f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mahasiswa

Sesama Mahasiswa Mbok ya Toleran

Pada suatu siang di Gedung Utama Kampus Mewah (bacanya: mepet sawah) terdengar letupan suara bak prajurit Denjaka anyaran yang lolos tahap penyaringan. Di sudut ruangan gedung itu segerombol akademikus senior melingkar membahas ngalor-ngidul makna lagu-lagu Iwan Fals dan kaitannya dengan Fenomena Sosial periodesasi ’80 hingga ’90-an, sementara di sudut yang berlawanan segerombol mahasiswa awam tengah membahas sejarah Filsafat Klasik hingga Modern, di lain sisi lima mahasiswa ke-Islaman bergerombol pakai baju putih-putih sedang membahas perbedaan empat mazhab besar, sedang satu orang sisanya cuma mempunyai sosok Emha Ainun Nadjib sebagai sumber referensi primer di kepalanya, hingga beberapa akademikus eksentrik tengah medingkrang sambil membahas perubahan radikal Ten Haag memasukkan Harry Maguire di babak kedua dan keputusan ciamik De Gea dalam sejumlah momentum. Para mahasiswa (yang senang disebut sebagai akademisi) itu keberadaannya dikooptasi satu organisasi besar yang saat itu tengah riweh menggelar diskusi besar di gedung utama.

Narasumber utamanya disambut dengan riuh kemudian mengucapkan beberapa patah kata yang substansial bagi para peminatnya. “Mahasiswa itu lazimnya ya berorganisasi. Berorganisasi adalah cara memanfaatkan waktu terbaik. Karena mahasiswa itu membutuhkan dua orientasi kemampuan: hardskill-nya oke, softskill-nya oke. Jangan jadi mahasiswa kupu-kupu (akronim kuliah pulang-kuliah pulang), sudah bayar UKT mahal-mahal justru naungan-naungan organisasi di kampus tidak dimanfaatkan.” Kemudian diteruskanlah ceramah itu hingga ke titik, “Mengikuti organisasi itu harus maksimal. Paling tidak pernah menjadi partisipan dalam sejumlah lomba. Jangan hanya ikut-ikutan dengan motif hanya ingin mendapatkan sertifikat saja. Contoh Mbak Rima, beberapa kali ikut lomba dan juara. Jadi, ini adalah cara bagaimana memanfaatkan waktu dengan baik. Karena kalian semua yang ada di sini adalah para generasi penerus bangsa.”

Baca Juga  Menuju Kehidupan New Normal

Salah satu mahasiswa yang ada di ruangan itu sontak berdiri dan meninggalkan ruangan. Salah satu rekan yang tadi sempat nimbrung diskusi tentang perbedaan empat mazhab bertanya, “Mau ke mana?”

Si pemuda yang hendak keluar lalu menjawab, “Kalau ikut cara berpikirnya pemateri itu, artinya aku bukan termasuk generasi penerus bangsa. Karena yang termasuk adalah kalian-kalian ini, yang ikut organisasi. Dari tadi kan aku cuma penyusup di sini, aku ikut kalian biar bisa izin kelas. Sudah ya, stand pociku sudah waktunya buka.”

Organisasi Kampus dan Organisasi Diri

Dalam sub-judul singkat tersebut, mana yang lebih esensial? Ketika para promotor organisasi luluh-lantak di jalan sambil meneriaki visi-misi dan riwayat prestasi para kandidat modelnya, hal itu mengubah, atau paling sedikit membelokkan cara pandang mahasiswa anyaran. Bahwa sepertinya sangat penting untuk menjadi salah satu bagiannya. Atau kepikiran, cocok nih, buat mengisi waktu luang, dan mungkin saja termotivasi karena melihat pamflet-pamflet besar yang gambarnya adalah foto para anggota yang pernah menorehkan prestasi. Akhirnya beberapa mahasiswa mulai berduyun-duyun mengurus administrasi keikutsertaan.

Organisasi kampus adalah material konkret untuk para mahasiswa yang kesulitan mencari tahu di dalam dirinya apa yang harus dilakukan selagi senggang. Karena pemasukan tiap bulan lancar, perkiraan tanggungan hanya dari dosen kelas saja, kiranya apa hal lain yang bisa dilakukan? Ya, berorganisasi. Akhirnya, begitu sudah menyelam di organisasi dan sudah mengalami tahap atau level maniak organisasi, beberapa mulai akrab dengan idiom, “Mahasiswa kok, kupu-kupu”.

