f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
takut masa depan

Takut Masa Depan Kok Malah Lupa Tuhan?

Sudah sekitar 3 jam suntuk dirinya belajar mati-matian. Rambutnya acak-acakan, padahal sudah lebih dari 2 kali gelungannya dirapikan. Ia rasakan otaknya mengebul, dahinya sesekali dipijat-pijat, barangkali itu juga penyebab rambutnya jadi tak karuan. Tak terasa azan zuhur pun berkumandang. Waktunya ia beranjak dari tempat dan ambil wudu. Namun di pikirannya masih membekas sisa pelajaran tadi. Langkahnya dari kamar ke tempat wudhu dipenuhi rasa kesal dan khawatir. “Mengapa masih belum bisa juga aku pecahkan soal-soal itu? Bagaimana jika nanti aku tak bisa menjawab tes nya dengan lancar?” ujarnya dalam hati.

Air keran ia nyalakan, lalu berwudhu. Berjalanlah ia kemudian menuju tempat shalat, kebetulan di rumahnya itu terdapat musala. Sampai sajadah digelar dan mukena ia kenakan, perasaannya pun masih berkutat dengan kecemasan. “Allahuakbar” Ia mulai takbiratul ihram. Di tengah ibadahnya, tiba-tiba saja ia meragu. Pertanda khusyuk dalam ibadahnya hilang. Ia merasa ada gerakan shalat yang terlewat. “Ini sudah rakaat ketiga apa baru kedua?, sudah tahiyat awal apa belum?” fikirnya.

Seusai shalat dzuhur, ia kembali ke kamar dan melanjutkan sesi belajarnya. Sekitar dua jam ia habiskan dan rambutnya kembali acak-acakan. Dari dapur ibunya memanggil “de, jangan lupa angkat jemuran”. “iya bu” jawabnya sembari kembali membetulkan gelungan rambut. Selesainya mengambil jemuran, ia putuskan menutup sesi belajar dan pergi ke dapur untuk membantu ibu memasak hidangan berbuka. Meskipun melakukan kegiatan lain, fikirannya tak luput dari kegundahan yang sama.

Adzan ashar berkumandang. Kali ini shalat dilaksanakan berjamaah bersama ibu. “De, ayo wudhu..” ajak ibu. Ibu kembali memanggil karena si anak tak juga beranjak dari tempat, “De..”. “De..” kata ibu untuk ketiga kalinya. “Iyah” jawabnya dengan sedikit terkejut. “Ayo kita shalat”. Barulah ia beranjak dan terhenti dari lamunanya.

Baca Juga  Menjadi Baik Bukan untuk Mendapatkan Jodoh yang Baik

Seusai shalat ashar, ibu dan anak itu kembali ke dapur melanjutkan kegiatan memasak. Pukul 17.15 hidangan berbuka sudah siap. Sambil menunggu waktu maghrib, ia kembali ke kamar dan belajar. Itung-itung ngabuburit katanya. Baru saja menyelesaikan 2 soal, bedug maghrib sudah terdengar. Waktunya berbuka. Ini waktu yang ditunggu-tunggu karena bisa melepas dahaga dan lapar. Tetapi dirinya justru tidak merasa lapar. Lagi-lagi karena dampak perasaan khawatirnya yang berlebih

Setelah berbuka dengan 1 kurma dan semangkok kecil es buah, Ia dan ibunya beranjak menuju musholla, sedang ayahnya pergi ke masjid. “Giliran kamu imam ya de” ujar ibu sambil menggulungkan lengan baju, bersiap untuk wudhu. “Okeh..” jawabnya sambil mengacungkan jempol.

“Allahuakbar”, imam mulai takbiratul ihram, ma’mum pun mengikuti. Ia lantunkan surah Al-Fatihah dan al-Lahab di rakaat pertama dengan suara merdunya. Fasih dan merdunya ia dalam melantunkan ayat al-Quran sekilas menggambarkan betapa thuma’ninahnya ia menjadi imam. Namun realitanya tidak. Fikirannya lagi-lagi terganggu oleh kecemasan. Hingga di rakaat kedua, tiba-tiba saja ia berdiri setelah sujud. Padahal seharusnya ia duduk tahiyat awal. Ma’mum pun mengingatkan. Ini pertanda, lagi-lagi shalatnya tak khusyuk.

Usai shalat, ia dan orangtuanya pun berbuka. Menu kali ini ayam goreng, tempe orek, capcay, sambal, dan kerupuk. Porsi makan kali ini tidak seperti biasanya. Ia hanya ambil setengah centong nasi. Alasannya masih sama, tak nafsu makan karena banyak fikiran. Untung saja ia masih mau makan dengan lauk-pauk.

