f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
untuk demonstrasi

Mahasiswa, Bukan untuk Sekedar Demonstrasi

Aksi demonstrasi adalah simbol yang melekat bagi mahasiswa. Dapat kita katakan, hampir setiap demonstrasi baik dari skala besar maupun kecil di negeri ini merupakan inisiasi dari mahasiswa. Berbagai idealisme serta ideologi yang tertanam dalam jiwa, diikuti wawasan serta pikiran-pikiran radikalnya. Berbekal tekad menjunjung keadilan dan kebenaran, mampu memantik keberanian mahasiswa untuk turun ke jalan dan membawa perubahan.

Pemikiran, pergerakan, dan semangat persatuan adalah landasan setiap lika-liku kehidupan para mahasiswa khususnya bagi aktivis kampus.

Tak jarang kita menemukan begitu banyak dari mereka yang mengorbankan liburan sampai perkuliahan demi mempertahankan idealismenya. Sering juga kita temui banyak dari mereka yang menjadi mahasiswa abadi di kampusnya, menjadi kelelawar yang hidupnya di malam hari untuk konsolidasi dan pulang di pagi hari. Ada pula yang IPK-nya membuat kita ‘tepok jidat’ ketika mendengarnya

Agent of change dan social control ialah gelar yang tersemat pada setiap individu mahasiswa sejak mereka di ospek dan secara simbolik gelar itu dari tahun ke tahun diberikan oleh senior untuk para junior.

Kembali pada topik demonstrasi, tidak akan ada asap jika tidak ada api. Begitu juga demonstrasi, tidak mungkin ada demonstrasi kecuali memang ada problematis negeri. Apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak.

Akan tetapi, demonstrasi bukanlah satu-satunya ladang perlawanan atas hal tersebut. Melainkan lebih daripada itu. Berbagai isu yang saat ini hangat diperbincangkan pada skala nasional maupun internasional perlu mendapat respon mahasiswa.

Fungsi Perubahan Mahasiswa

Fungsi social control dan agent of change yang tersemat pada mahasiswa menuntut peran serta mahasiswa di segala lini kehidupan masyarakat. Dengan demikian, khususnya bagi mahasiswa, seharusnya ketika melakukan demonstrasi tidak terlena dengan isu-isu lama, begitu juga dengan romantisme perjuangan ’98 ataupun ’65. Akan tetapi, kita coba untuk move on dan memulai perjuangan dengan berbagai inovasi. Beradaptasi dengan laju perkembangan teknologi.

Tak jarang kita dapati akhir-akhir ini para pemuda yang menjadi panutan, bukan sekedar mereka yang punya gagasan. Tetapi mereka yang bergerak seiring dengan perkembangan zaman dan mengiringi isu yang hangat diperbincangkan melalui platform media sosial.

Berikut beberapa opsi yang dapat digeluti para mahasiswa sehingga kerjaannya tidak hanya demonstrasi:

Pertama, melirik diskursus SDGs. Khususnya untuk mahasiswa baru, maka perlu diketahui bahwa sejak tahun 2015, United Nations atau PBB telah mencanangkan Sustainable Development Goals (SDGs) yang kita sebut sebagai Pembangunan Berkelanjutan. Isinya tentang tujuan-tujuan pembangunan dengan beberapa capaian ditujukan untuk kemaslahatan manusia dan lingkungan yang mana tujuan-tujuan tersebut ditargetkan terwujud pada 2030.

SDGs terdiri atas 17 tujuan antara lain; (1)menghapus kemiskinan, (2)mengakhiri kelaparan, (3)kesehatan yang baik dan kesejahteraan, (4)pendidikan bermutu, (5)kesetaraan gender, (6)akses air bersih dan sanitasi, (7)energi bersih dan terjangkau, (8)pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, (9)infrastruktur, industry dan inovasi, (11)kota dan komunitas berkelanjutan, (12)konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, (13)penanganan perubahan iklim, (13)menjaga ekosistem laut dan (14)ekosistem darat, (15)perdamaian, (16)keadilan dan kelembagaan yang kuat, (17)kemitraan untuk mencapai tujuan.

