f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
siti raham

Siti Raham, Perempuan di Balik Keteguhan Buya Hamka

Mungkin semua sepakat, bahwa di balik suksesnya seorang lelaki, pasti ada seorang perempuan yang berperan di belakangnya.  Demikian halnya juga dengan Buya Hamka, penulis tafsir Al Azhar, penulis novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wick, Di Bawah Lindungan Ka’bah dan banyak lagi karya lainnya. Sosok Buya Hamka yang kita kenal melalui buku biografi adalah buya yang teguh dalam berprinsip, kuat dalam berpendapat dan tak jarang ‘keras’ dalam bersikap serta menyampaikan pendapat sekaligus sangat puitis dalam bersastra.

Siapa sangka, di balik sosoknya yang sedemikian itu, ada perempuan hebat yang menguatkan dan menjadi benteng untuk keluarga tercinta dalam melewati berbagai macam ujian dan masa masa penuh cahaya. Baik di masa-masa sulit maupun di masa-masa yang cerah. Mengutip istilah H. Rusydi Hamka dalam buku biografi ayahnya yang berjudul Pribadi dan Martabat Buya Hamka, H Rusydi, anak Buya Hamka itu menceritakan beberapa bagian penting khusus tentang ibunya. Bahwa ibunya, yang bernama Siti Raham itu tidak hanya jadi seorang ibu di dalam rumah tangga. Tapi bagi anak-anak Buya Hamka, Siti Raham adalah obat hati ayah dan mereka. Dalam segala hal, baik ketika ditimpa masalah, ujian dan cobaan maupun lainnya. 

Tidak banyak orang yang mengetahui sosok siapa perempuan di balik Buya Hamka. Yang pasti, di dalam buku H Rusydi,  beliau menceritakan bahwa  Haji Yusuf, paman Buya meminta dan menjodohkan seorang Buya Hamka muda dengan Siti Raham setelah kepulangannya dari berangkat haji. Iaadalah seorang gadis kampung Buah Pondok, anak engku Rasul gelar Endah Sutan. Singkat cerita, setelah dua tahun bertunangan, Buya Hamka resmi mempersunting Siti Raham binti Endah Sutan pada 5 April 1929. Saat itu Buya Hamka dalam usia 21 tahun dan Siti Raham berusia 15 tahun. Siti Raham mendampingi buya selama 43 tahun, dan melahirkan 10 orang anak (belum termasuk 2 orang anak yang meninggal dan 2 orang yang keguguran).

Berbeda dengan Buya Hamka

Berbeda dengan Buya Hamka, Siti Raham adalah perempuan sederhana. H Rusydi, dalam bukunya bahkan mengatakan bahwa melihat foto foto ibunya saat muda. Beliau mengatakan bahwa ibunya adalah wanita yang tidak begitu cantik, tapi manis. Pandangan matanya sayu dan hidungnya mancung.

Berbeda sekali karakter dan kesukaannya dengan buya. Kalau buya suka bersajak sajak dan memuja keindahan alam, sedangkan Siti Raham bila bicara selalu terus terang, polos dengan aksen Minang yang sangat kentara.

Contohnya seperti suatu ketika saat mereka berdua duduk duduk melihat fajar dari tangga masjid AL-Azhar di waktu subuh. Buya merayu Siti Raham.  

“ Lihat, mi…. fajar menyingsing itu, paduan warna pagi ini berbeda dengan kemarin dan esok.  Begitu seterusnya tak pernah sama sepanjang tahun dan sepanjang abad. Tak seorang pelukis pun yang bisa meniru komposisi warna itu. Itulah kuasa tuhan,” kata buya saat merayu Siti Raham. (Pribadi dan Martabat Buya Hamka hal 27)

Apa jawaban dari Siti Raham?

“ Pandanglah lama-lama, nanti lama-lama pula kuliahkan kepada kami,” jawabnyasambil tersenyum.

