f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Soe Hok Gie

Soe Hok Gie dan Nasib Aktivis Kini

29 tahun setelah ia meregang nyawa, dentum suara reformasi bergolak di Jakarta dan daerah-daerah yang lain, Soeharto, Presiden yang tak lepas dari kritiknya itu mundur dari kekusaan. Reformasi pada perjalanannya tak begitu powerfull untuk merubah keadaab kebangsaan secara radikal. Tiba waktu kemudian, para aktivis yang getol melawan kekuasaan itu kian tua usianya, tua pula pemikirannya.

Mereka masuk dalam pipa kekuasaan, sebagian lainnya pula sibuk mengisi perutnya elewat pembangunan perusahaan-perusahaan. #reformasidikorupsi, demikian ujaran para aktivis mahasiswa belakangan.

Belakangan, aktivis kembali memunculkan dirinya di ruang publik, mereka-mereka adalah anak kandung reformasi, para mahasiswa yang berada pada kisaran usia 22 tahun. Mereka, dalam ruang publik baru tiba dalam semangat aktivisme yang mudah merekah meski tetiba waktu mudah pula layu. Buah dari demonstrasi yang ribut di seluruh penjuru daerah itu menghasilkan artis, ada yang bahkan kini sudah jadi selebgram dan promotor produk pemasaran.

Apa gerangan yang hendak saya nyatakan?. Kita kehilangan  bukan saja tubuh gagah Soe Hok Gie, tapi integritas, tabiat dan konsistensi intelektual dan aktivismenya di jalan pergerakan mahasiswa. Kehilangan itu tepat menjadi sebuah permenungan kita dewasa ini, di bulan Desember ini. lanjutnya, barangkali tabiat Soe Hok Gie dapat menjadi semacam sinar tentang kemana sebetulnya arah intelektualisme kita.

Soe Hok Gie Yang Kritis

Soe Hok Gie memang aktivis yang tajam kepada penguasa pada zamannya, Soekarno. Pada awal tahun 1963, sjumlah kebutuhan pokok masyarakat kian melonjak tajam. Kapitalisme kian rakus memakan hak rakyat. Gie tampil segera, menurutnya itulah saat tepat untuk mengatakan “tidak!” pada kebijakan Soekarno. Gie ikut terlibat dalam demonstrasi, bahkan mengkerangkai aksi dalam wujud long march.

Baca Juga  Kesetaraan dalam Literasi Digital

“Sebagai manusia saya kira saya senang pada Bung Karno, tetapi sebagai pemimpin, tidak!”. Gie benar-benar memuncak. Ini hanya satu kritik dari kritik lainnya. Hal lain misalnya di kritik oleh Gie kepada Soekarno untuk menggambarkan suasana Istana kala itu:

“Sekretaris pribadinya yang berkebaya ketat dengan buah dada yang menggiurkan. Terus terang saja aku melirik padanya, padahal dalam hal ini aku biasanya acuh tak acuh. Memang dia cantik, tetapi aku dapat membayangkan betapa korotnya hidup perkelaminan disini”

Gegap gempita penurunan Soekarno pada kisaran 1967 tak lantas membuat Gie merasa layak untuk melahap buah perjuangan perlawanannya. Ia bahkan tak ingin sebagaimana aktivis lainnya: meminum racun kekuasaan yang berpoles madu.

Transisi menuju pemerintahan baru turut menyeret mahasiswa untuk masuk dalam gelanggang kekuasaan, kecuali Soe Hok Gie, alih-alih terlibat, ia malah mengkritik piliah rekan-rekannya itu. Menurutnya, para rekannya itu telah terpapar silau kuasa. Gie terang-terangan menyebut sebagain besar aktivis KAMI ialah tokoh-tokoh yang hidup mendekati umur 30 tahun dan sering tidak tidak naik kelas karena jarang kuliah. Mereka, menurut Gie bukan lagi Mahasiswa yang berpolitik, tetapi politikus yang punya kartu mahasiswa.

Nasib Aktivis Kini

Tidak jauh-jauh dari kritik Soe Hok Gie, para aktivis yang mengisi pergolakan intelektual di kampus-kampus acapkali adalah mahasiswa yang sekadar menumpang posisi untuk posisi yang lebih mentereng lainnya. Hal lain yang harus menjadi kajian kritis kita dewasa ini ialah, para aktivis mahasiswa acap terjebak dalam kritisme akut pada pemerintah sementara seringkali abai untuk mengkritik diri dan organisasi dalam kampus.

Tabiat tersebut bukan tabiat seorang Soe Hok Gie, ia selalu melancarkan dua kritik sekaligus: mengkritik pemerintah juga mengkritik mahasiswa. Tetapi bukan karenanya, ia tak ikut dalam perjuangan mahasiswa. Soe Hok Gie jauh dari tabiat aktivis pendemo yang tetiba selesai demontsrasi dijalankan, kritikpun jua usai. Ia bukan demonstran yang tersipu euforia demonstrasi.

Baca Juga  Omnibus Law Tidak Meliburkan Pandemi

Simpulnya, gerakan aktivisme mahasiswa belakangan menunjukkan: satu, silang sengkarut posisi lepas demonstrasi usai, tentang siapa sebetulnya yang akan diundang untuk tampil di televisi. Dua, mereka pendemo yang menjadi singa di jalanan tapi kucing di kampus. Padahal semestinya, pergolakan di luar kampus harus tetap didialogkan di dalam kampus.

Desember, Gie dan Masa Depan Aktivis

Setidaknya Gie layak dikenang dalam dunia intelektual karena: 1) daya analisisnya yang kuat, 2) integritas pribadi yang tidak mudah goyah, 3) independensinya. Ia tak mengkritik sebagian kelompok. Dari dasar analisisnya ia berani mengkritik apa saja yang disangkanya bengkok.

Desember ini, purnama yang paling tepat untuk mengenang perjalanan hidup beserta pemikiran-pemikiran Gie untuk memberi petunjuk masa depan aktivisme. Ke depan, aktivis mahasiswa jangan terjebak euforia demonstrasi, melainkan tetap harus kembali ke kampus unutk menajamkan daya analisis. Kita tahu, ada banyak ragam problematika abu-abu yang harus kita candra dalam logika analisis yang kuat di hari-hari mendatang.

Aktivis mahasiswa juga harus memiliki integritas pribadi, rekam jejak yang baik, jangan mudah terombang-ambing oleh goda kuasa dan tawaran ekonomi. Dalam hal kritisme, aktivis mahasiswa tidak saja harus berani mengkritik pemerintah, namun juga mengritik tubuhnya: aktivisme mahasiswa itu sendiri. Demikian agar perjalanan Mahasiswa kebal, bukan bebal.

Bagikan
Post a Comment