f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Herd Immunity

Berpuasa Tak Sebabkan Kantuk, Berikut Penjelasan Medisnya

Oleh : dr. Hilmy Dzakiyyah W.*

Rahmania, tak terasa ya kita semua sudah ada di akhir sepuluh hari kedua di bulan Ramadan. Tentu kebiasaan baik dan ibadah  yang kita laksanakan di bulan Ramadan konsisten bahkan terus meningkat setiap harinya. Selain kebiasaan baik yang dilaksanakan konsisten, beberapa orang juga masih konsisten melakukan ‘ibadah’ favoritnya yaitu memperbanyak tidur di bulan Ramadan.

Beberapa artikel yang penulis baca seperti artikel Tidurnya Orang Berpuasa itu Ibadah atau Dosa?  menjelaskan bahwa hadits yang redaksinya  “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.” adalah hadits dhoif (lemah) dilihat dari perawinya. Maka penulis mencoba menjelaskan dari sisi kesehatannya.

Puasa Mempengaruhi Pola Istirahat

Rahmania, puasa Ramadan merupakan ibadah istimewa bagi setiap muslim, karena puasa selama satu bulan ini pasti akan mengubah kebiasaan sehari-hari kita. Puasa Ramadan ini berupa tidak makan dan minum sejak waktu Shubuh hingga Maghrib, yang mana di Indonesia berlangsung kurang lebih selama 13 jam. Hal tersebut membuat kita melewatkan kebiasaan makan siang.

Dari jurnal American Journal of Clinical Nutrition oleh Leesan dkk., jarak antara makan yang lama mempengaruhi nafsu makan, respon hormon (zat kimia dalam tubuh) terhadap makanan dan metabolisme energi. Selain itu, penelitian ini menemukan puasa mempengaruhi kuantitas aktivitas saat siang hari, sehingga terjadi perubahan pola tidur atau istirahat, yang mana lebih cenderung untuk tidur larut malam untuk ibadah, lalu bangun dini hari, dan tidur setelah sahur.

Menurut penelitian tersebut, puasa memang dapat mempengaruhi metabolisme energi tubuh yang mana membuat tubuh menjadi lebih mudah lelah atau ingin istirahat, namun hal tersebut hanya terjadi di awal minggu saja, karena tubuh akan beradaptasi terhadap pola makan saat puasa, sehingga energi yang dibutuhkan untuk beraktivitas tetap stabil.

Baca Juga  Wangsit dan Hidayah

Penelitian lain oleh Bahammam dkk juga membuktikan bahwa memang puasa bulan Ramadan mempengaruhi pola tidur, tapi tidak ada bukti kuat terjadi peningkatan rasa kantuk saat berpuasa. Jadi, puasa bukanlah penghambat untuk beraktivitas, dan menjadi alasan untuk beristirahat lebih lama. 

Termasuk juga kebiasaan saat bulan puasa adalah tidur setelah makan sahur. Hal tersebut kurang baik bagi tubuh kita. Berdasarkan artikel oleh dr. Scott Gabbard, dokter ahli sistem pencernaan, bahwa pada sistem pencernaan manusia ada yang disebut esofagus (kerongkongan) dan lambung. Di antara kedua organ tersebut terdapat katup yang dapat membuka dan menutup saat kita makan.

Pada kondisi setelah makan, katup ini menutup. Namun dapat terbuka saat kondisi lambung penuh dan posisi tubuh berbaring atau tidur. Hal ini menyebabkan asam lambung akan berbalik naik ke kerongkongan (reflux) melalui katup tersebut dan dapat mengiritasi kerongkongan, sehingga terasa sensasi terbakar di dada atau kerongkongan. Keluhan lain yang dirasakan yaitu  tidak nyaman atau nyeri pada perut dan mual. Dalam jangka panjang, jika asam lambung terus menerus reflux akan menyebabkan penyakit yang disebut GERD (Gastro-Esophageal Reflux Disease), dan juga dapat mengganggu kualitas tidur. Untuk itu Rahmania,  setelah makan besar (seperti setelah sahur) alangkah baiknya tidak langsung tidur. 

*) dr. Hilmy Dzakiyyah W.; ibu satu anak dan salah satu founder Al-Zahrawi FK Universitas Muhammadiyah Malang

Bagikan
Post a Comment