f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
estetika

Rabi’ah Al-Adawiyah:Etika dan Estetika Cinta Ilahi (3)

Ajaran dalam dunia para sufi (Tasawuf) berakar dari ajaran Islam tentang diri seorang ihsan. Mungkin karena sebab ini, ajaran-ajaran yang ada dalam tasawuf tidak terlepas dari aspek moralitas.

Meskipun ajaran-ajaran yang dimunculkan oleh para sufi, dari berbagai maqamat dan ahwal, yang berbeda-beda, tetapi ada satu asas yang tidak bisa diperselisihkan, yaitu bahwa tasawuf adalah moralitas-moralitas yang berdasarkan ajaran islam.

Menurut Ibnu Qayyim, beliau mengatakan: “Para pembahas ilmu ini telah sependapat, bahwa tasawuf adalah moral. Dan Al-Kattani juga berkata: “tasawuf adalah moral. Barang siapa yang di antara kamu semakin bermoral, tentu jiwanya akan semakin bening.

Aspek Etika Dalam Cinta Ilahi

Moral yang dimaksudkan di atas, tentu saja adalah moral yang baik dan sesuai dengan syariat islam. Dan pada dasarnya manusia mempunyai, kecenderungan untuk berpihak kepada kebaikan bukan kepada keburukan. Moral (akhlak) sebenarnya merupakan orientasi utama dalam agama, sehingga ada yang menyebutkan bahwa agama adalah moral.

Moral antara dia dengan Tuhan, moral dengan dirinya sendiri, antara dia dan keluarganya, dan moral antara dia dan masyarakat. Pada awal perkembangan tasawuf, para zahid cenderung merumuskan model moral antara hamba dengan Tuhannya.

Kalau kita menelitik pada historisnya, di antara latar belakang kehidupan asketis adalah terjadinya berbagai model kejahatan dan keburukan. Berawal dari sini, para zahid memutuskan untuk menentang keburukan-keburukan itu.

Keburukan-keburukan yang itu bertentangan dengan jalan keimanan terhadap Tuhan. Keimanan kepada Tuhan yang berisikan kebaikan-kebaikan. Maka para zahid pun merintis jalan kepada Tuhan.Manusia saat itu, telah jauh dari yang namanya kebaikan. Sehingga para zahid menyadari bahwa yang masih tetap dalam kebaikan hanyalah sang sumber kebaikan, yaitu Tuhan.

Baca Juga  Buya; Kisah Asmaranya dan Sosok Wanita Setia di Balik Kesuksesannya

Muncullah bermacam-macam maqamat dan ahwal, yang semuanya merupakan bentuk- bentuk moral kebaikan kebaikan yang menghubungkan hambah dengan Tuhan-Nya. Termasuk di antaranya Mahabbah Ilahi.

Salah satu sebab munculnya rasa cinta kepada Allah, menurut Al-Ghazali, adalah kecintaan orang kepada yang berbuat baik kepadanya. Seseorang akan mencintai sesuatu karena itu telah memberikan jasa, membantu, ataupun menolongnya.

Sehingga hanya Tuhanlah yang paling pantas mendapatkan cinta dan dicintai. Tuhan pantas dicintai karena hanya Tuhan yang memenuhi syarat sebagai sumber kebaikan, yang berwibawa, dan berkuasa untuk memerintahkan berbuat baik serta mampu melakukan segala kebaikan.

Dalam Islam, melalui Al-Qur’an, Tuhan menyebutkan diri-Nya dalam berbagai bentuk kebaikan, yang tertulis dalam Sembilan puluh Sembilan nama baik Allah, yang dirangkaikan dengan nama Asma al-Husna (nama-nama terbaik).

Tuhan memiliki derajat yang paling tinggi atas setiap kebajikan dan kesempurnaan, dan tentunya terbebas dari segala kesalahan, kerusakan, keburukan, dan kekurangan. Selain itu, Tuhan juga memiliki sifat yang luhur yang merupakan penetapan dari kesempurnaan dan keagungan Ilahiyah-Nya, dan mustahil memiliki sifat sebaliknya.

Aspek Estetika Dalam Cinta Ilahi

Ajaran cinta Ilahi yang dirintis oleh Rabi’ah Al-Adawiyah sangat erat hubungannya dengan apa yang disebut dengan keindahan (estetika. Ditambah lagi, kenyataan cintanya disampaikan dalam bentuk syair yang indah, yang merupakan dasar pembangunan kejayaan seni sastra dalam islam, khususnya sastra sufi.

Menurut Al-Ghazali mencintai keindahan adalah watak manusia. Apabila telah tetap bahwa Tuhan itu indah, secara otomatis Allah pasti akan dicintai oleh orang yang telah terbuka keindahan dan keagungan-Nya.

Keindahan Tuhan telah terbuka di depan mata hati Rabi’ah. Sebagaimana yang telah tergambar dalam kisahnya ketika tukang pembantu Rabi’ah mengajaknya keluar rumah melihat keindahan alam semesta, Rabi’ah menolak dan mengajak pembantunya masuk ke dalam rumah.

Baca Juga  Fatma Aliye: Sastra, Islam, dan Feminisme

Rabi’ah berkata: “Lebih baik engkaulah yang masuk kemari, dan saksikanlah sang pencipta itu sendiri. Aku sedemikian asyik menatap Sang Pencipta sehingga apakah peduliku lagi terhadap ciptaan-Nya.”

Menurut Rabi’ah, estetika hanya dapat ditemukan oleh orang-orang dalam dirinya mempunyai pengalaman yang bisa mengenali wujud bermakna dalam suatu benda atau karya seni tertentu dengan getaran atau ransangan keindahan.

Manusia tidak dapat dengan mudah mendapatkan getaran keindahan. Estetika berkaitan dengan kelembutan perasaan. Karena itu untuk dapat merasakan getaran keindahan, seseorang harus mempunyai perasaan lembut dan halus.

Menurut Ibrahim Basyuni, Rabi’ah lembut dan halus perasaannya karena separuh hidupnya telah dijalani dengan bermain musik seruling. Dan seruling adalah alat musik yang sangat lembut, yang bisa mengantarkan jiwa dan menggerakkan hati sampai ke puncak perasaan.

Dengan kelembutan dan kehalusan perasaannya itu Rabi’ah dapat mengembangkan ajaran-ajarannya dalam bentuk syair-syair yang indah nan mempesona, sehingga mencapai tujuan utamanya. Keindahan Tuhan termasuk sebagai objek cinta Rabi’ah. Dan sejak masa Rabi’ah al-Adawiyah itulah cinta Ilahi menjadi objek utama dalam puisi. Dan sejak masa Rabi’ahlah banyak para sufi yang mengubah dan mendendangkan puisi, yang mereka pandang sebagai salah satu jalan dan keadaan rohaniah. Wallahu a’lam

Bagikan
Post a Comment