f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibu medioker

Perjuangan Ibu-Ibu Medioker Meraih Impian

Saya pertama kali mendengar kata medioker dari jagat sepak bola. Sejauh yang saya pahami, beberapa klub dianggap medioker jika klub tersebut hanya bertengger di klasemen papan tengah atau terkadang sampai di papan bawah. Dalam bahasa Indonesia, medioker berarti menengah atau rata-rata. Istilah ini dapat kita maknai sebagai sesuatu yang tidak bagus namun juga tidak terlampau buruk.

Kalau dalam sepak bola saya mencontohkan klub Valencia dari Liga Spanyol. Kebetulan suami saya adalah Valencianista (nama fan Valencia). Valencia jarang sekali mejuarai liga namun masih eksis mewarnai dinamika Liga Spanyol. Meskipun tidak banyak yang membicarakan tentang Valencia sebagaimana banyak orang membicarakan Manchester United, klub ini juga memiliki banyak pemain yang bertalenta.

Berdasarkan gambaran di atas, istilah medioker nampaknya bisa kita sematkan kepada sesuatu yang maknanya sama: rata-rata. Dalam tulisan ini saya akan menyematkan istilah medioker pada diri saya sendiri. Saya akan membedah seberapa medioker saya yang kini berperan sebagai seorang Ibu. Ibu-ibu yang tidak sekeren Jenifer Bachdim tapi juga tidak seburuk ibu tiri, hehehe. Ibu biasa saja, yang setiap harinya bisa bahagia maupun sedih bersamaan. Yang pengen punya anak sempurna tapi masak makanan sehat untuk keluarga aja masih moody. Ibu yang stress sekaligus bersyukur dengan kehidupannya.

Apa Salah Menjadi Ibu Medioker?

Saya pernah berada dalam fase terpuruk menjadi Ibu medioker. Lagipula, saya sendiri yang menempatkan diri dalam kelas ini. Saya selalu was-was tiap ketinggalan ilmu parenting dari orang lain. Dan saya juga merasa tidak berdaya ‘hanya’ mengurus rumah dan menemani anak. Saya melihat Ibu bekerja sebagai sosok yang independen dan sangat percaya diri. Saya juga melihat Ibu lain yang bekerja di rumah bisa melakukan lebih dari yang saya lakukan selama ini. Tapi saya juga tidak buruk dalam mengasuh anak, juga tidak terlalu malas mengerjakan pekerjaan domestik. Hingga saya sampai pada suatu kesimpulan; apakah hidup saya akan begini-begini saja? Apakah salah menjalani hidup seperti ini?

Baca Juga  Melawan Fatalisme: Mengubah Nasib dan Mengambil Kendali Atas Hidup

Suatu ketika, ada kiriman instagram story seorang teman, yang memposting tentang kebijaksanaan hidup sebagai medioker. Mata saya langsung membelalak dan hati bergejolak. Wah, ternyata ada yang membela para medioker. Batin saya rasanya seperti dipuk-puk, beruntung sekali bisa membaca postingan yang dibuat oleh akun @srl789 dan @calvinchandra ini, pikir saya. Saya masih menyimpan dan mangingatnya, karena ini sangat melegakan. Jadi saya akan membagikannya lagi supaya para pembaca yang umumnya medioker ini bisa relate hahaha. Jangan mengelak, karena saya rasa kalian tertarik membaca tulisan ini untuk menemukan teman yang senasib, kan?

Berdasarkan Kurva Bell yang dishare oleh Mark Manson jika dikaitkan dengan dunia pencapaian, jumlah manusia yang berada dalam low performer maupun high performer masing-masing hanya berjumlah 20%. Kelas low performer biasanya tampil dengan sesuatu yang menyedihkan dan membuat kita prihatin. Sedangkan kelas high performer adalah deretan influencer yang menampilkan kehidupan yang sangat menyilaukan. Lalu, sisanya sebesar 60% adalah para manusia yang memiliki average performer dan kita salah satunya, Sis. Kelas medioker ini memang jarang ditampilkan tapi penghuni kelas ini ternyata yang paling banyak, lho. Berarti aku, kamu, dia hanyalah wong cilik yang hidup dengan baik namun tidak terlalu baik tapi juga tidak nelangsa-nelangsa amat.

Tidak Ada Standar Sebuah Kesuksesan

Lha, misal ada tetanggamu yang jadi tiktoker dengan jumlah pengikut 2M, apakah berarti dia salah satu high performer? Jawabannya, bisa iya bisa tidak. Jika kamu bandingkan denganmu yang bikin konten aja bingung mau mulai dari mana ya bisa dibilang tetanggamu itu high performer. Tapi kalau dibandingkan dengan akun centang biru dengan jumlah pengikut puluhan juta, dia hanya tiktoker yang ‘cukup terkenal’ saja. Maka, sesungguhnya tidak ada yang salah dengan menjadi rata-rata. Karena ada berbagai aspek kehidupan yang tidak mungkin semua orang dapat mencapai kesempurnaanya, karena kesempurnaan hanya milik Allah, kan.

Baca Juga  Semua Bisa Menjadi Guru

Lagipula, tidak ada standar menjadi sukses sehingga memaknai hidup yang baik tidak selalu menjadi yang ‘paling’. Mungkin kamu ingin menjadi Ibu yang paling sempurna, financially independent, enthusiast parenting, atau looks smart dan itu semua berhak kamu impikan, tapi kita perlu membebaskan diri dari ekspektasi hidup yang tidak realistis. Apapun peran yang kamu lakukan sebagai seorang Ibu, meskipun nilainya hanya rata-rata adalah peran yang dibutuhkan oleh keluargamu.

Aku bisa menjadi Ibu rumah tangga yang bermimpi suatu saat nanti menjadi pekerja yang menghasilkan materi. Jika saat ini aku adalah Ibu yang bekerja, aku bisa bermimpi suatu saat memiliki banyak kesempatan membebaskan diriku untuk bersenang-senang. Tidak apa-apa mengakui kelemahan kita dan berusahalah fokus dengan segala sesuatu yang terjadi dalam spektrum dunia kita. Dan pada akhirnya saya rasa tulisan ini semakin membosankan karena kesimpulannya bermuara pada sesuatu yang sudah umum kita ketahui.

Oleh karena itu saya akan memberikan kesimpulan alternatif supaya tidak mengecewakan pembaca. Menjadi medioker itu bukanlah sebuah dosa, bukan pula suatu hukuman. Walau bagaimanapun, ya lebih enak jadi orang diatas rata-rata lah. Kalian pikir, saya tidak ingin menjadi kaya dan hidup bahagia dunia akhirat? Jangan naif menjadi orang yang nrimo ing pandum.

Jadi Rahmania, bangun kembali kekhawatiran dan tunjukkan kehebatanmu. Semoga masih ada sisa keberuntungan yang bisa kita gunakan sebagai shortcut dalam mencapai kenyamanan dunia ini. Setidaknya dengan berusaha kita bisa jadi ibu medioker yang bahagia menurut versi masing-masing. Menjadi bahagia juga butuh usaha, kan? Tapi kalau tidak setuju dengan kesimpulan ini ya tidak apa-apa, namanya juga usaha, xixi.

Bagikan
Post a Comment