E-Ngaji: Solusi Untuk Tetap Belajar Mengaji di Tengah Pandemi
Pandemi Covid-19 turut menghambat kegiatan belajar mengajar pendidikan di Indonesia. Tak hanya pendidikan formal, pendidikan non formal seperti Taman Pendidikan Quran (TPQ) atau mengaji di sejumlah daerah juga terkena imbasnya. Salah satunya yaitu di daerah kelahiran penulis, tepatnya di kecamatan Burneh, kabupaten Bangkalan.
Banyak TPQ di Burneh yang memilih untuk menonaktifkan kegiatan belajar mengajar ngaji di tengah pandemi hingga saat ini. Para siswa libur atau kembali ke rumah masing-masing agar belajar mengaji ke orang tua mereka. Bukan tanpa sebab, hal ini untuk meneken angka persebaran virus Covid-19 di kabupaten Bangkalan sendiri.
Meski sebelumnya telah ada wacana untuk pembelajaran tatap muka pada Juli ini, namun hal itu belum dapat terlaksana di Kabupaten Bangkalan. Terlebih, menurut data Dinas Kominfo Kabupaten Bangkalan, per tanggal 30 Juni 2021 Bangkalan memasuki zona orange dengan lonjakan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 baru-baru ini.
Sementara itu, Presiden Joko Widodo baru-baru ini menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat di wilayah Jawa dan Bali sejak tanggal 3 Juli hingga 20 Juli 2021. Selama penerapan PPKM darurat, seluruh kegiatan belajar mengajar di sekolah berlangsung secara daring (online) atau dengan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ).
TPQ Libur, Mengaji Juga Libur
Para siswa memang libur, meski begitu tetap terdapat anjuran untuk melanjutan belajar mengaji di rumah masing-masing. Namun, tidak banyak dari mereka yang melanjutkan untuk belajar mengaji di rumah. Beberapa dari mereka memilih untuk mengisi waktu libur mereka untuk bermain.
Sebagai contoh, anak-anak di desa Burneh dan salah satunya adik dari penulis sendiri. Semenjak TPQ ikut libur, para siswa lebih gemar beralih ke game online daripada melanjutkan belajar mengaji di rumah. Bahkan, mereka hampir tidak mengaji sama sekali.
TPQ merupakan lembaga pendidikan Islam non formal yang yang menyediakan pembelajaran Al Quran mulai dari membaca, menulis, menghafal dan mengamalkan isi kandungan dari Al-Quran. Selain itu, pembentukan karakter, moral dan akhlak ditanamkan pada para siswa agar menjadi pribadi yang berakhlak mulia sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Jika TPQ libur, itu artinya anak-anak tidak lagi sering mengaji dan belajar tajwid. Padahal tajwid sangatlah penting untuk menambah kesempurnaan sholat. Imbasnya, karakter dan akhlak seorang anak sulit terbentuk karena kebiasaan mereka untuk mengaji berhenti.
Hal ini terjadi juga karena faktor keluarga yang kurang dalam memberikan perhatian kepada akhlak anak terlebih orang tua yang sibuk bekerja seharian. Terlebih lagi, jika anak kita biarkan untuk berhenti mengaji atau tidak lagi sering mengaji, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sulit diatur dan kurang disiplin.
Biasanya, TPQ tradisional mempunyai khas dalam mendisiplinkan siswanya yaitu dengan cara memakai lidi atau sapu untuk siswa yang tidak disiplin atau sering bercanda saat belajar mengaji. Berbeda dengan TPQ tradisional, TPQ modern biasanya enggan menggunakan kekerasan, salah satu contohnya yaitu memberikan hukuman dengan menghafal surat-surat pendek.
Pemberdayaan TPQ di Masa Pandemi
Pandemi secara tidak langsung menuntut perubahan kurikulum yang awalnya melakukan pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring (online). Dengan begitu, pemerintah dan tenaga kependidikan atau peneliti pendidikan ramai-ramai mengembangkan media pembelajaran berbasis online atau e-learning.
Namun, hal itu tidak banyak berlaku di TPQ di berbagai tempat. Kebanyakan TPQ berisikan guru–guru ngaji yang usianya sudah senja, atau mereka kudet dalam teknologi. TPQ yang masih bertahan atau tidak meliburkan siswanya untuk belajar mengaji lebih banyak menggunakan pembelajaran dengan sistem keliling.
Ya, guru ngaji keliling mendatangi rumah siswanya untuk belajar mengaji. Cara lain yaitu dengan membatasi siswa yang tetap mengaji di TPQ dengan menerapkan protokol kesehatan. Akan tetapi, cara ini kurang efektif untuk meneken persebaran Virus Covid-19 di TPQ karena sifat anak-anak yaitu bermain.
Untuk itu, pemerintah dan tenaga kependidikan perlu melakukan pemberdayaan TPQ agar tetap berjalan di masa pandemi. Salah satunya dengan melakukan pelatihan pembelajaran mengaji dengan menggunakan media pembelajaran berbasis online.
Namun, lagi-lagi kendala yang lain ialah media haruslah efektif untuk belajar mengaji. Ada pembelajaran yang khusus diberikan dan dilakukan satu persatu kepada siswa. Seperti belajar tajwid dan makhrojatul huruf dengan praktek membaca alquran satu per satu.
Beralih ke E-Ngaji
E-ngaji ini lebih memanfaatkan teknologi untuk belajar mengaji. Salah satu media berbasis online yang efektif untuk belajar mengaji ialah articulate storyline. Berdasarkan amiroh.web.id, articulate storyline ini merupakan salah satu multimedia authoring tools untuk membuat aplikasi multimedia interaktif.
Articulate storyline berisi fitur – fitur yang menarik di gunakan untuk membuat konten seperti teks, gambar, grafik, suara, video bahkan animasi dan simulasi. Hasil kontennya dapat dipublikasikan menjadi media berbasis web (html) atau application file (.exe). Bagusnya lagi, tak hanya di perangkat lunak laptop atau pc, namun juga dapat kita gunakan di perangkat lunak Handphone.
Tak hanya itu, articulate storyline ini cocok dan gampang bagi pemula karena fiturnya tidak jauh berbeda seperti aplikasi microsoft power point. Articulate storyline memang jarang ditemukan di media pembelajaran di beberapa pusat pendidikan formal maupun non formal.
Namun, tidak sedikit juga yang mengembangkan media articulate storyline untuk digunakan sebagai media pembelajaran berbasis online. Contohnya saja, tidak lama ini tepatnya tahun 2020 lalu beberapa Mahasiswa Muhammadiyah Malang membuat sebuah inovasi yang menggabungkan metode mengaji dan teknologi bertajuk “Metode Nasyid Berbasis Articulate Storyline” dan menerapkannya di TPQ Shirotol Mustaqim.
Untuk itu perlu kiranya pemerintah bekerja sama dengan tenaga pendidikan agar membuat pelatihan untuk memperluas penggunaan articulate storyline di sejumlah pendidikan non formal seperti TPQ agar para siswa tetap memperoleh pengajaran ilmu agama salah satunya mengaji. Dengan demikian, TPQ tidak perlu meliburkan siswanya untuk belajar mengaji meski di tengah pandemi dengan beralih ke E-Ngaji.
Pemuda Asal Bangkalan, Madura yang bercita-cita ingin memerdekakan tulisan. suka berkegiatan sosial-ekologi. bisa ditemukan di pinggir jalan raya atau di taman-taman perkotaan saat melapak gratis buku-buku bacaan dan barang bekas layak pakai.
