f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kampus

Agama dan Cara Pandang Mahasiswa

Oleh: Alifah Nur Rohmah*

Di suatu sore yang agak gerimis di salah satu lantai masjid kampus matahari, tiba-tiba aku di datangi oleh seorang perempuan. Ternyata dia ingin mengajakku berkenalan karena dia merasa bosan sendirian menunggu temannya. Tanpa pikir panjang pun, aku mau-mau aja untuk kenalan sama dia karena siapa tau bisa jadi teman setelahnya, hehe. Kemudian dia cerita tentang bagaimana pribadinya, kuliahnya, teman-temannya, juga kampusnya. Ternyata kampus dia adalah kampus swasta, tetangga kampusku dan berbasis pesantren. Oh iya, dia adalah mahasiswi yang sudah menginjak tahun kedua tahun ini.

Saat dia cerita panjang-lebar, ada beberapa percakapan yang menurutku saat itu juga bikin aku mikir keras. Kurang lebih begini,

“Mbak, kalo dikampus mbak, ikhwan akhwatnya dicampur nggak?,” kata dia

“Dicampur gimana?,” kataku

“Ya kalo duduk dicampur atau dipisah gitu nggak, sebelahan atau gimana. Terus kalo ada tugas kelompok gimana?,” tanya dia lagi.

Karena aku merasa agak aneh dan bingung, ku jawablah sesuai realita yang ada di kampus. Realita kalau duduk ya ada yang dipisah tapi kadang juga sebelahan, kalau tugas kelompok juga campur cewek cowok. Lalu ku tanya dia, “memang kampusmu gimana?”

Kemudian dia bercerita kalau ternyata di kampusnya untuk masalah duduk, pembagian tugas kelompok harus cewek-cewek, cowok-cowok alias nggak boleh campur. Tidak hanya berhenti di situ saja, ternyata interaksi antara laki-laki dan perempuan ini dibatasi.

Bayangkan saja, teman satu kelas tapi  tidak pernah saling berinteraksi, ngobrol jarang bahkan mungkin nggak pernah. Hanya sebatas tahu nama dan tahu kalau dia adalah teman sekelasnya. Dan itu terjadi di lingkup perkuliahan.

Baca Juga  Anak Kecil yang Kehilangan Masjidnya

Selain itu, interaksi di luar kelas menurutku lebih parah, ketika bertemu di jalan tidak saling sapa, bahkan senyum pun tidak. Padahal, lazimnya atau sewajarnya ketika bertemu teman kelas adalah bertegur sapa, atau minimal tersenyum. Karena, menurutku itu adalah salah satu bentuk menghargai terhadap sesama dan adab terhadap sesama. Dan yang lebih membuat aku tidak habis pikir adalah bagaimana dia dan teman-temannya bisa menjalani hal semacam itu di lingkup perkuliahan atau universitas yang notabennya di dalamnya berkumpul berbagai macam orang dari Sabang sampai Merauke dengan sifat, ras, dan wataknya masing-masing.

Tidak selesai di sana, ada hal yang membuat aku saking herannya adalah ketika dia bercerita saat dia dan teman-temannya merasa takut menerima atau mengirim pesan melalui handphone dari lawan jenis walaupun hanya sebatas bertanya tentang tugas kuliah. Sebentar, apa yang salah dari berkirim pesan melalui handphone?

Ternyata hal semacam itu memang sudah didoktrin (ini pernyataan dia) dari pihak kampus. Ada doktrin-doktrin yang selalu ditanamkan kepada para mahasiswa-mahasiswinya bahwa tidak boleh berinteraksi secara berlebihan dengan lawan jenis dan hanya hal-hal yang “penting” saja. Boleh berinteraksi tapi hanya pada lima lingkup yang dianjurkan kepada mereka, yaitu apabila berhubungan dengan pendidikan, kesehatan, ibadah, muamalah, yang satunya aku lupa, hehe.

Tunggu, bagaimana sebenarnya pihak-pihak yang mempunyai wewenang itu menafsirkan arti “penting dan berlebihan” dan dampak yang mungkin akan dirasakan oleh mahasiswanya? Kalau kalian bilang nggak tahu, heran, bingung atau semacamnya, aku pun sama. Selain itu dia pun juga nggak paham-paham banget kok, walaupun dia sendiri yang ngejalanin.

