f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pola asuh

Narsisme dan Pola Asuh Anak

Beberapa waktu lalu saya melihat seorang ibu menemani anaknya bermain di sebuah wahana permainan. Si anak yang masih berusia balita nampak asyik bermain pancing ikan. Di sampingnya, ada  ibunya tampak siaga mengawasi setiap pergerakan anak.

Tapi ada yang janggal dalam interaksi ibu dan anak tersebut. Si ibu tidak secara langsung berinteraksi badan dengan buah hatinya. Ia tidak benar-benar membersamainya bermain atau bermain bersama. Ia hanya menonton dan mengabadikan momen tersebut dengan gawainya. Sesekali, ia nampak tersenyum sendiri dan sesekali menyemangati anaknya. Tapi ia lebih sering melihat berapa viewer di akunnya.

Perhatiannya tidak fokus. Karena dalam satu waktu, ia memperhatikan akunnya dan anaknya yang bermain. Sapaannya juga tidak hanya kepada anaknya, tapi juga ia tujukan kepada para viewernya. Dan bagitu terus ia lakukan sampai anaknya selesei bermain.

Kalau dengan cara seperti itu, orang tua merasakan kebahagiaan, apakah hal yang sama terjadi pada anak? Apakah anak merasakan bahagia sama seperti ibunya? Bisa saja pada waktu itu anak bahagia. Tersenyum dan senang. Namun, dia senang bukan karena orang tuanya ada untuknya. Melainkan senang karena bisa bermain.

Dan pada waktu yang lama, hal tersebut akan terekam dalam memori anak. Memori yang akan ia ceritakan pada temannya, dan mungkin kepada anaknya kelak tentang bagaimana ia lewati masa kecilnya. Bahwa ia melewati masa kecilnya dengan bahagia. Ya bahagia karena ia bisa bermain, bukan karena orang tuanya menemaninya bermain.

Pola Asuh Orang Tua Pegiat Media Sosial

Era media sosial memang membuat pola interaksi kita berubah, termasuk pola asuh orang tua. Apalagi bagi para orang tua muda, yang sebelumnya aktif menjadi pegiat media sosial. Kebiasaan bermedia sosial ia teruskan sampai berumah tangga dan punya anak.

Baca Juga  Brain Rot dan Ancaman Degradasi Akal

Kebiasaan mencitrakan diri di media sosial bagi sebagian orang, terutama publik figur, atau yang menganggap dirinya publik figur sudah menjadi sebuah kebutuhan dan keharusan, yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Bagi mereka, rasa-rasanya ada yang kurang, kalau tidak memposting setiap kegiatannya di media sosial. Hal semacam ini, bagi sebagian orang yang saya sebutkan tadi adalah salah satu jalan untuk mencitrakan diri di depan umum, mengenalkan ke publik tentang siapa jati dirinya, terutama bagi yang belum kenal.

Tidak ada yang salah dengan mencitrakan diri di media sosial. Selain berguna untuk mengenalkan diri kepada masyarakat, bagi sebagian orang, media sosial bisa mendatangkan penghasilan. Pengikut yang banyak di akun media sosial adalah pasar besar bagi si pemilik akun. Bagi yang cerdik, ia bisa manfaatkan akunnya sebagai lapak jualan barang dan jasa yang ia punya. Atau ia tawarkan akunnya untuk mempromosikan barang dan jasa milik orang lain. Dan itu berbayar.

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, banyak artis yang biasa menghiasi dunia hiburan harus beralih profesi jadi youtuber. Sebagin lagi aktif posting kegiatan dan dagangan di akun sosmed masing-masing.

Tapi yang jadi pertanyaan kemudian adalah, apakah pantas, layak dan dibenarkan bagi orang tua berinteraksi dengan anaknya sedangkan tangannya tidak bisa lepas dari gawai? Anak-anak itu butuh perhatian penuh dari orang tuanya. Apalagi bagi orang tua yang bekerja di luar rumah, tentu ia tidak bisa menemani anaknya seharian penuh.

Pola Asuh yang Tulus

Meskipun lelah dan penat dengan pekerjaan, orang tua harus paham bahwa anak-anak butuh orang tua. Baginya, orang tua adalah tempat menumpahkan seluruh rasa yang ia pendam dalam dirinya, yang tidak ia ungkapkan orang lain. Karena bagi anak-anak, hanya orang tuanya yang mengerti kemauannya dan selalu ada di sampingnya.

Baca Juga  Orang Tua yang Tak Kenal Anaknya

Sibuk dengan gawai saat berinteraksi dengan anak, narsis di depan kamera saat berinteraksi dengan anak dengan alasan mengabadikan momen dengan anak adalah jurang pemisah hubungan anak dan orang tua. Anak tidak lagi leluasa berinteraksi dengan orang tua begitu juga sebaliknya. Karena di antara mereka ada gawai.

Saya tidak dalam rangka menuduh orang tua yang mengabadikan momen kebersamaan keluarga adalah klise dan kepura-puraan. Yang saya tidak setuju adalah sikap narsis di depan kamera dan mengabaikan interaksi yang sesungguhnya antara orang tua dan anak. Jangan sampai kecanduan narsis di media sosial merenggut hubungan orang tua dan anak dalam arti yang sebenarnya. Pola asuh yang didasari atas cinta kasih yang tulis tergantikan dengan pose klise di depan kamera.

Sekali dua kali mengabadikan momen kebersamaan keluarga boleh dan tidak dilarang. Yang berbahaya adalah sikap yang selalu narsis di depan kamera dan memamerkan kedekatan orang tua dengan anak kepada netizen, sehingga melalaikan dari interaksi yang sebenarnya antara oranag tua dan anak.

***

Jadi, alangkah baiknya ketika berinteraksi dengan anak, orang tua tidak disibukkan dengan gawai dan narsis di depan kamera. Taruh gawai ketika anda berinteraksi dengan anak. Tunjukkan bahwa perhatian dan kasih sayang yang kita berikan adalah tulus bukan gimik atau buatan. Supaya dibilang cinta keluarga, lalu kita berpura-pura menunjukkan sikap yang baik di kamera, tapi sebenarnya adalah klise belaka.

Pada tingkat yang lebih akut, anak-anak sudah tidak lagi menganggap penting kehadiran orang tuanya. Baginya, orang tua hanya fasilitator saja. Yang sewaktu-waktu bisa jadi tidak lagi ia butuhkan ketika dia menemukan gantinya. Dan bagi orang tua, kondisi seperti ini sangat mengkhawatirkan, orang tua bisa kehilangan kendali atas anaknya. Maka saran saya bagi para orang tua, bijaklah dalam pola bermedia sosial. Jangan karena media sosial dan narsis, anda kehilangan kontrol atas anak anda.

Bagikan
Post a Comment