f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kehilangan ibu

4 Jam Kehilangan Ibu

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Jogja ke Jakarta, lalu terbang menuju Jeddah. Dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 6 jam dari Jeddah menuju Madinah. Alhamdulillah, pada pukul 05.30 kami tiba di Kota Suci Madinah Al Munawwarah. Hilang sudah rasa lelah akibat perjalanan panjang. Berganti rasa haru yang mengharu biru di dada. Ada rasa tak percaya, akhirnya aku bersama ibu dan rombongan SCM lainnya bisa sampai di kota suci ini. Kota di mana Rasulullah Saw. melanjutkan perjuangan dakwahnya setelah hijrah dari kota kelahirannya yakni Makkah al Mukarramah.

Rombongan kami menginap di Hotel Sanabil Al Madinah, sebuah hotel yang berjarak sekitar 200 m dari Masjid Nabawi. Lurus sebelah utara dari gerbang 338. Setelah menyantap sarapan di lantai M dengan menu yang Indonesia banget..he he..(nasi, ayam goreng, mie, dan krupuk), dilanjutkan dengan pembagian kamar dan koper. Kami menempati kamar 105 yang berisi lima orang yakni Saya, ibu, Mbak Azza, Mbak Indrit dan Bu Marjiyem. Kami bergegas untuk mandi dan ganti baju, karena pembimbing sudah mengingatkan bahwa jamaah wanita dijadwalkan memasuki Raudhah pada pagi ini. Ya, pasca pandemi ini terdapat pembatasan jadwal untuk memasuki Raudhah. Jamaah harus memiliki tasyrih untuk memasukinya. Mengingat rombongan kami memperoleh tasyrih pada jam 09.00, maka jam 08.30 kami sudah diminta untuk berada di lobi. Sedangkan jamaah pria dijadwalkan untuk melakukan ziarah seputar Masjid Nabawi.

Alhamdulillah, proses memasuki Raudhah berjalan dengan lancar. Kami berdoa dengan khusyu’ di dalam Raudhah. Sekitar 15 menit kemudian, asykar memberi isyarat agar kami segera beranjak dan memberi kesempatan kepada rombongan lain. Sebelum kembali ke hotel, kami tidak melewatkan momen untuk berfoto bersama …. cheeersss… cekrek…cekrek.

Baca Juga  Apakah Bayi di Kandungan Ikut Merasakan Kesedihan Ibu?

Semua rombongan kembali ke hotel untuk beristirahat sambil menunggu waktu Zuhur. Zzz…

Pukul 11.00 saya bersiap menuju masjid. “Ibu kuat mboten jalan lagi ke masjid nabawi sholat Dzuhur?” tanyaku kepada ibu.

“Aku salat neng kamar wae yo, sikilku pegel” jawab ibu. “Nggih sampun, moggo ibu istirahat mawon”. Saya, Mbak Azha dan Mbak Indrit bergegas menuju masjid. Suhu Madinah yang terasa panas langsung menyergap begitu kami keluar hotel. Kami mengambil arah ke kiri dari lobi Hotel Sanabil, lurus ke selatan, melalui sela-sela antara hotel Al Haram yang masih renovasi dan Hotel Grand Plaza (dulunya bernama Al Salihiyah, langganan SCM), lalu masuk melalui gerbang 339, selanjutnya berbelok ke kanan masuk ke pintu 25. Pintu masuk Masjid Nabawi khusus untuk wanita. Usai menunaikan Salat Zuhur, kami kembali ke hotel. Kali ini kami memilih keluar melalui pintu gerbang 338, melewati Hotel Fairuz Satta.

Tanpa firasat apapun, Bu marjiyem menyampaikan jika saat beliau di toilet kamar, ibu keluar kamar sendiri untuk makan siang namun tidak kembali lagi ke kamar. Deg…saya langsung bergegas ke kamar ternyata ID card dan tas paspor ibu tergeletak di kasur. Ah, paling ibu ada di sekitar kamar. Saya pun bergegas ke lantai M. Nihil. Ibu tidak ada di sana. Jantungku mulai berdegup kencang, perasaan mulai gak karu-karuan. Tanya kiri-kanan ke kamar jamaah-jamaah SCM. Nihil. Pukul 12.43 saya mengumumkan di WA grup jamaah, memberitahu bahwa ibu tidak ada di kamar. Pak Gita merespon cepat, meminta semua jamaah untuk mencari. Air mata mulai tak terbendung. “Ya Allah, ibuku di mana Ya Allah….padahal beliau tidak bawa ID card dan identitas lainnya”.