Dengan doktrin-doktrin yang menurutku agak aneh dan menakutkan itu ternyata muaranya adalah agama. Katanya, di dalam Islam itu berhubungan dengan manusia, terlebih lawan jenis sudah diatur. Apabila kita tidak mengikuti aturan yang ada, kita bisa terjerumus kepada zina. Apalagi kalau melihat zaman sekarang. Begitu inti cerita dia. Tapi menurutku yang pemahaman agamanya biasa-biasa aja ini yang kemudian menjadi pertanyaan adalah apakah benar implementasi ajaran sebuah agama atau katakanlah Islam itu sampai membuat umatnya merasa ketakutan seperti yang dirasakan oleh temanku dan teman-temannya itu rasakan? Bahkan hal kecil semacam berinteraksi dengan sesama pun terasa menakutkan.

Baca Juga  Implementasi Nilai Universal dalam Agama

Apakah agama sebegitu mengekang, mengikat, atau mengintimidasinya? Karena yang aku tahu adalah agama itu pasti mengajarkan bagaimana seharusnya berinteraksi dengan Tuhan, manusia, dan sekitarnya dengan baik, indah, dan membahagiakan. Bukan sebaliknya. Terlepas agama apapun itu. Memang benar semua itu ada aturannya, akan tetapi yang perlu kita renungkan kembali adalah bagaimana batas dan aturan itu. Toh, kita manusia yang diberi kelebihan yang sempurna oleh Tuhan berupa akal dan hati juga diperintahkan untuk menggunakan sebaik-baiknya bukan? Salah satunya adalah untuk berpikir.

Terlepas dari itu semua, ada beberapa hal yang menjadi keresahanku setelah mendengar cerita dia. Pertama, ruang-ruang kampus yang katanya adalah ruang-ruang intelektual, berkumpulnya berbagai macam ilmu pengetahuan, ruang yang melahirkan sosok-sosok penuh dengan ilmu itu malah jauh realitanya ketika aku melihat pernyataan-pernyataan yang diungkapkan temanku. Bagaimana seharusnya pihak-pihak dan kampus itu memberikan ruang dan kesempatan bagi mahasiswanya untuk berpikir. Bukan malah dengan mendoktrin yang pada akhirnya membuat rasa takut bagi beberapa mahasiswanya dan menjadikan pengikut saja. Selain itu, kampus yang katanya adalah dunia sesungguhnya dalam dunia pendidikan agar lebih mampu belajar bersosial dan bermasyarakat mungkin tidak bisa diharapkan lagi ketika berinteraksi dengan sesama pun dibatasi sedemikian rupa menjadi begitu sempit dengan dalih agama.

Kedua, mahasiswa yang katanya “maha” daripada siswa ini katanya berada pada lingkungan yang dipenuhi dengan keintelektualan, cara berpikir yang kritis nan logis, serta sikap yang arif juga bijaksana. Dengan kesempatan yang mungkin saja tidak bisa dirasakan oleh orang lain, mahasiswa seharusnya juga mampu untuk mengejewantahkan apa yang diterima dari lingkungannya. Tidak serta merta menerima dan tidak menyaringapa yang diterimanya, akan tetapi juga mampu untuk menginterpretasikan lebih jauh. Dalam hal ini mahasiswa harus memiliki kompetensi berliterasi, dalam artian mampu membaca dan memahami apa yang diterima atau dibacanya. Tidak hanya berliteral saja atau hanya membaca tanpa mau memahami apa yang dibaca dan diterimanya. Selain itu, bagaimana pemahaman dan kesadaran kita terhadap sesama adalah kita melihat mereka sebagai makhluk intelektual juga spiritual yang memiliki akal dan perasaan untuk saling berbagi pemikiran. Bukan hanya sebatas memandang hubungan dengan sesama adalah hubungan yang berkaitan dengan sensualitas yang berujung perzinaan.  

Baca Juga  Suka Korea-an, Apa Dampaknya?

Setelah beberapa lama kita bercerita, akhirnya aku menyadari betul bahwa hal-hal yang selama ini mungkin dianggap hanya menjadi permasalahan pada ranah mahasiswa, seperti intelektual, keagamaan, ataupun sosial sebenarnya juga bisa terjadi pada pihak-pihak yang katanya menampung, mengakomodir atau bahkan memiliki intelektual yang luas. Hanya saja pilihannya adalah kita mau dan mampu untuk membuka mata dan sadar akan hal itu atau tidak. (s)

*Penulis adalah mahasiswi alumni Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2019

Bagikan
Post a Comment