f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
sosial

Mendalami Makna Bencana, Alam dan Kehidupan Manusia

Setelah hampir satu tahun virus covid-19 menyertai segala aktivitas manusia; khususnya di wilayah Indonesia. Di awal tahun 2021 kini bencana alam juga berbondong-bondong menerpa meninggalkan kesan sedih bagi segenap warga negara yang ada. Dilansir dari medcom.id, BNPB menyatakan dalam kurun waktu 1-16 januari 2021, tercatat ada 136 bencana alam yang terjadi; dan ada 5 bencana alam yang paling banyak memakan korban.

Dari bencana banjir yang terjadi sebanyak 95 kejadian, tanah longsor 25 kejadian, puting beliung 12 kejadian, gelombang pasang 2 kejadian, dan gempa bumi 2 kejadian. Rentetan bencana yang menimpa wilayah Indonesia mengingatkan kepada segenap manusia untuk Kembali merenenungi kehidupannya.

Pada mulanya sebuah bencana alam merupakan suatu kejadian atau fenomena alam yang lumrah biasa atau netral; kemudian fenomena alam ini bertransformasi menjadi sebuah bencana karena keterlibatan kesengsaraan manusia di dalamnya. Karena keterlibatan kesengsaraan manusia inilah maka fenomena alam tersebut dinilai sebagai sebuah bencana. Sebuah bencana bencana yang besar bukan karena ke spektakulerannya melainkan sebanyak apa keterlibatan kesengsaraan manusia di dalamnya.

***

Dengan demikian apabila terjadi sebuah letusan gunung berapi di sebuah pulau terpencil dan tidak memakan korban jiwa; hal ini adalah fenomena alam dan bukan lagi sebagai sebuah bencana. Secara sederhana bencana alam dapat dibedakan menjadi dua jenis; bencana alam (natural disaster) dan bencana alam akibat ulah manusia (man made disaster).

Bencana alam yang disebakan oleh alam secara alami dapat kita lihat misalnya kejadian letusan gunung berapi; gempa bumi penyebabnya pergeseran lempeng bumi. Dan bencana alam akibat ulah manusia misalnya kejadian ledakan reactor nuklir Chernobyl di Uni Soviet ataupun bencana lumpur Lapindo di Indonesia.

Baca Juga  Menciptakan Lingkungan Ramah Anak

Perlu kita renungkan pula bahwa hakikat dari sebuah bencana alam yang secara garis besar merupakan fenomena alam merupakan sebuah petunjuk (hidayah); karena segala yang ciptaan Tuhan merupakan kebaikan dan mengandung peringatan berupa petunjuk (hidayah). Seorang filosof asal Jerman bernama Leibniz memberikan argumen yang kurang lebih sama; bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar jahat di dunia, segala sesuatu pasti ada alasannya; bahwa seandainya manusia tahu alasan Tuhan; maka manusia akan memahami kebaikan apa yang muncul dari kejadian yang dianggapnya jahat tersebut.

***

Senada dengan argumen di atas; cendekiawan muslim asal Kajen, Pati, Ulil Abshar Abdalla memberikan kalimat satire yang berbunyi “jika Tuhan maha-kuasa, lantas kenapa manusia menderita?” jika tafsiran saya tidak keliru; Al-Qur’an juga memberikan kalimat yang kiranya mengandung artian sama bahwa sesunggunya pertolongan dari tuhan itu sangatlah dekat bagi orang yang di timpa kesengsaraan, bunyi nya demikian, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” QS. Al-Baqarah: 214.

Dengan demikian kita menjadi tahu bahwa sesungguhnya dalam sebuah bencana terdapat sebuah petunjuk (hidayah) dari tuhan yang maha kuasa. Akan tetapi dewasa ini muncul paradigma baru bahwa kemunculan bencana alam itu tidak lagi murni karena alam. Manusia di era ini rasanya sudah mampu untuk memberikan pemahaman tabiat alam, maupun prakiraan dan penanggulan dari sebuah bencana sehingga tidak menimbulkan korban.