Baca Juga  Menjadi Dewasa, dan Ketakutan-Ketakutan yang Tak Pernah Masuk Akal

“Nisa, tenang ya, jangan panik” sebuah pesan masuk dari seorang senior di Jogja yang ikut memantau perjalanan jamaah. Jujur, sulit untuk tidak panik. Ibu belum makan dan minum obat, bahkan tidak membawa identitas apapun. Ya Allah, air mata tumpah. Ditemani Mbak Azha dan Mbak Inggrit kami berkeliling mengitari hotel, lalu masuk Masjid Nabawi. Kami bertiga lemas melakukan pencarian. Betapa luasnya masjid ini. air mata ini terus mengalir, membayangkan ibu yang sedang kebingungan mencari jalan pulang ke hotel.

***

Pak Gita memberi instruksi tambahan, agara pada saat menuju masjid untuk menunaikan Salat Ashar nanti, semua jamaah mengenakan batik SCM serta identitas lainnya yang mudah terlihat. Harapannya, ibu bisa melihat jamaah SCM, lalu segera menghampiri dan bisa kembali bergabung bersama kami. Semua jamaah diminta menyebar ke berbagai penjuru Masjid Nabawi. Foto terkini ibu segera ku unggah di grup. Agar semua jamaah dapat mengenali ibu jika berpapasan.

Dokter Chusna, Budhe Dyah Pikanti pun turut melakukan pencarian ibu. Saya bergegas ke resepsionis minta cek CCTV hotel. Sayangnya baru diizinkan lihat jam setelah Ashar. Muthawif muhajir pun menyebarkan berita kehilangan jamaah di jaringannya. “Tenang saja, insyaallah ibu ketemu, nanti kita semua turut membantu apalagi malam lebih fokus pencarian,“ deg.

Saya kembali ke kamar lemas. Menghubungi kakak dan adik di tanah air mengabarkan bahwa ibu hilang. Kami bertiga berlomba lomba beristighfar seperti pesan yang dokter Chusna dan Ibu Gita sampaikan. Saya pun mulai mual dan pusing karena over thinking.

Tiba-tiba waktu menunjukkan pukul 16.00 waktu Madinah, itu berarti, sudah hampir 4 jam ibu menghilang. “Ya Allah, tolonglah hambamu ini, temukan ibu secepatnya,” rintihku sambil tak henti-hentinya beristighfar.

Baca Juga  Mamaku Pergi sebelum Aku Tiba (2)

Tiba-tiba, Bu Indayati mengunggah foto di grup, bahwa ibu sudah ditemukan. Beliau rupanya sedang di masjid Nabawi, bersama rombongan jamaah Blora. “Alhamdulillah Ya Allah…Engkau mengabulkan doa kami”… aku segera bergegas mengambil ID card dan slayer hijau khas SCM. Aku berlari membawa obat dan memeluk ibu erat-erat sambil menangis. Setelah agak reda, aku segera mengalungkan ID card dan memasangkan slayer SCM. “Ibu jangan jauh dariku ya”. Aku masih terisak.

“Allah mengingatkan Nisa, betapa…kehilangan ibu hanya beberapa jam saja sangat menyiksa. Jaga baik-baik ibunda, perlakukan beliau seperti ratu. Insya Allah keberkahan akan menyertai hidup kita”. Kembali, pesan masuk dari senior di Jogja. Mungkin inilah cara Allah Swt. mengingatkanku agar lebih dekat dengan ibu, agar lebih perhatian kepada ibu.

Saya tersadar awalnya saya merasa betapa repotnya mengurus segala kebutuhan ibu seperti obat obatan, pampers, pakaian dan menuntun pelan pelan karena g kuat jalan.
Ternyata lebih baik kerepotan mengurus ibu daripada kehilangan ibu yang membuat sesak lahir dan batin.

Terima kasih ya Allah. Engkau telah mengingatkanku dengan cara yang indah, di kota yang mulia ini.

Bagikan
Comments
  • Wurry Srie

    MasyaAllah, membaca ini saya tak mampu menahan air mata, Mbk. Tak terbayang andai Ibunda tak ditemukan. Alhmdulillah ketemu.
    Memang cara-Nya begitu halus dalam menegur dan menguji hamba²-Nya.
    Salam hormat untuk Ibu ya, Mbk.

    September 15, 2022
  • MA

    Matur nuwun mbak Nisa sudah menuliskan ini. Sungguh menjadi pengingat bagi saya dan keluarga. 🤍

    September 16, 2022
Post a Comment