f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
tani

Hei! Bekerjalah dengan Bahagia, Jangan Terpaksa

Beberapa waktu lalu, saat saya melakukan survei lapangan di sekitar daerah penjuru. Di sana saya menemukan beberapa pengalaman yang menyenangkan, meski perjalanannya sedikit melelahkan. Kebetulan tugas saya memang terjun langsung ke kebun-kebun petani untuk mengetahui info kelapa sekaligus menawari petani untuk menjual kelapanya ke pancang sambu di tempat saya bekerja. Begitu kira-kira ringkasnya.

Oya, bagi saya, tugas lapangan memanglah sangat menyenangkan. Bertemu sapa dengan banyak kalangan memang adalah harta perjalanan yang tak bisa didapat sembarangan oleh siapapun kecuali mereka yang menikmatinya. Dan saya menikmati itu tanpa sebuah keterpaksaan.

***

Bekerja sesuai keinginan hati bukankah suatu hal yang menjadi idaman banyak orang? Bukan cuma saya, bahkan hampir seluruh penduduk bumi pasti menginginkan itu. Keterpaksaan adalah hal yang paling nyata hidup seperti di penjara, selain mendzolimi diri sendiri juga merugikan banyak hal karena apa yang kita kerjakan tentu saja kurang maksimal. Umumnya sih begitu.

Oya, mengenai keterpaksaan, saya pernah mendapatinya dari seorang petani dan itu adalah keluh kesahnya sendiri.

Dan keterpaksaan kali ini mungkin agak sedikit berbeda, jika beberapa orang mengalami keterpaksaan hanya karena kenyamanan bekerja tetapi bagi beberapa petani itu adalah menyangkut hidup, tepatnya kebutuhan hidup.Ini sebenarnya menyangkut sumber kehidupan di daerah ini. Tumbuh suburnya kelapa yang membentang sejauh mata memandang tak semakmur yang orang pikirkan, dulu. Begitu yang saya tangkap dari cerita Pak Ogi, petani yang saya temui di kebunnya sendiri.

Lagi-lagi, dengan kata keterpaksaan, saya pun akhirnya ingin tahu langsung perspektif dari petani mengenai hal itu. Jika orang-orang di kota mengenal keterpaksaan tempatnya bekerja pada sebuah instansi maka saya pengin tahu keterpaksaan dari kalangan petani perihal menjalani kegiatan sehari-hari. Toh berkebun juga sebuah pekerjaan yang punya kata kerja banget bukan?

Baca Juga  Menakar Ulang Keadilan: Lelaki, Perempuan, dan Arah Baru Pengelolaan SDM
***

Hmm sebelumnya saya memang sedikit bingung, apa ya yang mau saya tanyakan, sambil duduk dengan Pak Ogi di pondok kecilnya, sambil saya mikir juga mencari ide untuk di ulik sampai akhirnya ke sebuah tema besar, terpaksa.

Ih, banyak mikir, nggak dapet-dapet juga. Langsung saja kali ya, barangkali mengenai pekerjaannya adakah rasa terpaksa yang harus dihadapi jika berkarir menjadi petani? Kebetulan beliau adalah petani yang sukses di bidang kelapa.

“Oya Pak Ogi, bagi Pak Ogi sendiri dari semenjak bergelut di ranah tani ada nggak sih rasa keterpaksaan dalam berkebun kelapa ini?” 

Mendengar pertanyaan tersebut Pak Ogi pun terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan antusias.

“Ya kalau bekerja sih tidak, mau tidak mau sih sebenarnya, kan memang disini berkebun kelapa adalah potensialnya, lain itu nggak ada, dan kalau tidak berkebun kami mau makan apa pula, bisa-bisa kami mati berdiri kalau cuma diam saja,” katanya dengan nada yang bercampur setengah tawa. Aku pun mengumbar senyum sedikit. 

***

“Oya, jika di tanya mengenai kata terpaksa ini saya jadi teringat satu hal, tapi dulu,” katanya menambahi, mendengar beliau melanjutkan, saya akhirnya mengubah posisi duduk untuk lebih khusuk mendengarkan dan menunggu. Tampaknya ada hal yang menarik untuk didengar.

“Dulu, banyak sekali merasa terpaksa untuk hidup menjadi petani kelapa, banyak di antaranya dulu merasa terpaksa untuk berkebun, terpaksa pula merawat dan terpaksa untuk melihat kelapa yang banyak busuk dan bonyok tak menjadi duit,” terangnya dengan muka sedikit kecewa. Lalu melanjutkan.

