Pembacaan Emansipatoris Kisah Perempuan dalam Al-Quran (VI): Shafura
Di lembah Madyan, Musa yang sedang melarikan diri dari kejaran pasukan Firaun mendapati sekelompok orang yang sedang memberi minum kawanan ternak mereka. Di antara kelompok itu, Musa menyaksikan dua perempuan, yang ternyata adalah putri dari Nabi Syuaib, sedang kesulitan mengambil air dari sumur.
Musa yang melihat keduanya dalam kesusahan lalu berinisiatif memberikan bantuan. Meskipun saat itu Musa juga dalam kondisi yang lemah, lelah, dan tak berdaya, ia sama sekali tidak mengharapkan imbalan atas bantuan tersebut. Alih-alih, Musa lebih memilih berteduh dan memanjatkan doa kepada Tuhan untuk dihilangkan kesulitannya.
رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku” (Q.s. al-Qashash [28]: 24).
Doa itu ternyata segera mendapatkan jawab. Salah seorang di antara keduanya, yang dalam tradisi Israiliyat dikenal dengan nama Shafura (sementara perempuan yang lain bernama Layya), dengan malu-malu (bi-istihya’) mendatangi Musa dan menyampaikan undangan dari ayahnya yang hendak memberikan tanda terima kasih.
Tulisan ini akan mengulas pembacaan emansipatoris Asma Lamrabet tentang Shafura. Perempuan yang kelak menjadi istri Musa itu dikenal punya sifat furusiyyah di dalam dirinya, yaitu sifat yang mencerminkan keberanian, kehormatan, dan keluhuran budi.
Cinta pada Pandangan Pertama
Ketika sampai di kediaman Nabi Syuaib, berceritalah Musa mengenai keadaan dirinya; tentang insiden yang menyebabkan kematian seorang Mesir, sehingga mengharuskannya melakukan pelarian berhari-hari dalam kesendirian, kesedihan, dan penyesalan. Syuaib menyimak cerita Musa dengan penuh perhatian dan simpati, lalu tanpa ragu memberikan garansi bahwa ia sudah terbebas dari kezaliman pasukan Firaun.
Dalam Q.s. Al-Qashash [28]: 26 lebih lanjut dikisahkan bahwa Shafura –yang terkesan dengan kemuliaan jiwa pemuda asing itu– meminta ayahnya untuk mengangat Musa sebagai pekerja. Ia menyebut Musa sebagai pemuda yang kuat dan tepercaya (al-qawiy al-amin).
Sebagian mufasir memberikan detail seperti ini: ketika sedang membantu kedua putri Nabi Syuaib memberi minum ternaknya, Musa harus mengangkat batu besar yang menutupi sumur. Batu tersebut konon hanya dapat diangkat setidaknya oleh dua puluh orang. Tidak hanya kuat, keduanya juga menyaksikan kebajikan budi dan kemuliaan jiwa Musa selama perjalanan menuju rumah mereka.
Mendengar permintaan putrinya, Nabi Syuaib segera menyadari bahwa telah terjadi semacam keterhubungan emosional dan spiritual antara kedua anak muda tersebut. Dalam bahasa Lamrabet, “The spontaneity of a meeting, the discovery of a kindred spirit, gestures which speak louder than the most beautiful love serenades” (hlm. 69).
Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, Nabi Syuaib tahu bahwa putrinya sedang mengalami cinta pada pandangan pertama. Menurut Lamrabet, meski perasaan cinta itu berusaha disembunyikan, Nabi Syuaib dapat membaca pesan yang hendak disampaikan oleh putrinya. Oleh karena itu, beliau memberikan tawaran kepada Musa untuk menikahi salah satu putrinya.
Shafura sebagai Tempat Berpulang
Musa yang kuat dan tepercaya kemudian menikah dengan Shafura yang dikenal mempunyai sifat furusiyyah. Ibn Mas’ud meriwayatkan, putri Syuaib merupakan satu di antara tiga orang (selain Abu Bakar as-Shidiq dan al-Aziz) yang paling tajam firasatnya. Betapa tidak, dalam pertemuan yang singkat ia segera mengetahui bahwa Musa adalah pemuda yang kuat dan tepercaya.
Sebagaimana termaktub dalam Q.s. Al-Qashash [28]: 27-28, Nabi Syuaib dan Musa mengadakan perjanjian agar setelah melangsungkan pernikahan, Musa bekerja atau memelihara ternak selama delapan hingga sepuluh tahun. Kata Musa, “mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu yang aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan (tambahan) atas diriku (lagi)”.
Kisah Musa dan Shafura menjadi contoh bahwa cinta dapat tumbuh dari ketulusan jiwa, kepedulian, dan kemampuan melihat kebaikan dalam diri seseorang. Dalam diri Shafura, Musa menemukan tempat untuk pulang sekaligus teman hidup yang akan mendampinginya dalam perjalanan panjang menuju takdir yang Allah tetapkan.
Ketika menutup kisah ini, Lamrabet menyesalkan bahwa banyak umat Islam yang mengabaikan aspek afektif dan emosional dari ungkapan dan perasaan tulus Shafura. Bagaimanapun, ia merupakan perempuan pemalu. Bahkan disebutkan oleh at-Thabari bahwa ketika menyampaikan undangan dari ayahnya untuk datang ke rumah, ia berjalan sembari menunduk dan menutup wajah. Sementara menurut Lamrabet, Shafura adalah “one who made her declaration of love to this chosen Prophet with the greatest of sincerity” (hlm. 70).