Ikut dalam organisasi di kampus itu penting, sepanjang itu relevan dengan niat yang baik. Karena yang paling primer itu bukan organisasi kampusnya, tapi bagaimana mengorganisasi diri. Kalau Anda adalah organisatoris aktif tapi begitu turun ke jalan (demo) yang anda lakukan adalah sambil menjarah ruko-ruko, lebih baik jadilah mahasiswa kuliah ngopi-kuliah ngopi (kupi-kupi). Kalau anda adalah mahasiswa yang begitu selesai kelas lantas membuka stand teh poci, maka jangan keluarkan uang anda sepeserpun hanya demi mendapatkan sertifikat organisasi. Sekali lagi, ini bukan mengenai objek organisasi kampus yang disinggahi, melainkan bagaimana metode masing-masing dalam organisasi diri. Itu yang paling penting.

Baca Juga  Perkuliahan Daring: Produktif atau Kontraproduktif?

Apabila anda memilih untuk tidak menggerus keuangan orang tua anda, maka kalkulasi keikutsertaan organisasi juga anda pertimbangkan dengan baik. Kalau ada organisasi yang melazimkan melakukan sesuatu tanpa keluar uang, maka bisa anda ikuti, kalau ada. Tapi jangan lantas begitu ikut organisasi tersebut lalu mengatakan pada mahasiswa non organisatoris sebagai mahasiswa kupu-kupu. Karena anda tidak tahu aktivitasnya, tanggung jawabnya, beban moral, dan karakter personalnya.

Menjadi mahasiswa ‘organisatoris’ itu harus memahami bahwa Islam itu Rahmatan Lil Alamin untuk semua manusia. Bukan untuk mahasiswa yang ikut organisasi saja. Kalau mahasiswa organisasi dengan riwayat sejumlah prestasi, meremehkan mahasiswa kuliah pulang yang sebenarnya bekerja, maka sebaiknya pendidikan itu tidak diberikan sama sekali. Bukankah Allah Swt., ngendikan : wa min dabbatin fil-ardhi illa ‘alallahi rizquha wa ya’lamu mustaqorroha wa mustawda’aha kullu fi kitabim mubin (Qs. Hud [11]: 6).

Mungkin anda berpartisipasi pada sejumlah kegiatan organisasi dan menjadi populer karenanya, tapi tidak tahukah Anda di bagian sudut kelas anda, duduk seorang mahasiswa cengengesan yang terkadang tidur saat kelas karena setiap malam kerja hingga larut demi bisa menjaga pola makannya esok pagi? Bukankah Allah Swt., menjamin rezeki atau jalan bagi setiap hamba-Nya min haitsu la yahtasib? Bukankah lebih baik toleran dengan orang lain pada sesuatu yang sebetulnya tidak kita ketahui betul? Tanpa perlu menjustifikasi dan mendiskriminasi. Sesama mahasiswa itu mbok ya toleran. Karakter dari mahasiswa kebanyakan itu ditentukan dari level finansial orangtua.

Kesimpulan dari tulisan ini bukan terletak pada mana yang lebih baik, ikut organisasi atau tidak. Melainkan pada sistem mengorganisasi diri. Bagaimana pertimbangan mengikuti organisasi, dampak intelektual, emosional, dan orientasi teknikalnya juga harus jelas. Karena mengikuti organisasi, manfaatnya juga banyak, sepanjang anda juga berpartisipasi secara optimal. Akan tetapi, jangan sampai ketika anda sudah mengikuti organisasi, lantas meremehkan potensi atau metode organisasi diri orang lain yang tidak ikut organisasi. Bayangkan apabila semua sibuk organisasi, lantas siapa yang jualan nasi pecel, siapa yang lantas melakukan improvisasi makanan dan minuman di pinggiran jalan besar? Semua serba dinamis dan dialektis. Dan percaya Allah Swt., menjamin semua hambaNya. Tugas kita paling sederhana adalah dengan tidak menjustifikasi orang lain.

Baca Juga  Menjadi Single Parent yang High Quality

Pesan: “Apabila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali”- Tan Malaka.

Bagikan
Post a Comment