Ramadan, Ekspresi Cinta, dan Mencintai
Apa itu cinta? Barangkali setiap orang memiliki cara tersendiri dalam mengartikannya bahkan memiliki cara tersendiri pula dalam mengungkapkannya. Cinta, satu kata penuh makna. Begitulah generasi sekarang menyebutnya. Sampai-sampai tidak dapat mengungkapkan dengan kata. Mungkin saja itu salah seni memaknai cinta.
Belum lagi istilah-istilah yang melekat pada remaja misalnya soal Love Language atau bahasa cinta. Sebenarnya istilah itu telah muncul sejak tahun 1992 melalui buku berjudul “The Five Love Language: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate”. Menyebutkan ada lima bahasa tubuh yang sampai saat ini digandrungi istilah-istilah itu oleh para remaja dan pemuda, di antaranya adalah:
1. Acts of Service (Pelayanan, tindakan)
2. Words of Affirmation (kata-kata cinta dan sayang)
3. Quality Time (Menghabiskan waktu bersama)
4. Physical Touch (Sentuhan tubuh)
5. Receiving Gift (Pemberian Hadiah)
Sedangkan Erich Formm dalam bukunya berjudul “The Art of Love” mengatakan bahwa cinta adalah sebuah seni yang harus dipelajari dan dipahami, bukan hanya sekadar datang secara alamiah. Sebagaimana sebuah seni diawali dari teori ke praktik, maka pun dengan cinta, seseorang harus mempelajarinya dulu sebelum mempraktikkannya.
Dalam Islam sendiri kedudukan cinta paling tertinggi tentu dimiliki dan diberikan oleh Allah Swt. Sang Maha Cinta, yang tak terbatas. Istilah cinta dalam Islam disebut dengan mahabbah. Dalam Al-Qur’an juga banyak ayat-ayat yang menyampaikan pesan soal cinta dan tidak terbantahkan bahwa pemilik dan pemberi cinta tertinggi adalah Allah Swt.
Romantisme Cinta Tuhan dalam Ramadan
Hadirnya Ramadan dilihat dari sisi manapun merupakan ekspresi cinta dari Allah Swt. kepada hamba-hambanya. Bulan di mana umat muslim wajib berpuasa selama satu bulan penuh.
Jika kita mengingat kembali pelajaran agama yang diajarkan waktu Sekolah Dasar atau mungkin juga diajarkan sewaktu di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), guru menyampaikan bahwa salah satu hikmah puasa adalah kita dapat merasakan rasanya kelaparan yang dirasakan orang-orang yang belum mampu memenuhi kebutuhan hidupnya meski hanya untuk sesuap nasi.
Humanis, simpati dan empati. Pelajaran yang bisa diambil dari berpuasa itu sendiri. Selain dari sisi sosial tentu puasa adalah bentuk cinta Allah Swt. kepada setiap individu hambanya agar menjadi lebih dekat dengan Tuhannya dan menjadi lebih bertaqwa. Seperti halnya perintah puasa yang amat sangat tidak asing didengar yakni QS. Al-Baqarah: 183
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibakan bagi orang-orang sebelummu agar kamu bertaqwa.”
Jelas Allah mewajibkan puasa bagi hambanya yang beriman tak lain dan tak bukan adalah agar hambanya menjadi orang yang bertaqwa, semakin dekat dengan Allah dan tentu semakin dekat dengan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Kalimat “agar kamu bertaqwa” adalah bukti Allah Sang Maha Cinta menginginkan kebaikan kepada hamba-hambanya yang dicintai. Sehingga barang siapa ingin meraih cintanya Allah wajib baginya mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Romantisme cinta yang ditunjukkan kepada hamba-Nya dalam bulan Ramadan ini sangat tidak terhitung jumlahnya dan besarannya amat sangat tidak masuk akal jika itu bagi manusia. Allah memberikan banyak hal kebaikan dalam Ramadan, bahkan apa-apa yang dilakukan dalam bulan Ramadan menjadi sangat mulia dan berkali lipat ganjarannya.
Ampunan di bulan Ramadan diluas bentangkan, Bacaan Al-Quran dalam bulan Ramadan dilipatgandakan, sedekah dalam bulan Ramadan sangat diutamakan, berdoa dalam bulan Ramadan pasti dikabulkan.
Hikmah-hikmah lain adalah manusia dapat melatih dirinya menahan hawa nafsu, melatih menumbuhkan rasa cinta kepada sesama, melatih pula menahan amarah, melatih diri untuk tidak berbuat kejahatan dan maksiat.
