Mengulik Kesetaraan Gender Dalam Bidang Ekonomi
Kesetaraan gender mengacu pada hak tanggung jawab dan kesempatan yang sama antara perempuan dan laki-laki. Perbedaan yang sangat terlihat antara perempuan dan laki-laki baik dalam posisi kepemimpinan dan pengambilan keputusan di lembaga publik dan swasta dapat melanggar hak akses yang sama terhadap pelayanan publik. Situasi ini memperlihatkan dan mengembangkan bagaimana kegiatan usaha dapat menciptakan atau memperburuk ketidaksetaraan gender.
Namun, sektor swasta itu sendiri menjadi pendorong perubahan. Terutama dengan bukti yang berkembang bahwa kepemimpinan dan kewirausahaan perempuan berkontribusi penting untuk keuntungan ekonomi dan efektivitas bisnis. Kebijakan lembaga keuangan, baik sebagai pemberi kerja langsung dan sebagai pengaruh di bagian lain dari rantai nilai dapat memiliki dampak yang besar pada pencapaian kesetaraan gender.
Dan kesetaran gender ini juga merupakan salah satu hak asasi kita sebagai manusia. Hak untuk bisa hidup secara terhormat, bebas dari rasa ketakutan dan bebas menentukan pilihan hidup. Dan ini juga tidak hanya bagi para laki-laki saja, perempuan juga mempunyai hak yang sama. Sayangnya sampai saat ini perempuan seringkali dianggap lemah dan hanya menjadi sosok pelengkap. Terlebih lagi adanya pola pikir bahwa peran perempuan hanya sebatas bekerja di dapur, sumur, mengurus keluarga, dan anak sehingga yang mana hal di luar itu menjadi tidak penting.
***
Sekarang perempuan yang berprestasi dan bisa menyeimbangkan antara keluarga dan karir menjadi sangat langka. Karena perempuan seringkali takut untuk berkarir karena tuntutan perannya sebagai ibu rumah tangga.
Pada tema kesetaraan gender, nilai rata-rata bank mencapai 12 persen, yang masih termasuk kurang sekali. Hal ini terjadi karena kebijakan kesetaran gender tersebut masih mengatur internal perusahaan, belum pada kebijakan investasi maupun pemberian kreditnya. Dari 11 bank masuk dalam penilaian, hanya 6 bank yang memperoleh nilai pada tema ini. Akan tetapi pada beberapa bank, sudah terdapat inisiatif kebijakan yang mengarusutamakan kesetaraan gender.
Sebagai contoh DBS yang berada pada peringkat pertama tema ini, dengan perolehan nilai 35 persen. Pada kebijakan internalnya, DBS berkomitmen tidak mentolerir diskriminasi gender dalam bentuk apapun, baik untuk karyawan maupun konsumen. Selain itu, DBS juga menerapkan kebijakan pembayaran gaji yang setara.
Terkait kepemimpinan perempuan, DBS memberikan porsi yang sama baik perempuan dan laki-laki. Pada level manajemen senior, sepertiga posisi jabatan terisi oleh perempuan. Meskipun DBS telah mengadopsi standar internasional seperti IFC Performance Standard. Bank ini tidak secara rinci mengatur bagaimana perusahaan yang mereka biayai perlu menerapkan kesetaraan gender dalam kegiatan operasionalnya.
***
Bank internasional lain, yakni HSBC juga memiliki kebijakan yang cukup jelas mengatur bagaimana keadilan dalam pembayaran gaji tanpa membedakan jenis kelamin, hingga partisipasi perempuan pada level manajemen senior.
HSBC memperoleh nilai sebesar 30 persen. Sementara itu, BRI dan Maybank berada pada peringkat ketiga dan keempat dengan perolehan nilai 20 persen. BRI sebagai salah satu bank nasional cukup progresif dalam pengaturan kebijakan anti diskriminasi dan kebijakan remunerasi dan benefit. Kebijakan tersebut mengatur bagaimana karyawan dan konsumen mendapat perlakuan tanpa membedakan jenis kelamin, suku, agama, maupun ras.
Selain itu dalam hal remunerasi dan benefit, BRI juga menjelaskan bagaimana menerapkan pemberian gaji yang adil dan setara. Sementara itu, Maybank melakukan kebijakan yang cukup progresif dalam meningkatkan partisipasi perempuan untuk meningkatkan kompetensi dan keahliannya melalui program Woman Council. Pada level manajemen senior, partisipasi perempuan di Maybank mencapai 36,5 persen.
BJB dan Bank Danamon pada posisi setelah BRI dan Maybank dengan perolehan nilai 13 persen. Kedua bank menyatakan pembayaran gaji yang adil dan setara antara perempuan dan laki-laki. BJB juga memberikan seluruh stafnya baik laki-laki dan perempuan untuk mengembangkan kompetensi dan keahliannya pada semua jenjang. Akan tetapi, partisipasi perempuan pada level manajemen senior pada bank ini masih rendah, yakni 7,16 persen.
***
Kesetaraan Gender juga tidak hanya penting dari sisi moralitas dan keadilan tetapi juga sangat penting dan juga relevan dari sisi ekonomi. Hal ini disampaikan dalam acara rapat koordinasi nasional (Rakornas) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Banyak perempuan yang tidak memiliki aset atas nama dirinya seperti rumah, tanah, atau perusahaan. Menurut Menkeu, level playing field antara laki-laki dan perempuan berbeda karena kondisi biologis perempuan yang ada saatnya ia hamil melahirkan dan juga menyusui.
Kesetaraan gender akan memperkuat kemampuan negara untuk berkembang, mengurangi kemiskinan, dan memerintah secara efektif. Dengan demikian mempromosikan kesetaraan gender adalah bagian utama dari strategi pembangunan dalam rangka untuk memberdayakan masyarakat (semua orang) perempuan dan laki-laki untuk mengentaskan diri dari kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup mereka.
Pembangunan ekonomi membuka banyak jalan untuk meningkatkan kesetaraan gender dalam jangka panjang. Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan memiliki makna yang penting karena setelah diadopsi maka akan dijadikan acuan secara global dan nasional sehingga agenda pembangunan menjadi lebih fokus. Setiap butir tujuan tersebut menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) dan untuk mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, baik tua maupun muda.
Mahasiswa Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat BPP UAD
