika menginjak usia belia, dia mendapat amanah dari sang ayah untuk memimpin Amasyah, seperti tradisi Utsmani. Untuk para pangeran yang sudah cukup umur untuk memerintah suatu daerah, maka ia mendapat bekal untuk masa mendatang ketika menggantikan ayahnya.

Baca Juga  Memahami Makna Masa Muda; Remaja

Tentunya Muhammad II tidak sendirian, dia juga didampingi oleh para ulama utusan ayahnya.

Menaklukan Konstatinopel

Lagi-lagi pada usianya yang belia, ia mampu menaklukan konstantinopel dengan bantuan 4 juta tentara untuk mengepung wilayah barat dari laut selama 50 hari.

Pasukan Muhammad Al Fatih berhasil menyebrangkan sebanyak 70 kapal melalui darat, yaitu melewati hutan.  Usaha Muhammad II dan para pasukan tidak sia-sia, selama satu malam mereka menebangi pohon-pohon besar yang menghalangi jalan mereka.

Dan cara ini lah salah satu penunjang para pasukan Muhammad II bisa menaklukan konstatinopel. Dan sejak itu lah gelar Sultan Muhammad Al Fatih disematkan yang memiliki arti sang penakluk.

Usamah bin Zaid

Usamah bin Zaid lahir di Mekkah, ayahnya bernama  Zaid bin Harist dan ibunya bernama Ummu Ayman yang merupakan pelayan dari ayah Nabi Muhammad, yaitu Abdullah bin Abdul Muthalib.

Sejak kecil Usamah sudah memeluk agama Islam karena besar di lingkungan rumah tangga Nabi Muhammad. Nabi pun sangat menyayangi Usamah seperti menyayangi cucunya sendiri.

Ketika menginjak usia 18 tahun, Usamah ditunjuk menjadi panglima perang yang memimpin umat islam dalam perang melawan Romawi. Namun dengan keputusan tersebut banyak sahabat yang tidak setuju dan juga keberatan karena usia Usamah yang masih sangat muda. Selain itu, menjadi seorang pemimpin perang adalah tugas yang cukup berat untuk pemuda usia 18 tahun ini.

Mendengar itu Nabi Muhammad berkata “Jika kalian meremehkan kepemimpinan Usamah bin Zaid, berarti kalian juga meremehkan kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Demi Allah, jiwa kepemimpinan telah terpatri dalam diri Usamah. Dia orang yang paling aku cintai. Usamah diciptakan untuk menjadi pemimpin.”

Keberangkatan Usamah Perang

Pada saat itu ketika hendak berangkat perang, Usamah menemui Nabi Muhammad yang sedang tergeletak lemah karena sakit. Pasukan pun tetap berang menuju medan perang, namun belum jauh dari dari madinah, kabar kepergian Nabi pun terdengar hingga telinga Usamah, seketika itu Usamah langsung putar balik menuju rumah Nabi Muhammad.

Baca Juga  Rohana Kudus Sang Pelopor Renaisans Kaum Perempuan di Minangkabau (Part 2)

Pada waktu yang bersamaan, di tunjuk lah Abu Bakar Ash Shiddiq sebagai khalifah menggantikan Nabi Muhammad. Abu Bakar pun menyampai kan kepada Usamah untuk lanjut berperang seperti perintah Nabi Muhammad.

Lalu bergegaslah pasukan USamah meninggalkan Madinah san menuju perbatasan Syam. Dengan cepat para pasukan Usamah mengalahkan para pasukan Romawi Timur.

Sifat yang Perlu di Teladani

  1. Sadar Betapa Berharganya Masa Muda

Yang dimaksud menyadari adalah memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya, kita sadar masa muda tidak akan datang dua kali dalam hidup seseorang. Dan kita gunakan masa muda untuk menggali potensi dalam diri sebanyak-banyaknya.

  1. Belajar dan Terus Belajar

Belajar tak melulu tentang duduk dan membaca, yang dimaksud belajar adalah mengambil kesimpulan dari sebuah pengalaman dan menjadikan itu sebagai media pembelajaran, ada pepatah mengatakan “Pengalaman adalah guru terbaik”. Bagaimana kita bisa memiliki pelajaran jika kita tak memiliki pengalaman? Semangat gali terus potensi mu!.

  1. Amanah

Seperti kisah di atas, dari Muhammad Al Fatih maupun Usamah, mereka sama sekali tidak menentang apapun yang diamanahkan kepada mereka, dan bisa dikatakan itu adalah amanah yang besar dan memiliki resiko juga yang besar. Mereka bukan mengeluh dan mengaduh, tapi menjalani dengan sungguh-sungguh.

  1. Berusaha Keras

Tentunya tanpa kerja keras Muhammad Al Fatih tidak akan menaklukan konstantinopel, dan juga tanpa kerja keras, Usamah tidak akan memenangkan perang dengan Romawi Timur.

Semua butuh kerja keras, tanpa kerja hanya menjadikan sifat kita keras namun malas, tanpa keras, kita hanya bisa bekerja tanpa puas.

  1. Bersyukur bukan Insecure

Tidak bisa dibayangkan jika Muhammad Al Fatih insecure, yang ada bukan konstantinopel yang ditaklukan, namun raganya sendiri yang akan ditaklukan oleh diri sendiri.

Baca Juga  Perempuan dalam Wacana Filsafat, Simone de Beauvoir (1)

Dan juga tidak bisa dibayangkan jika Usamah Insecure dengan kemampuan memimpinnya, mungkin jika Usamah insecure dan tenggelam dalam kesedihan wafat Nabi Muhammad, tidak akan menjadi sejarah yang indah jika Romawi Timur berhasil menguasai daerah Syam.

Masa Muda Jadi Bermanfaat

Dari sini kita bisa menarik kesimpulan, jika masa muda adalah masa yang sangat cocok untuk embangun pondasi kepercayaan diri dan juga memabangun relasi. Tak perlu menaklukan konstatinopel untuk dianggap menjadi pemuda yang berhasil, dan tak perlu memenangkan perang untuk dianggap berani dan tangguh.

Cukup menjadi seorang pemuda yang bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan juga sekitar, semua butuh proses. Yuk jadi pemuda yang selalu percaya dengan kemampuan diri dan juga bersyukur, ingat bersyukur bukan insecure.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment