f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan dan jilbab

Memandang Perempuan dan Jilbab dari Berbagai Sudut

Pada era tahun 2000-an, kita menyaksikan bahwa jilbab sudah menjadi model berpakaian. Sudah banyak trend jilbab yang diadopsi anak-anak muda. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan jilbab tidak hanya berkembang pada sisi sejarahnya atau bahkan hanya dari segi aturan agamanya, melainkan juga dari sisi filosofisnya. Yang mana, jilbab adalah lambang seorang perempuan Islami yang mencerminkan kepribadian mulia pada dirinya.

M Quraish Shihab pernah mengatakan dalam tausyiahnya pada kanal YouTube Sejenak Menepi, 28 Mei 2021. Ia mengatakan “Jilbab itu tidak wajib, semua agama menggunakannya. Tetapi, yang wajib itu keikhlasannya dalam menggunakan jilbab yang terletak pada hati seseorang.”

Penggunaan jilbab menjadi suatu pelajaran terpenting dalam penerapannya di lingkungan sehari-hari. Simbolisasi jilbab bagi perempuan sebatas untuk memenuhi kewajiban menutup aurat. Selain itu jilbab juga merupakan solusi terbaik sebagai mahkota pelindung perempuan guna menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas.

Berkaca pada zaman Soekarno, misalnya, istri Buya Hamka menggunakan jilbab yang hanya menutupi sebagian rambutnya saja. Karena, berjilbab dianggap menjadi hal yang bersifat wajib bagi perempuan. Pendapat itu, mendapat dukungan dari Sinta Nuriyah.

Namun, di samping itu, juga muncul kritik dari Ustaz Abdul Somad yang membantah mengingat jilbab itu wajib bagi semua umat Islam, khususnya wanita. Kalau ada yang mengatakan tidak wajib berarti harus ditegur keras sesuai tuntunan ajaran Islam. Hingga pada gilirannya, Gus Baha juga mencoba menengahi argumen tadi, dengan menyatakan bahwa, wajib itu sifatnya untuk menutup aurat agar terhindar dari sifat dosanya.

Apabila ditelusuri lebih dalam, jilbab menjadi suatu permasalahan sejak Orde Baru. Kala itu, Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan saat itu, melarang siswi sekolah negeri (mengenakan jilbab). Sebagaimana dikutip dari artikel bertajuk Pemaksaan Memakai Jilbab Saat Ini dan Pelarang pada Era Orde Baru (Tirto.id, 2021), bahwa Daoed Joesoef melarang para siswi yang beragama Islam untuk mengenakan jilbab di sekolah karena berkaitan dengan identitas agama. Selain itu, ia juga meniadakan hari libur pada bulan Ramadan hingga Idulfitri.

Baca Juga  Seni Memahami Diri Melalui Terapi Puisi

Setelah peraturan larangan memakai jilbab di sekolah dikeluarkan, para guru tak segan-segan mengusir anak didiknya yang datang untuk belajar hanya karena memakai jilbab. Daoed Joesoef terkenal sangat menjunjung tinggi nilai sekularisme Prancis yang tidak condong ke salah satu agama, hal tersebut merupakan salah satu faktor mengapa beliau melarang siswi sekolah negeri menggunakan identitas agama.

Selain pada Orde Baru, kita ingat pelarangan mengenakan jilbab di negara bagian Kartanaka, India Selatan. Sontak, umat Muslim di seluruh dunia gempar waktu itu, pada tahun 2022. Larangan menggunakan jilbab pada siswi dan mahasiswi dianggap sebagai penghalang dalam kebebasan beragama.

Lebih parahnya lagi, para tenaga pendidik meminta para siswinya untuk melepaskan jilbabnya apabila ingin mengikuti ujian. Para siswi dan mahasiswi melakukan aksi protes di depan sekolah-sekolah mereka, menuntut untuk mengembalikan hak-hak beragama mereka yang dirampas. Hal tersebut berhasil mengetuk pintu pengadilan tinggi negeri negara bagian untuk turun tangan, dan mengatakan bahwa akan mendengarkan hasil tuntutannya. Sayangnya sampai sekarang tak kunjung mendapatkan keadilan.

Dari kedua peristiwa di atas, kita paham, bahwa  ada faktor yang menjadi perbedaan terkait pengenaan jilbab pada dua negara yang berbeda. Pertama, negara Indonesia terkenal dengan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Sedangkan di negara bagian Kartanaka, India Selatan umat muslim yang berada di dalamnya dapat dikatakan sebagai minoritas dan memiliki persentase 14% dari 1,4 Miliar penduduk India.

Kedua, cara mendakwahkannya. Di India cara menyiarkan terkait jilbab malah disalahartikan sebagai pengagungan atas identitas agamanya. Akibatnya, masih ada persaingan dengan agama Hindu, yang menyebabkan proses dakwah melalui jilbab terhambat oleh arus persaingan dan diskriminasi.

Sejak dulu hingga sekarang, permasalahan tentang jilbab tidak pernah ada habisnya dibahas. Sudah pasti ada saja hal yang memicu kontroversi. Mulai dari larangan mengenakan jilbab, jilbab yang menerawang, jilbab yang terlalu berlebihan dan masih banyak lagi kasusnya. Menanggapi kedua fenomena di atas, sebaiknya jika tidak dapat mengenakan jilbab (bagi perempuan Muslimah), minimal menggunakan pakaian yang sopan dan tidak mengumbar demi menjaga kehormatan perempuan. Sebab, perempuan adalah makhluk istimewa dan cerminan bidadari surga.

Baca Juga  Seperti Kopiah, Memakai Cadar Boleh Lepas-Pasang

Dalam Islam, perintah menutup aurat termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 26 yang berbunyi “Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.”

Menurut Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah mengemukakan bahwa Allah memerintahkan Adam beserta anak cucunya untuk senantiasa menutup auratnya, baik aurat lahiriah maupun batiniyah. Menutup aurat lahiriah dengan pakaian-pakaian yang menutup dan tidak menerawang agar tidak mengundang hawa nafsu lawan jenis yang dianalogikan sebagai perhiasan bagi perempuan. Menutup aurat dengan pakaian tertutup dan tidak menerawang saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan takwa dan keimanan yang kuat (aurat batiniah). (M. Quraish Shihab, 2005: 57).

Begitulah, ihwal jilbab, yang notabenenya melekat dengan seorang perempuan yang merupakan makhluk Tuhan yang paling istimewa, menjadi konflik yang kiranya bisa membelah kondisi keharmonisan umat Islam Indonesia yang konon negerinya kaum moderat. Tentunya, kita tiada ingin “perkara jilbab” ini terus bergejolak dan makin membesar kobaran apainya.

Mengingat, jilbab sejatinya adalah kehormatan bagi perempuan. Yang tentunya, kehormatan itu tidak selamanya berada di “baju” kita, namun juga di hati, tentunya. Begitu.

Bagikan
Post a Comment