f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
webinar

Ancaman Lost Generation Dampak dari Pandemi

Istilah lost generation awalnya  ditujukan untuk kelompok sosial yang mengalami kebingungan dan kehilangan arah pada awal pasca Perang Dunia I.  Sekarang, istilah ini, kerap terdengar digunakan di masa pandemi. Mengapa demikian ?

Ada beberapa alasan yang akhirnya membuat kita ikut tergiring dan berpikir bahwa, bisa saja lost generation ini akhirnya  benar-benar terjadi.

***

Pertama, kurikulum pendidikan kita belum pernah dipersiapkan untuk menghadapi pandemi sehingga terciptalah sistem pembelajaran secara daring. Aslinya,  semua serba dadakan, guru, orang tua, terutama anak didik,  dipaksakan masuk ke dalam sebuah sistem pembelajaran yang baru, siap atau tidak siap!

Dan tahukah apa yang akan terjadi jika kita memaksakan suatu program yang belum pernah dipersiapkan ? Belum pernah di uji coba? Bisa berhasil memang, tapi kemungkinan gagalnya lebih besar, pantaskah kita menggunakan uji coba untuk sebuah pendidikan?

Jawabannya tentu saja terlalu beresiko, namun apakah ada pilihan lain untuk saat ini?

****

Kedua, di level Pendidikan yang paling dasar, contohnya PAUD/ TK, ini lebih parah lagi, karena anak-anak di usia ini sangat membutuhkan yang namanya kegiatan bermain bersama, bersosialisasi dengan teman sebaya dan yang paling penting mendapat pendampingan orang dewasa yang memahami Tahapan perkembangannya.

Nah, terbayang bukan, bagaimana caranya jika tiba-tiba anak-anak ini di rumah, temannya adalah orang tua yang belum semuanya faham  tentang tahapan perkembangan karena selama ini orang tua menyerahkan semuanya ke pihak sekolah.

Belum lagi level emosi orang tua yang tiba-tiba menjadi naik drastis, emosian dan gampang terpancing marah saat menemani anak.  Yang ada boro-boro anak mendapatkan ilmu pengetahuan ataupun happy bermain; yang ada banyak anak-anak kita yang merasa sangat tertekan justru ketika orang tuanya yang menemani bermain ataupun menemani anak belajar.

Baca Juga  PJJ Lebih Butuh Perhatian Mas Menteri Dibanding POP
***

Ketiga, sistem pembelajaran daring memang saat ini menjadi pilihan utama mengatasi kondisi terutama yang berada di zona merah pandemi. Semua berlomba-lomba menggunakan gawai, bahkan mengabaikan efek jangka panjang dari bahayanya menggunakan gawai terutama untuk anak usia dini.

Dari pengalaman yang ada saat ini,  terutama setelah hampir setengah tahun lebih anak-anak kita lebih banyak berinteraksi dengan gawai; maka semakin banyak ditemukan anak-anak yang lost kontak mata saat diajak bicara, mereka ada namun abai.  Mereka benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari gawainya.

Keempat, naiknya level emosi para orang tua saat menemani anaknya ini menciptakan perilaku yang kurang tepat karena secara sengaja orang tua menjadi role model bagi mereka.  Sejak pandemi ini, bisa dilihat bagaimana banyaknya anak-anak yang berperilaku sangat jauh dari yang diharapkan. Mereka jadi emosian juga, mudah marah, terlihat tak acuh, kurang perduli dan abai terhap lingkungannya.

***

Kelima, belum lagi dari segi makanan, pemenuhan gizi.  Tidak semua keluarga memiliki keberuntungan dalam hal ekonomi,  bahkan kalau mendengar berita di televisi, semakin banyak korban PHK, pengurangan karyawan karena efek andemi yang menggelinding bak bola salju ini.  Banyak orang yang akhirnya tidak punya pemasukan dan tidak bisa membeli makanan.  Jangankan memilih makanan yang bergizi, bisa makan saja tidak semua orang beruntung.

Bagaimana efeknya jika hal ini dialami oleh keluarga-keluarga yang di dalamnya ada anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan di mana asupan gizi ini sangat dibutuhkan mereka? Bukan tidak mungkin akan semakin banyak anak kecil yang sakit lalu meninggal, bukankah ini berarti kita kehilangan sebuah generasi?

Keenam, jika biasanya di sekolah anak berada di lingkungan sekolah yang teratur, ada tata tertib, ada tuntunan dan contoh perilaku yang baik dari guru, selama pandemi, kebanyakan anak-anak kita terus dijejali dengan gawai  meskipun ada pembelajaran. Sisanya sulit dikontrol, mereka dicuci otak dengan segala tontonan dan konten yang matrealistis hanya kebendaan semata, jauh dari tuntunan perilaku untuk berperilaku yang baik.

Baca Juga  Memanusiakan Perempuan
***

Pada akhirnya kita menyadari adanya pergeseran nilai dan kemungkinan satu generasi yang hilang.  Apa yang akan terjadi jika kita tidak mengantisipasi semua hal tersebut?

Saat ini, kita menghadapi di mana setiap orang lebih suka berinteraksi dengan dunia maya dibandingkan dengan dunia nyata, tak ada lagi saling menatap hangat saat berbicara, semua sibuk dengan gawainya. Sekarang ini kita seakan terbiasa melihat sebuah ruang keluarga dengan anggota yang lengkap, duduk bersama, namun tak  ada percakapan, tak ada komunikasi verbal, baik orang tua maupun anak-anaknya, semua asyik dengan HP mereka, ah sungguh menyedihkan ….

Tidak ada lagi canda tawa karena rasa humor yang menggembirakan semakin langka,  semua serba flat dan mudah terpancing emosi.   Kita sangat sulit menemukan kontak mata satu sama lain, tak lagi mudah menemukan rasa empati,  karena setiap orang semakin sedikit sekali berinteraksi dan bersosialisasi, individualisme semakin tinggi.

 Semakin mudahnya akses Sosial media membuat siapapun dengan mudahnya masuk ke dalam ranah tersebut hampir tanpa control dan saringan.  Siapapun bisa membuat konten apapun dan siapapun bisa melihatnya dengan mudah.  Dan hampir sebagian besar yang senang dilihat adalah konten-konten berbau materialistis, seakan segala sesuatunya hanya menggunakan materi. 

Apa jadinya dengan generasi anak-anak kita sekarang, jika hal-hal seperti ini yang menjadi makanan sehari-hari?

Bagikan
Post a Comment