Lima Tips Menghadapi Ketakutan Saat Menerima Suntikan
Membaca status kawan di FB, yang takut akan jarum suntik dari dulu, dengan gambar dirinya sedang menerima suntikan vaksin; membuat saya jadi teringat dengan pengalaman saya. Dan beberapa berita di TV bahkan media online ada juga yang menyiarkan peristiwa orang-orang yang takut disuntik, diiringi tertawaan orang-orang di sekitarnya.
Ketakutan itu ternyata tidak milik saya sendiri. Namun, ketakutan yang sudah saya alami sejak saya anak-anak.
Ketakutan saya itu sangat berlebihan, menurut saya. Mendengar kata disuntik saja, tubuh saya langsung bereaksi, gugup, jantung berdebar-debar, tangan menjadi dingin. Wajah saya mungkin menjadi pucat, yang ini tidak sempat saya periksa di cermin. Terlebih saat akan disuntik, saya akan meronta dengan hebat, tubuh saya menjadi tegang, terutama bagian tubuh yang akan disuntik, yaitu pantat.
Ketika jarum suntik masuk, kulit yang tegang serta desakan jarum suntik, terasa sangat menyiksa, rasa sakit yang luar biasa. Sampai-sampai saya merasa ada patahan jarum suntik tertinggal di pantat saya, yang pastinya tidak benar. Berhari-hari saya akan merasakan kesakitan itu.
Setelah saya membaca satu buku yang di dalamnya terdapat beberapa cerita tentang bagaimana melepas, saya menyimpulkan bahwa saya juga bisa melepas, terutama melepas rasa takut akan jarum suntik. Dan saya mencobanya dengan trik saya sendiri.
Apa yang saya lakukan?
Pertama, ucapkan “Saya siap untuk disuntik”
Saat saya hamil anak pertama, ada satu atau dua kali saya harus disuntik. Pengalaman disuntik itu menggelisahkan pikiran saya. Bagaimana nantinya saya menghadapi tindakan penyuntikan saat saya akan melahirkan, jika saya masih takut dengan jarum suntik? Terlebih saya dipastikan akan melahirkan dengan bantuan operasi. Tindakan operasi itu tentunya mensyaratkan penyuntikan yang tidak sedikit.
Bukankah rasa takut ini akan menyulitkan proses saya melahirkan? Bukankah itu akan mengganggu dan berdampak tidak baik bagi saya maupun bayi saya?
Saya tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak baik saat saya melahirkan nanti dengan memelihara rasa takut itu. Kemudian, saya harus menghadapinya. Saya katakan pada diri saya, ini untuk kebaikan dedek bayi dan juga untuk diri saya sendiri, saya harus siap untuk disuntik.
Untuk membantu perasaan siap itu, saya mensugesti diri, “ saya siap untuk disuntik”. “Tubuhku akan baik-baik saja menerima suntikan”. “Suntikan akan memberikan rasa sakit sedikit”. “Tidak apa-apa dengan rasa sakit itu”.
Kedua, rileks
Tiba hari “H” dengan perasaan siap untuk disuntik, masih ada sedikit perasaan gemetar dan jantung berdebar-debar ketika memasuki ruangan tindakan sebelum masuk ruang operasi. Terlebih saat akan dipasang jarum infus.
Saya menerima debaran jantung itu, merasakannya, menikmatinya. Saya mencoba untuk rileks. Lalu, saya menarik napas, menghembuskannya pelan-pelan. Saya lakukan beberapa kali, sambil menikmati debaran jantung saya. Saya menerima debaran jantung saya itu.
Beberapa saat kemudian, saya perhatikan, debaran jantung itu semakin mengecil meski belum hilang sama sekali. Tidak mengapa, yang penting saya rileks. Dengan rileks, saya bertambah siap untuk disuntik.
Ketiga, julurkan/berikan bagian tubuh yang akan disuntik
“Bu, kita pasang infus dulu ya”, kata perawat.
“Silahkan,” kata saya dan menjulurkan tangan saya untuk dipasang jarum infus. Saya lakukan itu dengan rileks. Dengan menjulurkan tangan saya itu, dan membiarkan perawat memasukkan jarum infus, saya melepas rasa takut. Rasa takut membuat syaraf tubuh menjadi tegang. Hal itu akan menyulitkan masuknya jarum suntik menembus kulit.
“Punggungnya mau kita suntik dengan obat bius, Bu”.
“Silahkan” jawab saya sambil memberikan punggung yang akan disuntik. Memberikan bagian tubuh yang akan disuntik, tentunya dengan perasaan rileks, membuat kulit tubuh tidak tegang dan memudahkan jarum suntik menembus kulit
Keempat, lihat jarumnya.
Ini ketakutan saya yang paling utama, melihat jarum suntik. Tapi kali ini sangat berbeda. Dengan rileks saya pandangi jarum yang menusuk kulit saya, menembusnya, dan melihat ada darah yang mengucur masuk ke dalam selang infus.
Jarum itu kini bersarang dibalik kulit. Saya melihatnya dan menyadari keberadaannya dibalik kulit. Dengan melihatnya, saya menerima jarum itu dan “berteman” dengannya. “Baik-baik kamu di situ ya, bertahanlah selama dibutuhkan di situ”.
Sampai tiba saatnya saya keluar dari rumah sakit, jarum itu tidak pernah berpindah tempat. Dan sebelum pulang, tentunya jarum itu harus dilepas. Dan saya tetap melihatnya saat dilepas, tentu dengan rasa sakit yang ditimbulkannya di kulit tangan saya.
Kelima, terima dan rasakan rasa sakit itu.
Saat jarum suntik menyentuh kulit tangan saya, saya bisa merasakan kulit yang tertusuk itu terasa sakit. Saya tarik napas, pelah-pelan melepaskannya sambil merasakan rasa sakit itu.
Rasa sakit itu ada, saya terima, saya rasakan. Tidak apa-apa rasa itu ada. Dengan menerimanya, merasa-rasakannya, rasa sakit itu mengecil dan akhirnya hilang.
Sebenarnya tidak hilang sama sekali, tetapi karena saya tidak memberi perhatian padanya, rasa sakit itu tidak lagi mengganggu. Ya, saya menerimanya, meski bukan dengan rasa suka cita. Tetapi dengan menerimanya, tidak terjadi penolakan, penolakan yang mengakibatkan rasa sakit yang hebat akibat ketegangan yang diakibatkan penolakan. Jadi, alih-alih menolak, terima saja, dan rasakan, tidak apa-apa.
Tips ini juga saya pakai saat akan menerima suntikan vaksin bulan April yang lalu. Setelah mendapat jadwal vaksin, sedikit muncul rasa gugup. Dan saya mempersiapkan diri. Saya ucapkan, saya siap untuk disuntik, sambil membayangkan pengalaman saya saat melahirkan itu.
Saat tiba di tempat vaksinasi, saya berusaha untuk rileks. Saat akan disuntik saya julurkan lengan saya, saya lihat jarumnya, saya rasakan dan terima rasa sakit yang ternyata tidak seberapa itu. Dan pastinya sukses. Begitupun saat menerima vaksin kedua, tanggal 22 Juni yang lalu.
IRT yang tinggal di kota Batam.