Belum di akhir kita akan menemui yang namanya malam Lailatul Qadr yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan itu dipersiapkan Allah spesial untuk hamba-hambanya. Tinggal kita mau atau tidak menyambut kasih sayang Allah tersebut.
Dan tak lupa zakat fitrah di ujung Ramadan tentunya mengajarkan banyak hal. Dari segi spiritualitas zakat fitrah adalah untuk membersihkan kotoran-kotoran yang ada dalam jiwa dan tubuh manusia. Dan pastinya itu juga bermanfaat dari segi humanis yakni menolong orang-orang yang membutuhkan.
Begitu romantis Allah memberikan belaian kasih sayang dan cinta serta tidak mengharap balasan apapun dari yang Ia cintai. Lain halnya dengan manusia jika berbuat baik pasti inginnya dibalas kebaikan atau sekedar ucapan terima kasih. Jika cinta manusia kepada manusia tidak terbalaskan pastilah hati manusia terasa sesak. Namun jika cinta itu kita sandarkan kepada Allah sudah dipastikan bahwa itu akan menjadi cinta yang terbalaskan.
Sebelum Terasa Asing Setelah Berpisah
Rasa-rasanya tidak akan habis jika menuliskan kebaikan, kasih sayang dan bentuk cinta Allah kepada makhluknya. Padahal baru membicarakan segelintir hikmah dalam bulan ramadan, belum kepada kehidupan sehari-hari dan bulan-bulan lainnya.
Jika kita kaitkan dengan teori Fromm tentang teori seni mencintai dan bahasa tubuh yang digagasnya tentu Allah telah memberikan kesemua itu bahkan lebih dari itu sampai tidak layak untuk dikategorikan dengan apaun cinta Allah kepada makhluknya.
Ekspresi cinta Allah tidak terkecuali untuk siapapun, dimana pun dan kapan pun selalu membersamai hamba-Nya. Bahkan orang-orang yang tidak beriman pun oleh Allah diberikan kasih sayangnya. Sifat Allah adalah Ar Rahman, dimana Allah Maha mengasihi semuaa makhluk, hamba-hama Nya tanpa terkecuali.
Sebelum bulan penuh cinta ini berpamitan dan beralu, penting bagi kita umat muslim senantiasa memanfaatkan waktu-waktu yang tersisa. Bermuhasabah sudahkan ketaqwaan itu tercapai dalam tubuh kita. Sudahkah nikmat iman itu betul-betul melekat dalam jiwa kita.
Tidak sedikit dari yang berpuasa hanya sekedar ritual puasa menahan dahaga dan lapar, dan tidak sedikit pula yang berpuasa lalu bersemangat menjalankan berbagai amalan ibadah namun untuk sekedar ikut-ikut tanpa menanamkan niat yang benar, misalnya tadarus hanya karena ikut-ikutan kawan-kawannya yang beramai-ramai ke sana, atau berbagi takjil supaya dilihat dermawan.
Namun tentu kesemuanya itu hanya Allah Swt. yang mampu menilai dan memberi penilaian juga ganjaran. Niat di hati manusia tidak ada yang tahu, selain dari Yang Maha Mengetahui isi hati.
Bukankah cinta itu adalah penyatuan? Memang tidak selalu tentang penyatuan fisik namun bertemunya hati dengan hati. Tidak heran jika tidak pernah dipertemukan baik hati ataupun nyata pastilah terasa asing bahkan sampai pada titik lupa.
Maksudnya adalah pada bulan yang dipenuhi romantisme Allah Swt. ini dipastikan dan suatu keniscayaan akan berlalu, karena waktu terus berjalan ke depan. Maka sebelum berakhir mari kita mengaitkan hati padanya dan mengikat kuat-kuat. Serta merawat begitu banyak cinta yang Allah berikan pada bulan Ramadan ini.
Jangan sampai setelah berpisah, hati kita mudah lepas dan kebiasaan yang dibangun selama bulan Ramadan menjadi pudar. Itu artinya kita sendiri belum mampu membuktikan cinta kita kepada bulan Ramadan apalagi kepada Allah Swt.
Ramadan mengajarkan banyak hal termasuk menumbuhkan cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama manusia dan cinta kepada hal-hal baik yang menyelimutinya. Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu meraih kategori taqwa dan mampu merawatnya sampai akhir hayat.
