f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bercerai

Bercerai Bukanlah Bencana

“…Perceraian adalah perkara halal yang sangat dibenci oleh Tuhan…”

Mungkin anda pernah mendengar pernyataan tersebut, entah dari orang tua, kawan, kerabat ataupun ustadz. Saking seringnya kita mendengar hal tersebut, secara tidak sadar hal itu telah membentuk watak kepribadian kita. Sehingga kita menghindari betul perceraian.

Bahkan seolah sudah menjadi pemahaman umum yang saat ini berkembang di tengah masyarakat, bahwa perceraian merupakan hal yang tabu untuk dijalani. Lebih dari itu, jika di tengah masyarakat ada keluarga yang bercerai, maka kata-kata nyinyir, tidak menyenangkan atau stigma negatif akan segera mereka lekatkan baik kepada istri ataupun suami yang bercerai tersebut.

“Makanya jadi perempuan yang nurut, biar tidak ditinggal suami..”

“Dia letoy kali, makanya istrinya tidak betah..”

Atau ungkapan-ungkapan nyinyir lainnya yang bisa kita dengar dari tetangga atau bahkan orang yang dekat dengan kita, meski belum tentu faktanya demikian.

Idealnya, baik ditinjau dari sisi agama maupun norma yang berlaku dalam masyarakat, pernikahan cukup dilakukan sekali dan dipertahankan seumur hidup kita. Namun kadangkala seiring berjalannya waktu, ada saja hal hal atau permasalahan yang mengganggu ikatan pernikahan yang sudah terjalin sebelumnya.

Hal itu bisa berupa hilangnya rasa cinta yang ada, sehingga sudah tidak lagi kenyamanan hidup dalam membina rumah tangga. Atau kesibukan masing-masing yang mengganggu komunikasi antara pasangan suami istri. Sehingga mereka merasa sudah tidak nyambung lagi satu dengan yang lainnya, atau karena adanya godaan dari pihak ketiga baik pria maupun wanita.

Semua permasalahan tersebut dapat menjadi pemicu terjadinya ketidak harmonisan dalam rumah tangga. Yang jika dibiarkan tentu saja dapat berakibat lebih serius lagi.

Saya tidak ingin membahas bagaimana idealnya semua permasalahan itu harus diselesaikan dengan cara “baik–baik” . Karena pasti sudah banyak yang berusaha mengupayakan itu, entah dari orang tuanya, dari orang orang dekatnya atau dari orang lain yang dianggap memiliki cukup kemampuan dan pengaruh untuk menuntaskannya.

Baca Juga  ‘Iddah Perempuan yang Dicerai dan Hikmah di Balik ‘Iddah

Faktanya, masih teramat banyak kasus dan permasalahan dalam pernikahan yang tidak terpecahkan dan terselesaikan secara tuntas. Sehingga masih menyisakan luka dan duka yang menganga. Ibarat api dalam sekam, masalah itu dapat terbakar sewaktu waktu dan seketika. Bahkan dapat dipicu oleh hal-hal yang sangat sepele sekalipun.

Tentu saja tidak ada orang yang melakukan pernikahan kemudan berniat untuk bercerai setelahnya. Karena ketika seseorang memasuki gerbang penikahan, tentu ia dan pasangannya memiliki harapan dan cita-cita membina kehidupan bahagia. Atau dalam istililah yang lebih umum, membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, wa Rahmah.

Tapi jika memang menjalani kehidupan bersama sebagai pasangan tidak menjadikan kehidupan ini nyaman dan bahagia, mengapa tidak berpisah saja. Jika dengan itu masih ada harapan dan kesempatan untuk dapat meraih kebahagiaan di dunia.

Saya sepakat bahwa bercerai adalah pilihan terakhir setelah tidak ada pilihan lainnya yang dianggap lebih baik. Namun hal yang harus digaris bawahi adalah bahwa tidak ada salahnya seseorang bercerai jika memang dianggap akan dapat lebih membawa sesuatu yang lebih baik.

Artinya jangan sampai ada anggapan bahwa setelah bercerai maka kita akan kehilangan segalanya. Bahkan bisa jadi bercerai merupakan titik awal bagi seseorang untuk memulai kehidupan barunya yang lebih baik. Atau bisa jadi, perceraian merupakan jalan Tuhan agar dapat menemukan pasangan yang lebih baik dari sebelumnya.

Saya tidak mengatakan bahwa setelah bercerai, seseorang akan memiliki kehidupan yang lebih baik daripada sebelum ia bercerai. Tapi mari kita berpikir dengan jernih dan menggunakan akal sehat, bahwa ada kehidupan di depan yang masih harus dijalani, yang mungkin masih panjang bagi seseorang.

Di sisi lain kehidupan rumah tangga yang dijalani bersama pasangan merupakan penderitaan yang berkepanjangan, maka salah satu opsi yang dapat dipilih menurut saya adalah dengan berpisah dengan pasangan.

Baca Juga  Kritik Feminisme Gelombang II terhadap Empat Masalah Kapitalisme Pasca Perang Dunia II

Tidak perlu membayangkan terlalu jauh bagaimana nanti penerimaan masyarakat, bagaimana tanggapan keluarga, bagaimana teman teman melihat dan memandang kita. Karena pada saat kita menderita, tertekan dan teraniaya dalam pernikahan mereka tidak ikut merasakannya. Jadi wajar saja jika ada orang lain yang tidak dapat memahami dan tidak setuju dengan keputusan kita.

Meski dikatakan perceraian merupakan hal yang dibenci Tuhan, tapi toh tetap saja merupakan hal yang dihalalkan, dan terkait pandangan miring dari orang lain, saya yakin, seiring berjalannya waktu, pandangan negatif orang lain terhadap diri kita akan berubah sesuai dengan keadaan kita saat itu. Kita hanya perlu membuktikan kepada orang orang disekitar kita bahwa keputusan bercerai yang diambil merupakan keputusan yang paling tepat.

Bagaimana cara membuktikannya?!

Hanya satu cara, yaitu menjadikan kehidupan kita lebih baik dari sebelumnya, lebih bahagia dari sebelumnya, lebih sejahtera dari sebelumnya.

Namun tentu saja, membuat keputusan bercerai bukan perkara sederhana seperti tulisan saya, karena bisa jadi ketika saya benar benar dihadapkan pada situsi yang seperti itu, sayapun tidak berani melakukannya. Bagaimana dengan anda?

Bagikan
Post a Comment