Representasi Body Shaming dalam Film Pendek “Bene”
Film pendek yang dipublikasikan pada tanggal 13 Agustus 2019 melalui channel Youtube milik Televisi UI ini merupakan film yang menceritakan tentang kasus pembullyan mengenai body shaming yang dialami oleh seorang mahasiwa perempuan. Film pendek berdurasi 15 menit 16 detik ini diperankan oleh lima pemeran. Pemeran film ini diantaranya Teresa Avila, Sintya Faradila, Shinta Eka Febriana, Hasna Afifah, dan Ahmad Fitriya. Film pendek ini merupakan Tugas Karya Akhir dari Claudia Clarita dari Industri Kreatif Penyiaran, jurusan Ilmu Komunikasi 2015.
Film pendek ini mengangkat tentang kasus pembullyan body shaming yang sampai saat ini masih sering kita temukan di lingkungan sekitar. Kita kerap kali tidak menyadari bahwa kata-kata yang menurut kita sebagai bahan bercanda akan sangat berbeda anggapan dengan lingkungan lain. Seperti yang kita ketahui, dari film pendek banyak sekali hal-hal fakta ataupun fenomena yang nyata hingga akhirnya hadir sebagai sebuah karya. Sehingga, dari karya tersebut banyak yang sependapat karena kasus tersebut juga sering kita jumpai.
Film pendek yang berjudul “Bene” merupakan nama orang yang menjadi korban pembullyan body shaming teman-temannya yang bernama Sintya dan Dinda. Di kampusnya, mereka kerap berkumpul dan berbincang bersama. Tetapi, perbincangan mereka tidak melulu mengungkit tentang badan Bene yang gemuk serta pipinya yang chubby.
Awalnya, Bene tidak menghiraukan perkataan teman-temannya itu karena bagi Bene masih ia anggap sebagai candaan. Namun, lambat laun candaan Sintya dan Dinda telah menyakiti hati Bene. Saat mereka makan bersama di kantin, Sintya dan Dinda tidak menghabiskan makanannya karena sudah terlalu kenyang. Tanpa pikir panjang, makanan Sintya dan Dinda langsung mereka tumpahkan menjadi satu di piring milik Bene. Karena Bene sakit hati, ia tak kuasa menahan tangisnya dan menuju kamar mandi. Di kamar mandi, Sintya dan Dinda datang, kemudian Kiki pun menyusul. Mereka membicarakan tentang tubuh Bene.
***
Bene pun mendengar semua perkataan yang teman-temannya lontarkan. Sesampainya ia di rumah, karena Bene depresi mendengar ucapan teman-temannya yang mengatakan tentang ukuran tubuh si Bene, ia meminum obat tidur dengan dosis yang sangat tinggi dan tidak sesuai dengan anjuran dokter. Bene pun meninggal.
Rahmat Hidayat, dalam artikelnya yang berjudul Hubungan Perlakuan Body Shaming dengan Citra Diri Mahasiswa yang termuat di Jurnal Keperawatan Jiwa Volume 7 No 1 (2019) menyatakan bahwa perlakuan body shaming dapat berdampak pada pola pikir yang negatif pada seseorang. Stigma yang melekat pada masyarakat jika orang yang bertubuh gemuk itu merupakan orang yang selalu banyak makan, tidak memperhatikan pola makan, serta secara tidak langsung merujuk pada semua makanan yang selalu ia makan dan lahap. Kenyataannya, tidak semua hal tersebut benar adanya.
Bullying merupakan suatu perilaku yang menyakiti orang lain baik secara verbal maupun non verbal. Tentu yang dilakukan secara individu maupun berkelompok secara berulang. Tindakan tersebut sangat berbahaya karena dapat mengganggu psikis dari si korban tersebut. Kita tidak pernah tahu hal apa yang sedang seseorang rasakan.
Sebagai makhluk sosial, seharusnya kita saling mengerti akan keadaan seseorang. Menghargai sesama, mempunyai rasa empati yang tinggi, saling mendukung satu sama lain, serta saling mengerti keadaan satu sama lain. Sampai saat ini, masih banyak orang yang semena-mena membully tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya.
***
Tuhan menciptakan kita dalam kondisi yang sebaik-baiknya. Kekurangan serta kelebihan telah rikan untuk kita sebagai manusia ciptaan-Nya. Tuhan menciptakan segala kekurangan agar kita merasakan bersyukur, dan Tuhan berikan kelebihan agar kita bisa saling menghargai dan tidak merasa bahwa diri kita merasa segala-galanya. Mempunyai badan yang menarik memang dambaan setiap wanita.
Namun, semuanya juga membutuhkan proses untuk bisa menjadi menarik. Fisik pun telah menjadi sorotan pertama yang dipandang. Fisik yang kurang menarik akan mendapatkan persepsi yang lebih buruk, begitupun sebaliknya. Apalagi, untuk seorang wanita yang sangat mudah untuk diserang rasa insecure.
Insecure ini timbul karena salah satu penyebabnya dari lingkungan sekitar. Sehingga, munculnya perasaan tidak nyaman dari dalam diri dan selalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain di sekitarnya. Pada film ini, setiap wanita hanya membutuhkan dukungan untuk setiap perubahan dalam diri mereka. Setiap orang memang sudah seharusnya mempunyai pendapat masing-masing. Namun, mereka juga Tuhan ciptakan akal sehat dan hati nurani untuk berpikir dan merasakan. Kekurangan dan kelebihan sudah melekat pada hidup orang masing-masing.
Perbedaan pun tidak semua orang menyukainya. Seperti halnya mempunyai tubuh yang gemuk. Bukan atas kemauan Bene untuk ia mendapatkan tubuh yang gemuk. Sebagai wanita, kita harus mendukung satu sama lain, bukan untuk menjatuhkan. Karena tubuh yang terlihat sehat dari luar, bukan berarti mental dalam diri itu juga sehat.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Ahmad Dahlan
