Pendidikan Rokok Untuk Anak
Saya tidak merokok. Tidak ada masalah juga dengan orang yang memiliki kebiasaan merokok. Ayah saya perokok berat—tidak seperti adik saya yang selalu mengingatkan bahaya rokok—saya malah tidak pernah menyitir sekalipun tentang rokok dalam obrolan kami berdua. Seingat saya, tidak.
Saya pernah coba merokok pada kelas 2 atau tiga 3 SMP kalau tidak salah ingat, tapi tidak saya lanjutkan lagi, karena gak enak. Buat apa memaksakan sesuatu yang tidak saya nyaman dalam melakukannya? Tidak ada orang yang bayar saya juga untuk merokok. Jadi buat apa.
Tapi saya punya anak lelaki sekarang ia kelas 6 SD, bulan September nanti ia berulang tahun yang ke 11. Saya nyaris lupa memberikan nasehat tentang rokok ini sampai akhirnya saya mendapat laporan langsung dari ibunya bahwa anak saya itu coba merokok.
Anak saya ternyata merokok bukan atas dasar keinginannya sendiri, melainkan atas desakan temannya. Anak saya awalnya tidak mau tapi karena dipaksa akhirnya ia coba satu hisap dan batuk.
Istri saya berhasil membuat anak saya bicara tanpa beban, setelah sebelum-sebelumnya kami (orang tua dan anak) bersepakat tidak ada yang disembunyikan. Tujuan utamanya memang untuk hal-hal seperti ini. Sebagai orang tua, kami menginginkan yang terbaik untuk anak tapi kami juga tidak ingin anak kami merasa ia tidak memiliki pilihan apapun dalam hidupnya.
Sampai saatnya itu tiba, ketika ia bisa memilih, memutuskan dan bertanggung jawab atas keputusannya. Kami sebagai orang yang menentukan mana yang baik untuk dirinya setelah sebelumnya melalui proses berbicara, apa ia keberatan atau tidak.
Dua hari setelah anak saya berbicara pada istri, kini giliran saya yang menyampaikan pendapat, khusus mengenai merokok.
“Kalau abang mau merokok,” Saya bilang, “Jangan sembunyi-sembunyi, tapi merokok di hadapan abi.”
Saya bilang sama dia, “Kalau mau jadi lelaki dewasa itu bukan dengan cara merokok, tapi berani mempertanggungjawabkan kelakuan kita. Kalau yang teman-teman abang lakukan, merokok dengan sembunyi-sembunyi, mereka hanya belajar jadi pengecut. Di sebelah mana letak keberaniannya?”
Terakhir, pada malam itu, saya bilang sama anak saya, “Lain kali, kalau teman abang ajak abang buat merokok, bilang sama mereka; kalau berani ayo kita merokok di depan kepala sekolah, di depan guru. Ibu dan bapak saya mah sudah mengizinkan. Kalau kalian sudah diizinkan belum?”
Saya memahami setiap anak lelaki akan melewati fase ini, saya juga mengalaminya seperti yang saya sebutkan di awal tadi. Dan saya kira itu tidak masalah. Merokok bukan kriminalitas, tidak ada yang dipenjara karena merokok. Negara juga membolehkannya.
Namun pada usia berapa seseorang sudah pantas merokok? 11 tahun? 12 tahun? Itu akan berbeda, bergantung pada setiap orang tua.
Apa memang ada yang mengizinkan anaknya untuk merokok pada seusia itu? Saya tidak tahu. Mungkin saja ada, orang tua teman anak saya itu mungkin saja sudah mengizinkan. Tapi kalau melihat anaknya masih merokok sembunyi-sembunyi maka kemungkinan orang tuanya juga belum mengizinkan.
Pertanyaan lain adalah, apakah seorang ayah perokok akan merasa bangga melihat anaknya yang berusia 11 tahun sudah merokok? Saya tidak akan menggeneralisir dengan menjawab tidak, karena bisa saja ada orang tua bangga melihat anaknya merokok. Saya bilang bisa saja.
Memberikan pengertian tentang rokok itu sangat penting untuk anak, sama pentingnya memberikan pengertian tentang seks.
Jujur saja, kedewasaan anak-anak sekarang lebih cepat dibanding dengan zaman saya dulu. Gawai dan internet mempercepat semuanya.
Terkait rokok ini, seorang ayah yang tidak merokok akan memiliki kemudahan dalam memberikan pendidikan tentang rokok pada anaknya seperti yang saya alami sendiri, saya dengan mudah bilang pada anak saya, “Apakah abang lihat abi merokok?”
Dia menjawab, “Tidak.”
Tantangannya adalah ketika dia tidak ingin mengikuti jejak ayahnya. Dia ingin merokok misalnya. Maka tetap saja, hal pertama yang pertama dilakukan adalah, bicara. Tak ada jalan lain, tanyakan padanya kenapa ia ingin merokok, apa yang menyebabkan ia ingin merokok?
Apa hanya ingin sekedar mencoba, bagaimana rasanya. Setelah mencoba, lalu apa selanjutnya? Anda harus persiapkan diri anda sendiri. Kalau ternyata ia menyukai, bagaimana? Anda harus memiliki kesepakatan dengan anak anda.
Kedewasaan dimulai dari sini, dari berbicara.
Bapak Rumah Tangga.
Pemilik akun facebook https://web.facebook.com/taufikrahmantedi/