“Di saat kelapa lagi panen raya kami tak tahu harus berbuat apa, dibiarkan sayang dijualpun harganya tak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Tapi mau tidak mau kami tetap terpaksa menyabit dan menjualnya ke seorang toke yang mau menampung,” terangnya, kemudian ia menarik sebatang kreteknya sebelum akhirnya melanjutkan lagi ceritanya.

Baca Juga  Petani Air Mata

“Waktu itu toke si A itu memang seenaknya saja menentukan harga, berapa dia bilang kami hanya nurut walaupun itu terdengar kurang manusiawi, tapi lagi-lagi ya mau tidak mau, kami terpaksa menjualnya, daripada busuk tidak menjadi duit, lebih baik dijual walaupun hasilnya sedikit,” pungkasnya sambil mengepulkan asap tembakau dari mulutnya.

***

“Tapi itu dulu, sekarang mah sudah beda. Memang semenjak kehadiran PT. Sambu ini mampu membawa perubahan untuk masyarakat. Dan semenjak PT itu ada di situlah petani merasa telah menemukan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Karena apa? PT ini mampu menampung semua hasil panen petani dan dengan harga yang jauh lebih tinggi dan menguntungkan,” tambah Pak Ogi lagi, lalu ia terdiam sejenak, dan beliau terlihat seperti punya kelegaan setelah menceritakan itu.

“Berarti PT Sambu ini memang punya peran penting untuk kehidupan petani ya, pak?” tanyaku lagi kepadanya dengan penuh penasaran.

Mendengar pertanyaan itu, seorang bapak yang sudah mengeriput kulitnya itu pun terdiam sejenak. Lalu akhirnya menjawabnya dengan suara yang lebih keras namun tetap enak terdengar.

“Bukan sekadar peran lagi, dan nggak tahu kenapa, bagi saya dan mewakili seisi penjuru ini. Kehadiran PT Sambu adalah anugerah kepada kami, ia seperti jawaban atas doa-doa petani yang dulunya mengalami hidup dengan keterpaksaan dan kini sudah merasakan kesejahteraan,” pungkasnya dengan sangat serius. Aku pun seperti tergugah dan turut merasakan apa yang beliau rasakan.

“Yang membuat saya paling terpukau adalah dari merek produknya, meski ia membeli dan sudah mengolahnya dengan banyak proses. PT tersebut tidak menamai brand produknya macam-macam. Dan itu jelas diambil dari sebuah singkatan atas nama rakyat. (Santan Kara) yang artinya Santan Kelapa Rakyat dan itu top,” ucap Pak ogi sambil mengacungkan jempolnya. 

Baca Juga  Pentingnya Muhasabah Terhadap Diri Sendiri

Saya hanya bisa mengangguk dan terdiam menyaksikan Pak Ogi dengan penuh kesyukuran itu. Saya pun turut mengiyakan apa yang beliau sampaikan. Hingga akhirnya kami larut dengan obrolan-obrolan lain.

***

Setelah itu saya pun pulang ke MES Pancang, sejauh ini saya telah merasa puas karena sudah banyak berbincang-bincang dengan beberapa petani dan salah satunya yaitu dengan Pak Ogi. 

Dan hari ini, selain saya mendapat sebuah perspektif keterpaksaan dari sudut pandang petani, saya juga baru menyadari bahwa merek dagang Santan Kara itu punya arti yang sangat bersahaja mengandung kejayaan rakyat. Mengenai itu saya tak tahu sebelumnya. Ternyata “Kara” itu adalah singkatan dari Kelapa Rakyat. Aih, saya! Baru tau aja. Atau jangan-jangan saya bekerja karena terpaksa juga. Hihi! 

Setelah semua itu, dari pengalaman-pengalaman tersebut saya pun meyakini bahwa setiap hal memang kerap kali tersuguh rasa terpaksa pada sesuatu yang kita kerjakan. Tapi ya kadang memang nggak ada pilihan, bahkan berkarir sekelas petani pun cukup besar keterpaksaan di dalamnya. Ya emang begitu.

Sesampainya di rumah, tiba-tiba hp saya berdering, dan kulihat di layar itu adalah sebuah pesan whatsapp dari Pak Ogi. Dengan rasa penasaran langsung kubuka.

“Dek, apapun yang kamu lakukan sekarang, kerjakanlah dengan bahagia, jangan terpaksa, karena itu siksa,” tulis Pak Ogi dalam pesannya. Aku pun menutup hp itu dan mulai rela dengan segalanya

Bagikan
Comments
  • mantap gan ceritanya , jadinya pengen beli kebun kelapa :v

    Juli 16, 2021
Post a Comment