f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Mengompos, Cara Kita Menjaga Bumi !

Oleh: Khasanah Sripalupi*

Kalau mendengar kata ‘dapur’, kira-kira apa yang ada dibenak Rahmania sekalian? Sayuran, buah-buahan, bumbu, dan pernak-pernik lainnya. Bagi orang seperti saya yang hobi memasak, maka tidak ada hari tanpa di dapur. Mulai dari masak sampai merenung juga di dapur.

Selain tempat mengolah makanan, di dapur pula sampah rumah tangga diproduksi. Mulai kelihatan ya point pentingnya? Dapur dan sampah rumah tangga, walaupun dapur dapat menghasilkan santapan yang nikmat, dapur juga tidak lepas dari sampah yang dihasilkan pasca memasak.

Ada banyak jenis sampah yang dihasilkan oleh dapur. Mulai dari yang organik sampai yang anorganik. Ada plastik kresek, bungkus bumbu, kertas/karton bungkus makanan, botol plastik dan teman-temannya yang semuanya masuk kategori sampah anorganik. Lalu ada juga nasi dan sayur basi, kulit buah, sayuran busuk, batang sayuran yang tidak terpakai dan lain-lain yang merupakan sampah organik rutin hadir setiap harinya.

Apa yang bisa kita lakukan dengan sampah-sampah tersebut? Sebagai orang yang sering berada di dapur, banyak hal yang bisa kita lakukan di rumah kita untuk memanfaatkannya. Sampah anorganik bisa dipilah dan disedekahkan ke pemulung dan sampah organik bisa diproses sebagai kompos.

Ditangan kita lah sampah rumah tangga dapat dikelola dengan lebih bijak. Lalu, apa Rahmania pernah melihat pemulung mencari-cari botol bekas di tong sampah? Coba sekarang siapkan satu buah wadah besar untuk tempat botol bekas setiap kali kita dapat. Setelah terisi cukup banyak, kasihkan ke pemulung yang lewat. Benda yang tak bernilai bagi kita, ternyata begitu berharga untuk orang lain. Itu satu contoh saja untuk mengelolah sampah anorganik. Ada baiknya juga kita berusaha mengurangi sampah anorganik seperti plastik sekali pakai karena akan sangan lama terurai di alam.

Baca Juga  Ketika “Suara Azan” Membangunkan Pasien dari Tidur Panjang (Sebuah Kesaksian)

Bagaimana dengan Sampah Organik? Maka Mengomposlah

Mengompos sampah organik itu berarti mengembalikan siklus kehidupan. Segala yang berasal dari tanah harusnya kembali ke tanah. Hanya saja, kerap kali kita melakukan hal yang tidak seharusnya kita lakukan. Apa itu? Memutus daur hidup sisa organik dengan mencampur aduk sampah. Ketika ada makanan basi, buru-buru kita bungkus kresek dan masuk bak sampah. Kulit buah pun bernasib sama. Apa yang terjadi dengan sampah tersebut? Sampah organik akan membusuk dan menghasilkan gas meta,n yang jika tertumpuk dan terakumulasi di TPA bisa berpotensi terjadi ledakakan.

Seperti ledakan sampah yang terjadi di TPA kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi tahun 2005 silam (detiknews). Gas-gas metan yang dihasilkan oleh sampah organik terperangkan karena pencampuran sampah. Jika terkumpul dalam jumlah yang besar, sangat mungkin menyebabkan ledakan yang bisa membahayakan warga di sekitar TPA.

Dengan mengompos sisa organik yang dihasilkan dapur, kita mampu melakukan hal yang meringankan bumi dan membawa banyak kebermanfaatan untuk makhluk hidup. Kompos yang kita hasilkan adalah “makanan bergizi” bagi tanaman di muka bumi. Sisa konsumsi kita jika dikelola akan menjadi calon makanan yang akan kita konsumsi.

Mengompos juga akan meminimalisir bau busuk pada bak sampah. Selain itu, mengompos sangat memudahkan ketika kita akan membuang sisa organik. Tinggal masukkan ke komposter, dapur bebas bau dan kita mempunyai calon pupuk kompos yang bisa kita panen beberapa waktu kedepannya. Coba bayangkan, sisa konsumsi kita menjadi hal yang berharga. Tidak hanya berakhir di TPA dan menyebabkan beban bumi.

Cara Mengompos

Mengompos itu mudah dan bebas bau jika kita tau caranya. Berikut ini adalah cara saya mengompos:

  1. Siapkan ember bekas cat ukuran besar
  2. Isi dengan tanah 2/3 dari volume ember
  3. Campur pupuk kandang jika punya, kalau tidak ada, tidak masalah
  4. Masukkan kulit buah atau batang sayuran untuk starter
  5. Dua atau tiga hari berikutnya, boleh masukkan makanan matang yang basi
  6. Jangan lupa potong kecil kulit buah dan sayur dan masukkan daun kering/kertas/tissue bekas sebagai unsur coklat kompos. Fungsi daun kering selain untuk unsur coklat juga sebagai penjaga kelembaban komposter sehingga terbebas dari belatung.
  7. Tulang, duri ikan, dan daging mentah tidak bisa masuk komposter ember (bisa dikompos dengan teknik biopori)
  8. Aduk-aduk setiap kali memasukkan sisa organik ke komposter
  9. Diamkan komopster beberapa minggu jika sudah penuh. Kompos dapat dipanen jika semua sisa organik telah terurai dan berwarna hitam.
Baca Juga  Perempuan, Masa depan dan Loyalitas Pribadi

Prosesnya mungkin terlihat panjang, tapi percayalah, mengompos itu mudah. Mulai saja terlebih dahulu.

*Penulis adalah seorang Ibu Rumah Tangga

Bagikan
Post a Comment