Insecure Kepada Orang yang Good Looking
Belum selesai masalah tentang insecurities, yang belakangan menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat. Nampaknya hampir semua orang pernah merasakan insecure di dalam hidupnya. Bahkan saya sendiri juga pernah merasakannya. Walaupun sebenarnya insecure tidak selalu buruk; karena ada beberapa orang yang berubah menjadi lebih baik karena ia merasa insecure dengan apa yang ada pada dirinya.
Berbicara soal keadilan, nampaknya belakangan ada ungkapan yang cukup lucu dan kerap kita dengar yaitu; “keadilan sosial bagi seluruh rakyat good looking”. Yang berarti keadilan hanya berpihak kepada para pemilik paras rupawan.
Bagi Good Looking, Balapan Liar Tidak Masalah
Ketika salah satu teman yang dianggap tidak good looking ikut balapan liar di jalan; orang-orang di sekitar meresponnya dengan komentar yang buruk. Mereka menganggap apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang membahayakan dan tidak pantas untuk dilakukan. Beberapa hari kemudian, teman saya yang lain dianggap good looking ikut balapan liar malah di respon positif, dipandang cewek keren karena berani ikut balapan. Serta masih banyak lagi contoh yang ada di luaran sana.
Kita berada, Good Looking Selalu Ada
Jika kita telisik kembali, maka secara tidak sadar kita juga telah memberikan beauty privilege kepada orang-orang yang kita anggap memiliki tampang rupawan. Kita temui hal istimewa, mulai dari lingkungan rumah, sekolah, tempat kerja, atau kampus. Memang pembicaraan tentang fisik seseorang selalu menjadi pembicaraan menarik, dan sepertinya tidak akan pernah ada habis-habisnya. Bahkan, sejak kecil penilaian tentang fisik sudah kerap kita dengar.
Misalnya ungkapan seperti “anaknya cantik ya, Bu”, atau “aduh, anaknya ganteng banget, Bu”; menjadi hal yang biasanya spontan atau paling pertama diungkapkan oleh seseorang saat baru bertemu dengan kita. Walaupun sebenarnya hal semacam itu adalah sesuatu yang wajar jika diungkapkan untuk anak kecil, tapi tentu tidak sama apabila masih kita ungkapkan untuk orang dewasa. Coba kita ingat kembali, tentu kita pernah mendapat first impression dari orang yang baru kita temui dan di dalamnya ada penilaian tentang fisik.
Maka tidak heran jika penilaian soal fisik sudah mendarah daging di dalam diri kita dan terkadang secara tidak sadar kita juga menjadi salah satu orang yang menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat good looking.Jika berbicara good looking, maka salah satu hal yang ada di dalamnya adalah soal kecantikan. Padahal sampai saat ini kriteria cantik belum dapat disatukan secara sosial, karena cantik itu relatif dan setiap belahan dunia punya kriteria cantik yang berbeda-beda.
Standar Kecantikan dari Beberapa Negara
Ada banyak sekali kriteria cantik dari beberapa Negara, yang jika kita lihat dari kaca mata kita akan terdengar aneh, atau bahkan ekstrim. Perempuan dI Afrika Barat yang memiliki badan gemuk berisi dianggap sebagai perempuan yang cantik. Lelaki di Afrika Barat menyukai perempuan dengan tubuh berisi, namun tetap ada lekuk di pinggang tempatnya meletakkan tangan. Karena kriteria kecantikan yang mengacu pada badan gemuk melambangkan kemakmuran.
Sedangkan di Ethiopia menganggap perempuan cantik adalah mereka yang memiliki bekas luka sayatan di badan, terutama perut dan bahu. Perempuan yang memiliki luka sayatan terlihat cantik. Mereka dianggap lebih hidup dan nantinya bisa menemani sang suami untuk berjuang dalam melewati masalah kehidupan. Semakin banyak luka di badan maka semakin menunjukkan ketangguhan sang perempuan.
Di Indonesia sendiri, memandang bahwa Perempuan cantik adalah mereka yang memiliki kulit putih, tubuh langsing tinggi nan semampai bak model atau artis-artis yang sering kita lihat di media. Menurut indozone.id, dari survei yang dilakukan dengan 6.460 responden berusia 13-65 tahun pada 2019, secara umum 82,5% perempuan Indonesia mendefinisikan cantik adalah memiliki kulit cerah dan glowing.
Diabaikannya Cantik Hati dan Budi Pekerti
Tidak heran jika banyak perempuan menabung, hanya untuk berlomba-lomba membeli skincare. Karena saat ini, framing yang ada di lingkungan kita cantik itu harus memiliki kulit cerah dan glowing. Maka tidak heran jika hal ini dapat dimanfaatkan oleh kaum kapitalis dalam meraup keuntungan di kalangan industri fashion dan kosmetik. Kita harus paham ketika membahas tentang fisik memang tidak akan pernah selesai, tapi cobalah untuk open minded. Karena setiap negara atau pribadi punya ilustrasi kecantikannya masing-masing yang biasanya di pengaruhi oleh budaya, lingkungan, kultur dan bahkan agama.
Dengan begitu akan lebih baik jika kita dapat menyadari bahwa kita memang diciptakan Tuhan berbeda-beda dari segi fisik. Bukankan tujuan kita hidup hanya untuk menghamba kepada-Nya, maka jangan sampai kita mencela apa yang sudah Ia ciptakan dan menjadikannya murka. Karena tidak jarang kita dapat memaklumi suatu keburukan hanya karena pelakunya good looking dan kita menjudge perbuatan seseorang hanya karena melihat fisiknya. Jangan sampai pula kita melakukan body shaming kepada seseorang dan mengakibatkan seseorang tersebut menjadi merasa insecure yang berkepanjangan. (Editor :Jajang)
Mahasiswi Perbankan Syariah UIN Walisongo Semarang

Ria Fitria
Uuuu Masha Allah tulisannya bagus banget, bangga jadi anak mamak Lela