Baca Juga  Belajar Menjadi Orang Awam

Dengan demikian keputusan manusia juga memiliki andil dalam sebuah bencana alam. Ketika manusia memilih untuk terus mengeksploitasi hutan dengan menebang pohon tanpa menanam kembali; maka konsekuensi mereka adalah terjadinya banjir dan tanah longsor; pun demikian jika mereka mengambil keputusan sebaliknya mungkin alam akan tetap bersahabat dengan manusia.

Tidak dapat di pungkiri bahwa manusia dan alam memiliki keterikatan yang erat. Alam dengan sendirinya tidak akan memiliki manfaat tanpa adanya manusia begitu sebaliknya manusia tanpa alam pun hanya akan terasa hampa. Maka pantas sebutan bahwa manusia sebagai bentuk mikro dari alam dan alam adalah bentuk makro dari manusia.

***

Atas dasar itu pula sebagai entitas yang memiliki keterkaitan maka dalam memperlakukan alam manusia pun merumuskan prinsip-prinsip moral yang berkaitan dengan etika berinteraksi dengan alam agar terhindar dari hal-hal yang dapat menimbulkan murka alam.

Pertama, penghargaan terhadap alam, prinsip pertama ini memiliki kewajiban untuk menghargai kehidupan bersama. Sikap penghargaan terhadapa ala mini menjadia pondasi utama manusia dalam memperlakukan alam. Alam adalah cerminan diri manusia dengan demikian perlunya manusia memberikan penghargaan bagi dirinya sendiri dan cerminan dirinya sendiri yaitu alam.

Kedua, tanggung jawab tidak dapat dipungkiri bahwa manusia merupakan bagian dari alam dan manusia dalam kehidupannya bergantung dengan alam. bahwa alam memiliki ketergantungan kebermanfaatan oleh manusia dan manusia juga memiliki kebergantungan hidup oleh alam adalah benar adanya; maka dari itu perlunya tanggung jawab manusia sebagai pelaku yang ketergantungan hidupnya oleh alam untuk bertanggung jawab menjaga dan melestarikan alam.

Ketiga, rasa solidaritas. Solidaritas ini timbul dari sikap tanggung jawab manusia sehingga antar manusia dan alam meiliki perasaan yang sama; bahwa apabila salah satu dari mereka mendapat kerusakan maka kedua duanya akan sama meraskan kerusakan yang sama. Dengan solidaritas ini pula menjadi semacam pengendali moral manusia untuk tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan karena dengan merusak alam adalah sama hakikatnya dengan merusak diri sendiri.

Baca Juga  Pembelajaran Mendalam untuk Transformasi Pendidikan Agama yang Lebih Progresif

Keempat, kasih sayang dan kepedulian terhadap alam. Ketiga prinsip di atas tidak dapat kita jalankan apabila tanpa topangan prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam. Bagaimana bisa kita memiliki penghargaan, tanggung jawab dan solidaritas apabila menyayangi alam saja kita tidak. Dengan demikian kasih sayang dan kepedulian kita menjadi kunci utama dalam memperlakukan alam.

***

Dengan prinsip-prinsip itu kiranya dapat membuka sedikit cakrawala pengetahuan kita bahwa alam juga makhluk yang hidup dan setara dengan manusia. Maka mulai saat ini setidaknya kita dapat merenungkan Kembali apakah kita sebagai manusia sudah memperlakukan alam dengan semestinya? Apakah Tindakan yang kita lakukan kepada alam selama ini di dasarkan atas kasih saying atu hanya sebatas nafsu buta semata. “ya tuhan ku, Demi keangungan-Mu dan kemulaian-Mu, Engkau tiada mengeluarkan hamba-Mu yang Engkau inginkan kebaikan baginya dari kehidupan dunia, sehingga Engkau tebus perbuatan-perbuatan dosanya dengan penyakir pada tubuhnya, kerugian pada hartanya, kehilangan anaknya. Apabila masih ada dosa yang tersisa dijadikan ia merasa berat di saat sakaratul maut, sehingga ia menjumpai-Mu seperti bayi yang baru dilahirkan.”

Bagikan
Post a Comment