Bagaimana Budaya K-Pop Menghegemoni Remaja Indonesia Hari Ini?
Eksistensi budaya merupakan bagian yang tak terlepas dari suatu masyarakat. Menurut Melville dan Bronislaw bahwa budaya merupakan segala hal yang terdapat dalam suatu masyarakat yang diturunkan secara terus-menerus dari generasi ke generasi. Berbicara tentang budaya, dewasa ini siapa yang tidak mengenal budaya K-pop? Kebanyakan dari kita pasti sudah tahu, bahkan menjadi salah satu kelompok yang berkiblat pada budaya tersebut.
Awal mula masuknya budaya K-pop di Indonesia ditandai dengan munculnya drama Korea sekitar tahun 2000-an; misalnya yang sempat booming adalah K-drama dengan judul Boys Before Flower. Hingga kini, penyebaran budaya K-pop terus berkembang dengan munculnya boyband dan girlband, fashion, serta gaya hidup dari budaya Korea yang sangat menarik perhatian para remaja Indonesia.
Dalam perkembangan dan penyebaran budaya Korea tak terlepas dari berbagai faktor. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan budaya K-Pop masuk dan berkembang dengan cepat di kalangan masyarakat terutama para remaja adalah :
1). Derasnya Arus Globalisasi
Dewasa ini, globalisasi bergulir pada berbagai sektor seperti sosial budaya, ekonomi, politik, hingga pertahanan negara. Arus globalisasi inilah yang menjadi salah satu faktor budaya Pop Korea mulai merambat pada kalangan remaja.
2). Teknologi, Komunikasi dan Informasi yang Berkembang Pesat
Dengan berkembangnya teknologi ini, telah memunculkan adanya media baru yang memungkinkan masyarakat saling terhubung. Dari kemajuan teknologi, komunikasi dan informasi inu lah setiap pengguna media mendapatkan informasi dari tempat yang berbeda dengan sangat mudah di mana dan kapan aja.
3). Hadirnya Platform Media Sosial
Media sosial menjadi faktor selanjutnya yang menyebabkan cepat tersebarnya budaya K-pop di kalangan remaja Indonesia. Dengan menyebarnya budaya K-pop, gaya hidup para remaja pun ikut berubah. Di mana mereka rela membeli barang-barang yang berbau Korea dengan harga yang tak sedikit; misalnya membeli album CD, poster idola Korea mereka, aksesoris, dan juga photocard boyband dan girlband korea. Dari kebiasaan seperti itu akhirnya memunculkan budaya konsumerisme yang tinggi di kalangan remaja hingga menyebabkan tidak terkontrolnya pengeluaran mereka. Menurut Baudrillard, budaya konsumerisme lahir akibat adanya perkembangan teknologi dan globalisasi. Dan tanpa sadar para remaja di Indonesia sudah masuk ke dalam hegemoni budaya luar dan menyebabkan perilaku konsumtif yang kian marak.
Dampak Positif dan Negatif Budaya K-Pop
Segala sesuatu pasti memiliki dampak, baik positif maupun negatif. Adapun dampak positif yang timbul dari budaya K-pop seperti yang tersaji dalam salah satu kanal berita bahwa beberapa dampak positif dari K-pop adalah menambah teman karena tergabung dalam satu Fandom dari sebuah grup misalnya Army yang merupakan kelompok dari penggemar BTS. Selain itu dampak positif timbul dari membudayanya K-Pop juga antara lain menyediakan alternatif fashion yang kekinian hingga mengenalkan jenis-jenis makanan baru bagi para remaja Indonesia.
Adapun dampak negatif yang dijelaskan dalam penelitian yang dilakukan oleh Ida Raeni di tahun 2019, menemukan bahwa terdapat dampak negatif yang timbul dari adanya budaya K-pop, misalnya telah banyak remaja yang akhirnya lebih mencintai budaya luar dibandingkan budaya sendiri. Sehingga sangat dikhawatirkan budaya Indonesia hilang dan digantikan oleh budaya asing, salah satunya budaya K-Pop. Selain itu, gaya hidup dan perilaku-perilaku para remaja juga akan berubah yakni dengan berkiblat pada idolanya dan yang ditakutkan adalah meniru perilaku menyimpang dari para idolanya tersebut.
Perilaku menyimpang yang biasanya dilakukan ialah budaya operasi plastik yang kemudian dianggap hal yang biasa saja dan wajar dilakukan. Adapun dampak lain yaitu menjamurnya budaya pacaran, meminum minuman keras, hingga menggunakan gaya pakaian yang vulgar. Yang mana perilaku seperti itu bukanlah cerminan dan nilai-nilai budaya dan agama.
*
Adapun di kalangan remaja yang begitu fanatik pada idolanya, hingga rela menghambur-hamburkan uang dan bersikap boros. Misalnya dengan rela membeli tiket konser yang mahal dan pergi ke tempat konser tersebut; di mana hal tersebut tidaklah memberikan manfaat jika ada maka itu hanya pada kalangan remaja yang tingkat fanatiknya sudah di atas rata-rata. Para remaja pun akhirnya jatuh dalam kegiatan yang kurang bermanfaat dan mempengaruhi para remaja dalam belajar di sekolah dan kampus.
Maka dari itu, agar tidak mudah untuk terpengaruh oleh budaya asing, kita harus pandai menyaring setiap budaya asing yang masuk. Apakah budaya tersebut sesuai dengan budaya kita, sesuai dengan nilai agama atau paling minimal apakah budaya tersebut akan banyak memberikan dampak positif ataukah negatif. Sehingga, kita dapat membentengi kita di era globalisasi hari ini.
Mahasiswi Ilmu Komunikasi, UMS.
Instagram : alfrisaren, twitter : alfrisaica