Di antara gurauan lain, yang ditujukan Siti Raham kepada buya adalah ketika mereka semua makan. Salah satu kebiasaan buya yang tidak bisa dihilangkan adalah mengentak-entakkan kedua jari telunjuknya di atas meja seperti mengetik dengan dua jari. Kebiasaan itu berlangsung pada saat  mereka makan atau ketika menerima tamu, atau juga dalam perjalanan. Ummi tak begitu suka dengan kebiasaan itu, dan selalu memperingatkan buya. Namun cara memperingatkannya sambil bergurau. Contohnya,

Lah tibo pulo akuan angku haji,” (Sudah tiba pula akuan Angku Haji).

Akuan adalah sejenis makhluk halus atau jin yang menjadi kawan orang orang yang menjadi dukun. Dan buya tersipu malu mendengar gurauan dan teguran itu. 

Menjadi Benteng Keluarga

Kesibukan Buya Hamka sebagai konsul Muhammadiyah Sumatra Barat, membuat Buya Hamka sering keliling ke kampung-kampung. Apalagi saat itu tidak ada kendaraan bermotor, jadilah buya kadang naik bendi dan tak jarang pula berjalan kaki. Bukan satu dua hari, tapi bisa jadi berhari-hari. Dan sering kali saat pulang itulah, buya bertanya kepada Siti Raham tatkala menginjakkan kaki di rumah.

“ Lai makan nak urang?” (Adakah anak anak makan?)

Ummi, Siti Raham itu mengangguk dan tersenyum seraya mengambil bungkusan yang dibawa buya. H Ruysdi menuliskan itu dalam buku biografi tentang ayahnya.

H Rusydi mengisahkan bahwa memang keluarga dan anak-anak memang tidak sampai kelaparan, karena ummi Siti Raham menjual harta benda simpanannya. Kalung, gelang, emas, kain batik halus untuk digantikannya dengan beras dan biaya sekolah anak-anak. Walau tak jarang ummi menitikkan air mata saat kembali membuka almari dan mengambil lagi kain simpanannya untuk dijual.

Sesekali Buya Hamka pernah menawarkan dan mengeluarkan beberapa helai kain Bugisnya untuk dijual. Tapi apa kata ummi Siti Raham, “ Kain angku Haji jangan dijual, biar kain saya saja, karena angku haji sering keluar rumah. Di luar jangan sampai angku haji kelihatan sebagai fakir yang miskin,” ungkapnya.

Jadi Hamka Sajalah !

Sekitar tahun 1959, tatkala pemerintah Soekarno mengeluarkan peraturan pemerintah yang meminta Buya Hamka memilih antara menjadi pegawai negeri golongan F atau anggota partai, maka ummi Siti Raham lah yang menjadi penentu pilihan akhirnya.

Seperti diketahui, sejak 1950 Buya Hamka sudah menjadi Pegawai Tinggi Kementrian Agama golongan F sekaligus didaulat menjadi anggota Konstituate Fraksi Partai Masyumi. Pidato buya di sidang Konstituate yang keras dan berani menentang konsepsi Presiden Soekarno telah membuat heboh media massa waktu itu.

“ Apa pilihan kita mi?” tanya buya kepada Siti Raham. Minta pertimbangan.

Dengan mantap, tenang dan penuh ketegasan. Ummi menjawab,” Kita kan tak pernah menjadi orang kaya dengan kedudukan ayah sebagai pegawai itu,” jawabnya. Lalu dengan tersenyum beliau melanjutkan, “ Jadi Hamka sajalah! “

Buya Hamka menitikkan air mata menatap wajah ummi Siti Raham. Disaksikan juga oleh putra-putrinya. Istri Hamka mungkin tak menyadari bahwa setiap ucapan-ucapannya telah menguatkan hati Buya Hamka selama ini. Buya Hamka yang seorang pejuang, memerlukan keputusan pasti. Dan perempuan di sampingnya itulah, Siti Raham yang membantunya mengambil keputusan yang tepat selama ini. Menguatkannya saat lemah. Memberikan cahaya saat gelap.

Dan akhirnya, kita menyadari satu hal bahwa pasti ada sosok perempuan hebat di balik suksesnya seorang lelaki. Hidup perempuan-perempuan tangguh.

Bagikan
Post a Comment