f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pengajian

Menghadapi Lingkaran Pengajian Ibu-ibu

Beberapa dari kita, mungkin pernah menghadapi kondisi yang terlihat sederhana, tapi ketika sudah berbaur di dalamnya, konsep sederhana yang kita miliki perlahan lenyap di kepala. Anggaplah dari sekian banyak contoh yang ada, salah satunya adalah pengajian ibu-ibu. Sederhana karena bukan hal yang baru dalam masyarakat kita, menjadi begitu sederhana lagi karena kita menyaksikan dari jauh, sebab lingkaran ini bukan lingkaran kita (dari segi umur misalnya). Lalu bagaimana kondisi demikian menjadi tidak sederhana? Ketika kamu masuk di dalamnya sebagai orang baru dan ikut serta belajar tapi lebih kepada yang memimpin pengajian.  

Di tahun 2017, saya pernah mengahadapi situasi seperti itu. Kampung yang jauh setidaknya dari tempat saya saat ini. Tepatnya di salah satu pedukuhan di wilayah Gunungkidul. Kelompok pengajian kolektif tersebut sudah eksis sejak lama. Peran penting ibu-ibu setempat sudah barang tentu yang menjadi alasan pengajian ini tetap hidup.

Konsep pengajian yang ada di sana murni belajar mengaji Al-Qur’an, sebagian besar ibu-ibu pengajian sudah mahir membaca hanya perlu koreksi pada panjang-pendek bacaan dan pemenuhan hak-hak huruf. Sebagian yang lain ada juga yang masih belajar huruf termasuk mbah-mbah yang belajar mbaca iqro. Jadwal ngaji pun adalah jam-jam yang sekiranya tidak mengganggu aktivitas ibu-ibu di sawah atau di ladang.

***

Awalnya saya sangsi, penyebab utamanya tentu karena saya tidak terlalu paham bahasa Jawa. “Bagaimana mungkin bisa membaur dengan ibu-ibu di sini, dengan bahasa yang menjadi kendala utama,” pikir saya. Setidaknya persoalan yang saya hadapi ini adalah perkara penting. Bahasa selalu menjadi nomor utama untuk bisa menarik hati atau paling tidak untuk membuat obrolan bisa nyambung.

Tapi kekhawatiran saya entah teratasi atau tidak, tahu-tahu saya sudah masuk dalam lingkaran pengajian ibu-ibu ini. Setelah saya ingat-ingat lagi, kekhawatiran yang berlebihan menciptakan kerumitan sendiri. Kebanyakan mikir memang sering membuat bayangan lebih seram daripada kenyataan. Padahal mah intinya, hadapi saja.

Baca Juga  Tugasmu Beranak? Gunakan Metode Moscow!

Lalu apa poin penting ketika sudah terjun langsung (untuk tidak mengatakannya bebas) dalam lingaran pengajian ibu-ibu? Yakni, bagaimana caranya supaya ibu-ibu pengajian bisa percaya diri bagaimana pun kondisinya. Keadaannya mungkin berbeda jika ibu-ibu yang kita hadapi mahir mengaji secara keseluruhan. Atau konsep mengaji yang kita pakai hanya degan tadarus bersama. Tapi jika tidak, maka besar kemungkinan kita akan menemui komentar yang bernada tidak percaya diri. 

Seperti contohnya: “aku juga maulah mbak ngajinya bisa lancar begitu,” atau mungkin komentarnya begini “aku dari dulu mau ngaji dengan nada-nada mbak, bagaimana yah,” atau komentar lainnya ketika hendak disimak mengaji, malah begini: “aku isin e, mbak,” (baca: malu). Kondisi seperti ini tentulah tidak sederhana, pilihan kata yang kita gunakan untuk menanggapi hal tersebut sangat menentukan bagaimana kelanjutan dari nasib pengajian.

***

Tidak jauh berbeda, pengalaman pernah menghadapi bimbingan privat mengaji salah seorang ibu di Jogja, membenarkan tebakan dan kondisi seperti itu akan selalu ada. Setidaknya saya harus bilang, pilihan kata yang kita gunakan, menentukan banyak hal. Kita perlu memiliki kata-kata pamungkas -atau apalah istilahnya- yang dapat membesarkan hati.

Ibu yang saya hadapi sebelumnya belajar ‘kembali’ mengaji karena hendak menunaikan ibadah umrah. Aktivitas mengaji yang biasa dibaca hanya pada surah yang sudah bisa dibaca lancar atau mengaji dengan membaca tulisan latinnya. Di beberapa kesempatan kerap kali bertanya apa tidak terlalu telat. Sesering itu pula saya mengatakan bahwa tidak ada yang terlambat, ikhtiar kembali belajar sudah sangat mulia di sisi-Nya.

Mengapa pilihan kata menjadi penting? Tentu untuk memberikan jawaban atau tanggapan yang bisa membesarkan hati. Rasanya tidak adil ketika pihak lain memberikan komentar “kok bisa sih ada yang tidak terlalu bisa mengaji”, “kok bisa sih ini dan itu” dan mungkin banyak komentar yang senada. Jadi begini, kita tidak pernah tahu, seberusaha apa seorang ibu tunggal, menghidupi anaknya dan baru memiliki kesempatan belajar lagi.

Baca Juga  Kisah Sringah Si Saksi Sejarah
***

Pun sama dengan ibu-ibu pengajian di desa yang sibuk dengan ragam aktivitas seperti merawat ladang, mengambil rumput dan memberi makan ternak mereka. Perkara sama, waktu dan kesempatan yang baru ada. Penghakiman kita memang sepertinya terlalu kejam untuk memukul rata dengan menganggap semua kondisi orang lain sama. Bahkan sebenarnya kita terlalu tahu detail kondisinya seperti apa.  

Di kesempatan lain, barangkali menghadapi kondisi seperti ini, kita selalu perlu mengapresiasi banyak hal. Memahami baik bahwa belajar tidak pernah mengenal usia. Kesempatan hanya perlu disambut dengan suka cita. Termasuk bagaimana menghadapi pengajian ibu-ibu, bagaimana membesarkan hati, bagaimana lingkaran pengajian yang ada memberikan pengaruh besar. Poin lainnya yang membuat kita kagum, betapa semangat belajar tidak perlu dihalangi oleh segala jenis alasan.

{wallahu a’lam}

Bagikan
Comments
Post a Comment