Studi Retorika: Pembelajaran Penting Pra-Nikah
Studi pra-nikah tidak jauh beda dengan studi Ilmu Fisika di mana bisa diklasifikasikan menjadi dua: studi teoretis dan studi empiris. Misalnya dalam Ilmu Fisika, sumbangsihnya terhadap konsep Optik dan Cahaya. Apabila kita bicara tentang optik, tentu tidak terlepas dari cahaya. Alat optik selalu bekerja dengan peran cahaya. Dari segi teoretis, cahaya merupakan energi berbentuk gelombang elektromagnetik yang kasat mata dengan panjang gelombang sekitar 380 hingga 750 nm. Cahaya adalah gelombang, elektromagnetik (tidak memerlukan medium) untuk merambat, sehingga cahaya dapat merambat tanpa memerlukan medium. Ini adalah teori. Dan teori itu diaplikasikan pada sesuatu yang sifatnya materil yang disebut optik. Utilitasnya bisa dilihat melalui terciptanya kaca mata (inilah yang empiris).
Studi pra-nikah pun demikian. Perlu adanya studi teoretis yang diorientasikan pada kebaikan empiris. Salah satu studi teoretis itu adalah retorika. Dalam artikel ‘Pernikahan Bukan Sekadar Menyatukan Cinta’ yang diterbitkan oleh Rahma.id pada tanggal 24 bulan Maret lalu, bisa dilihat bahwa salah satu metode paling esensial untuk memahami bahwa bagaimana membangun cinta, bagaimana menumbuhkan rasa saling percaya (bahkan cara mempertahankan) yakni adalah melalui retorika. Studi retorika ini sangat penting untuk diasah karena menyangkut anasir kompleks dari hubungan. Contoh kecilnya sederhana.
“Bagiku, istriku adalah perempuan tercantik sedunia,” kata seorang laki-laki.
“Bagiku pun begitu. Suamiku adalah laki-laki tertampan sedunia,” balas di perempuan.
Meskipun ini terkesan template, tapi percakapan seperti ini sangat perlu diucapkan dengan pasangan.
Karena barangkali kedua orang itu benar. Bahwa ukuran cantik dan tampan bersifat subjektif, yang ditentukan berdasarkan ukuran pribadi masing-masing. Apalagi diucapakan ketika tengah kasmaran, istilah klasiknya. Nah, inilah yang dimaksud dengan studi retorika. Sekalipun frasa retoriknya tidak memenuhi unsur logis yang objektif, paling tidak kalimat itu sesuai dengan keinginan hati pasangan kita yang berujung pada harmonisasi hubungan.
Dalam sebuah hubungan, studi retorik ini juga melatih resistensi. Siapa yang menyangka bahwa pujian atau rayuan seperti di atas akan konsisten seiring berlalunya waktu? Betapapun, kondisi kasmaran manusia itu sifatnya dinamis. Seseorang (pasangan) akan kembali dalam kondisi rasionalnya di mana ia akan menemukan ukuran-ukuran yang lebih objektif dalam memandang pasangannya. Dan pada ketika itulah ia mungkin akan berkata lebih jujur, “Istriku adalah perempuan paling cantik di antara perempuan yang mau nikah denganku,” atau “Suamiku adalah laki-laki paling tampang di antara laki-laki yang melamarku.”
Studi retorika dalam hubungan, bisa melatih kita untuk lebih jauh memahami konteks. Bahwa bagaimana agar tidak terlalu terbawa perasaan negatif terhadap ucapan pasangan kita yang terkesan menyindir atau meremehkan. Dan bahkan menganggap kalimat di atas sebagai sebuah gurauan semata. Karena kalau kedua pasangan itu terlatih dalam bercakap-cakap satu sama lain, pasti ia akan mengatakan bahwa, “Seberapa banyak orang itu, pada akhirnya aku lah yang kau pilih akhirnya. Ini adalah kemenanganku. Akulah pasanganmu yang sebenarnya.”
Sindiran atau ujaran yang terkesan meremehkan itu tidak bisa diprediksi asbabun nuzulnya. Bisa terjadi secara tiba-tiba atau memang struktural. Tapi, dengan upaya melatih retorika, sindiran yang tiba-tiba atau struktural itu, bisa dengan mudah diatasi. Misalnya, ketika seorang pasangan (laki-laki) mengatakan secara tiba-tiba, “Duh, kamu jadi kurus banget” (Kalimat ini bisa masuk dalam kategori body shaming). Tapi sebagai pasangan (perempuan) yang baik, tidak seharusnya membalas ucapan itu dengan, “Ya, sudah, cari aja yang berisi sana.” Terlihat bahwa kedua pasangan ini tidak terlatih dari segi retorikanya sama sekali. Sebab, orang yang terlatih dalam hal retorika, sebisa mungkin tidak menjatuhkan mental dan perasaan pasangan melalui ucapan yang sarkastik. Sebaliknya, bagi pasangan yang menerima perkataan itu, tidak lantas membalasnya dengan umpan balik yang terkesan melawan. Dengan seringnya melatih retorika, pernyataan yang diucapkan oleh laki-laki itu tidak akan diterjemahkan secara negatif. Karena kalau ia bicara tentang fakta, apa salahnya?
Dalam Al-Qur’an pun disebutkan bahwa:
Tuhan yang Maha pemurah. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. (Qs. Ar-Rahman [55]: 1-4)
Ayat ini jelas menunjukkan bahwa komunikasi adalah fitrah manusia. Di mana potensi komunikasi yang baik bisa diasah berdasarkan dengan niat-niat yang toleran untuk meminimalisir pertengkeran dengan orang lain. Dan pengasahan atau pelatihan komunikasi tersebut dinamakan retorika.
Kebiasaan melatih retorika dengan pasangan, bisa berujung dengan keakraban yang mendalam. Baik secara rasional dan emosional. Pasangan yang terlatih nuansa retoriknya, cenderung mudah bergurau, dan sedikit bertengkar. Unsur empiris ini yang dimaksud dalam artikel Zubairi, bahwa memang bukan sekadar menyatukan cinta, tapi bagaimana upaya mempertahankannya. Kalau ditanya, bagaimana menyatukan cinta dan mempertahankan cinta? Ya, dengan cinta. Dan cinta itu sendiri bisa ditumbuhkan melalui retorika. Kemampuan retorika yang baik, akan berujung pada harmonisasi yang senantiasa menjaga mawaddah war-rahmah.
Daftar Pustaka
Agnes Renostini Harefa, “Peran Ilmu Fisika dalam Kehidupan Sehari-hari”. Jurnal Warta Edisi: 60 (April 2019)
Ketika aku menulis, aku bukan lagi Roy Widya Pratama