Makan selesai. Sambil menunggu adzan isya, ia kembali ke kamar dan mengambil Hp. Barangkali ada info baru grup WhatsApp untuk tes nanti. Asyik Hp-an, sampai ia pun tak sadar adzan isya sudah berkumandang. “De ayo cepet siap-siap, nanti gak kebagian tempat tarawih” kata ibu. Ini masih awal-awal puasa, jadi warga masih rajin pergi ke masjid untuk tarawih. Harapannya selalu begini setiap tarawih. Tapi susah sekali terwujud.

Baca Juga  Al-Attas dan Nurcholish Madjid : Sekulerisasi Negara Islam

Dia yang dari tadi sibuk main hp baru tersadar setelah ibunya memanggil. “Astagfirullah” ucapnya. Ia pun bergegas gosok gigi, berwudhu, dan memakai mukena.

Benar saja. Sesampainya di masjid, ia kebagian shaf paling belakang. Telat sedikit saja, ia sudah pasti shalat di teras samping masjid. Shalat sunnah Qabliyah, shalat isya, dan shalat sunnah ba’diyah sudah ia laksanakan. Namun selama ibadahnya itu ia masih saja dihantui rasa kecemasan. Shalat tarawih dimulai. Di kepalanya masih penuh dengan rumus-rumus, contoh soal, dan obrolan terakhir grup WhatsApp-nya. Sampai-sampai lamanya shalat tarawih hanya lelah yang ia rasakan, bukan ketenangan. “Bu, berapa rakaat lagi?” tanyanya pada ibu. “4 rakaat lagi” jawab ibu. “4 rakaat lagi menuju witir berarti bu?” tanyanya lagi. Ibu menganggukan kepala.

Di fikirannya sudah ada planning, “Sepulang shalat tarawih, ia akan segera pergi ke kamar dan belajar” fikirnya. “Tidak.. tidak”, Ia mereset planningnya. “Buka grup dulu, siapa tau ada materi baru. Sehabis itu melanjutkan soal yang tadi belum sempat aku pecahkan”. Saking asik mengobrol sendiri dengan fikirannya, ia sampai tak sadar kalau jamaah lain sudah berdiri sedang ia masih duduk. Rupanya ini masih rakaat pertama, dia kira sudah tahiyat akhir. “Astagfirullah”, ucapnya dalam hati.

Tarawih selesai. Jarak dari masjid ke rumahnya cukup jauh. Ia ingin segera sampai dan melancarkan planningnya. Di perjalanan pulang, hanya ada ibu dan dirinya.

“De”, ucap ibu memulai pembicaraan. “Ya” jawabnya. “Ibu kecewa sama kamu hari ini” kata ibu tiba-tiba. Ketika mendengar itu, si anak pun kaget. “Tindakan apa yang aku lakukan hingga buat ibu kecewa” benaknya. Belum sempat ia mengucap sepatah kata, ibunya sudah melanjutkan pembicaraan.

Baca Juga  Berprasangka Baik Menjemput Ketenangan Hati

 “Waktu ashar tiba, kamu abai dengan lantunan adzan. Saat maghrib dan jadi imam, kamu lupa gerakan shalat. Menuju isya, kamu asyik Hp-an. Ketika shalat tarawih, kamu salah gerakan. Sehabis sahur kamu ketiduran dan telat bangun subuh. Dan entah bagaimana shalat dzuhurmu tadi.” Ucap ibu. “Kamu mikirin apa dek?” lanjut ibu sambil membelai kepala si anak.

“Aku kepikiran tes nanti bu”. Jawabnya. “Aku takut gagal. Aku takut masa depanku buruk dan aku ngecewain ibu sama bapak” lanjutnya

“Justru itu yang bikin ibu dan bapak kecewa. Kamu lebih takut menghadapi masa depan daripada Tuhan.” Jawab ibu.

“Kamu yakin besok kamu masih hidup?” tanya ibu pada si anak. “Kamu yakin, di hari tes nanti, kamu masih ada di dunia?” tanyanya lagi. Si anak hanya terdiam dan merasa takut jika benar ternyata malaikat harus menyabut nyawanya hari esok.

“Ingat dek..,” kata ibu lagi “Kecemasan mu hari ini, masa depan mu nanti, kebabahagiaanmu hari esok, belum tentu ada jika ajal sudah menjemput”. “Jangan aneh” tambah ibu “takut masa depan kok malah lupa Allah. Padahal Allah Swt sendiri pemilik masa depan.”

Bagikan
Post a Comment