SDGs adalah serangkaian agenda pembangunan jangka panjang yang membutuhkan kontribusi dan perhatian khususnya bagi generasi muda hari ini. Oleh karena itu, mahasiswa perlu sekiranya menaruh perhatian pada hal itu dan mengikuti perkembangan serta berperan serta mewujudkannya.

….

Kedua, merintis komunitas-komunitas yang berfokus pada upaya mencerdaskan dan menjadi wadah dalam menyalurkan minat dan bakat masyarakat. Perlu untuk dipahami bahwa kondisi sosial kita hari ini sudah tidak lagi tersekat oleh bendera-bendera dan simbol organisasi. Masyarakat saat ini lebih objektif.

Di sisi lain, mahasiswa perlu untuk merangkul masyarakat dalam mencapai tujuan-tujuan tersebut. Salah satu langkah konkrit yang mampu dan memungkinkan untuk kemudian dicanangkan yaitu membangun komunitas yang fokus dalam berbagai bidang seperti penelitian, relawan, jurnalistik, pemberdayaan masyarakat dan pengajian-pengajian.

Dan semua itu ditinjau dari berbagai pendekatan sesuai dengan jurusan bahkan hobi dari individu-individu kita sebagai mahasiswa.

Dengan hal ini seiring berjalannya waktu, semakin banyak komunitas maka masyarakat akan semakin cerdas. Maka tidak lagi kita hanya membawa perubahan dengan perlawanan, tetapi juga dengan gerakan-gerakan yang mencerahkan. Selain daripada itu, melihat kondisi politik kita yang sengkarut, sedikit demi sedikit menutup kemungkinan-kemungkinan bagi kita untuk membawa perubahan dari jalur struktural, maka diperlukan juga gerakan-gerakan kultural seperti Gerakan pemberdayaan yang berbasis komunitas.

Ketiga, meningkatkan kemampuan dan keterampilan untuk menghadapi tantangan abad ke-21 (21st century skills). Menghadapi era Revolusi Industri 4.0, para ahli di bidang pendidikan saat ini sedang berbondong-bondong menyambut tantangan tersebut. Melalui kacamata pendidikan, khususnya pada keterampilan yang diperlukan setiap individu terutama para pelajar. Salah satunya yang dikemukakan yaitu 4C’s; Collaboration (kolaborasi), Creativity (kreatifitas), Communication (komunikasi), and Critical-Thinking (berpikir kritis).

Selain 4C’s adapula 21st century skills versi dari P21 Framework for 21st Century meliputi tiga area utama yaitu; Life and Career Skills (keterampilan karir dan hidup), Learning dan Innovation Skills (keterampilan dalam belajar dan berinovasi), and Information, Media, dan Technology Skills (keterampilan dalam mengolah dan memperoleh informasi dan menggunakan media dan teknologi). Hal yang perlu diperhatikan di sini ialah Information, media, and technology skills yang belum terdapat pada penjelasan sebelumnya, yaitu kemampuan terkait teknologi dan informasi yang harus dimiliki.

Maka dari itu, selain terfokus pada peran di masyarakat, mahasiswa juga perlu untuk memperhatikan individu mereka sendiri. Sejauh mana mahasiswa mampu mengiringi perkembangan zaman dan juga memiliki keterampilan yang pada dasarnya menjadi kebutuhan.

Ketiga hal yang penulis paparkan di atas tak lain diperuntukkan mahasiswa dalam membersamai masyarakat untuk menyambut masa depan. Tidak dapat disangsikan bahwa memang demonstrasi merupakan salah satu kewajiban mahasiswa dalam melaksanakan fungsi control di tatanan masyarakat yang demokratis. Akan tetapi bukan berarti kita mengabaikan hal-hal lain yang justru perlu perhatian lebih. Memahami dan ikut serta mengambil peran dalam isu global, membangun gerakan-gerakan kultural, dan tak lupa untuk meningkatkan kompetensi diri adalah serangkaian agenda utama bagi mahasiswa hari ini.

Bagikan
Post a Comment