f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Trauma Masa Lalu

Setiap orang memiliki trauma masa lalu, begitupun dengan kedua orang tua kita. Di zaman kita, akses mengenai ilmu parenting bertebaran di manapun. Kita bisa tahu akses dengan cepat dan mudah. Itulah sebabnya generasi kita memahami bahwa trauma-trauma yang kita lalui tidak harus dirasakan generasi berikutnya. Di zaman orang tua kita, semua akses sulit dan kalau sekarang diberi pemahaman dengan  pemahamannya yang keras pula. Sebagai anak adalah seorang pendengar, karena orang tua tidak suka digurui oleh anaknya, mereka lebih merasakan pahit manisnya kehidupan dari masa lalunya hingga sekarang.

Percayalah teman-teman kalau orang tua sudah tidak akan pernah berubah terkait pola pikirnya kecuali hatinya yang kita sentuh. Jadi, bertahan sedikit saja untuk memahami dan memaafkan orang tua kita ya? Bertahan sedikit lagi. Kalaupun memang orang tua kita salah, yakinlah bahwa mereka mencintai kita beribu kali lipat. Tidak ingin mengecewakan kita sedikitpun. Tapi, begitulah manusia punya caranya sendiri, ada saat cara penyampaiannya tak diterima oleh kita padahal itu baik baginya. Kita hanya kurang memahami bagaimana mereka memperlakukan dan menunjukkan kasih sayangnya dengan cara yang berbeda. Jadi, mari sama-sama belajar dan berjuang untuk membuat ranum senyum bahagia untuk orang tua kita di masa tuanya. Mari sama-sama belajar, karena sebagian dari kita juga sama masih sering kesal bukan main dengan orang tua. Tapi mari bergandeng tangan menguatkan dan menghabiskan waktu bersamanya.

Mereka juga pernah menimbun luka di masa silam yang kita sendiri tidak tahu begitu dalam luka yang mereka rasakan. Perlakuan mereka adalah akibat dari trauma masa lalunya. Hari ini kita masih mendengar mereka marah, mereka yang suka mengatur, terlalu banyak pertanyaan-pertanyaan dan melarang untuk melakukan hal apapun. Itu adalah bentuk kekhawatiran mereka terhadap kita. Salah satu hal yang diaminkan setiap hari adalah bisa bertemu, bercerita, dan menghabiskan waktu bersama. Dan mewujudkan harapan-harapan mereka di masa depan. Memang semesta akan mengaminkan kalau kita yakin sama apa yang kita yakini itu nyata. Belum memberikan kebahagiaan yang terlalu dalam, tapi sedang berusaha memberikan hal kecil yang tidak ada apanya, tapi bagi mereka itu sangat berharga.

Baca Juga  Berbagi Kisah Bersama Petani Salak

Berterima kasihlah pada diri sendiri sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk orang tua kita. Walau hal-hal berat yang sedang kita lalui, tidak perlu mereka juga merasakannya. Jangan menambah lagi luka di masa lalunya. Kita sebagai anak adalah obat bagi luka dan trauma mereka di masa lalunya. Walaupun kadang kita juga membuat mereka kesal dan marah setiap hari. Tapi, itu adalah kebaikan-kebaikan yang sedang mereka ajarkan kepada anak-anaknya agar tidak menjadi seperti mereka di masa lalu.

Orang tua kita punya cara tersendiri untuk menyayangi. Tidak ada ucapan manis atau pelukan tiap harinya. Dulu mungkin kita menginginkan hal tersebut dan bertanya-tanya. Ternyata cara cinta mereka pada kita berbeda. Mereka memberikan seluruh hidupnya dan memberikan semua fasilitas terbaik untuk kita semampu mereka. Kalau sekarang bahasa cinta itu disebut act of service. Dulu sering kita dengarkan mereka bercerita betapa antusias membuat rumah yang anak-anaknya inginkan. Sewaktu muda dan belum memiliki anak, mereka membuat rumah impian mereka tapi ketika ada anak-anaknya mereka rela banting tulang kembali untuk memenuhi rumah impian versi anak-anaknya.

Terima kasih sedalam-dalamnya untuk orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkan kita sepenuh hati, ternyata satu-satunya orang yang paling menginginkan kita bahagia seutuhnya adalah kalian berdua. Walau makin tua ternyata lelah mereka sudah terpotret nyata. Maka, perlahan-lahan, mungkin hal-hal kecil sampai mereka bisa tersenyum adalah sedikit cara untuk membuat mereka lebih bahagia. Kalau membalas sepertinya tidak mungkin bisa karena terlalu banyak yang mereka perjuangkan.

Maafkan kami dari anak-anak yang masih sering melawan dan mengajak perang. Atau seringnya besar suara kalau ada perbedaan pendapat. Sebenarnya kita sebagai anak juga punya trauma masa lalu. Tapi, terima kasih karena sudah tidak terpancing dengan keadaan. Semua merasakan hal yang demikian. Mungkin kita memang tidak bisa menjadi ekspektasi banyak orang. Belum bisa membuat bangga orang tua dengan pekerjaan yang dijalani. Dan belum bisa menjawab apa-apa yang orang kebanyakan selalu tanyakan.

Baca Juga  Tumbuhkan Kreativitas di Kala Pandemi

Mau menyerah? Tentu sering. Mau menyudahi? Bukan lagi. Tapi entah kenapa kita harus terus menjalani ini semua. Gapapa, kita pelan-pelan aja jalannya. Yakin Semesta bakal kasih hadiah luar biasa. Mungkin yang terakhir akan mendapatkan hadiah paling spesial. Sabar sedikit lagi. Proses yang panjang ini mungkin akan kita kenang. Proses yang mengantarkan kita pada jalan bernama pengalaman dan pendewasaan. Semua orang punya proses yang sedang dijalaninya; semua orang berproses pada jalurnya; semua orang berusaha sekuat tenaga pada jalannya. Lantas atas dasar hak apa kita menyalahkan proses orang lain. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa menghargai apapun proses dan keputusan hidup orang-orang. Cukup menyemangati dan mengasihi jadi jalan kita untuk berbaik pada orang lain. Karena yang menurutmu baik belum tentu baik juga untuk orang lain.

Bagikan
Post a Comment