f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
berguru

Berguru pada Hatim Al-Asham

Dalam kisah Hatim al-Asham salah satu murid Syaqiq al-Bakhli, pada suatu hari Syaqiq al-Bakhli bertanya kepada Hatim al-Asham, “Kamu telah berguru kepadaku selama 30 tahun. “Ilmu apa saja yang kamu peroleh selama waktu itu?” Hatim al-Asham menjawab, “Aku meraih ilmu berupa delapan pelajaran yang berharga dan itu sudah mencukupi kebutuhanku, karena aku berharap jalan keluarku dan keselamatan ku berada dalam semua pelajaran itu” Syaqiq bertanya, “Pelajaran apa saja itu?”

Mengenal Hatim al-Asham

Nama lengkap beliau, Abu Abdurrahman Hatim bin Unwan bin Yusuf al-Bakhli. Dilahirkan di Kota Balkh, Afghanistan. Beliau belajar tentang adab kepada Syaqiq al-Bakhli dan bersamanya dalam waktu yang lama. Beliau berangkat ke Baghdad dan sempat belajar hadis dan fikih kepada Imam Ahmad bin Hanbal.

Imam Abu Nu’aim al-Asfahani mengisahkan sebab beliau dijuluki dengan al-Asham (orang yang tuli). Suatu hari ada seorang wanita muslimah datang kepadanya untuk menanyakan suatu persoalan agama. Tanpa sengaja wanita itu mengeluarkan kentut dengan suara yang terdengar orang lain. Tentu saja wanita itu tersipu malu. Hatim al-Balkhi pura-pura tidak mendengar suara kentutnya. Dia berkata kepada wanita itu, “keraskanlah pertanyaanmu, aku tidak bisa mendengar suaramu!” wanita itu gembira karena mengira Hatim al-Balkhi agak kurang pendengarannya. Dia pun mengulangi pertanyaannya tanpa rasa malu-malu.

Saat itu Hatim pura-pura tuli dan tidak mendengar ucapan perempuan tersebut. Mengetahui hal itu, perempuan itu pun merasa senang dan hilanglah rasa malunya sebab ia yakin bahwa Hatim tidak mendengar suara kentutnya.

Setelah kejadian itu, si perempuan menyebarkan informasi bahwa Hatim tuli. Hingga akhirnya, ulama sufi itu pun masyhur dengan nama Hatim al-Asham. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari sosok ulama yang satu ini. Misalnya, dari kisahnya saat menjawab pertanyaan setan. kita dapat menerapkan ilmu pada diri beliau.

Baca Juga  Kecia Ali; dan Seksualitas dalam Islam  

Adapun delapan intisari ilmu itu adalah:

1. Amal shalih sebagai kekasih

Bahwa hal yang paling utama untuk dicintai oleh seorang hamba adalah menyertainya masuk ke dalam kubur dan menemaninya di sana. Saya tidak mendapati hal itu selain pada amal shalih. Maka saya menjadikan amal shalih sebagai pihak yang paling aku cintai dan gandrungi, supaya dia menjadi cahaya penerang di dalam kuburku, pendamping yang menemaniku dan tidak meninggalkanku sendirian di sana.

2. Menyelisihi dan menundukkan hawa nafsu

Saya memperhatikan manusia memperturutkan hawa nafsu dan bersegera dalam memenuhi keinginannya. Lalu saya merenungkan firman Allah:

وَاَ مَّا مَنْ خَا فَ مَقَا مَ رَبِّهٖ وَ نَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى 

Artinya:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya,”(QS. An-Nazi’at 79: Ayat 40)

Maka saya menyakini bahwa al-Qur’an itu benar lagi jujur. Saya segera menyelisihi keinginan hawa nafsuku dan menyingsingkan lengan baju untuk melawan hawa nafsuku. Saya tidak membiarkan jiwaku memenuhi keinginan hawa nafsu, sampai hawa nafsuku terbiasa dan tunduk dalam ketaatan kepada Allah

3. Tabungan amal untuk akhirat

Saya melihat setiap orang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengumpulkan kenikmatan hidup dunia, lalu memeganginya erat-erat. Maka saya merenungkan firman Allah:

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ بَا قٍ ۗ وَلَـنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْۤا اَجْرَهُمْ بِاَ حْسَنِ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ

Artinya:

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 96)

Baca Juga  Pemikiran Feminisme Islam Fatima Mernissi

Maka saya mendermakan kenikmatan dunia yang telah saya kumpulkan untuk mencari wajah Allah semata. Aku membagi-bagikan hartaku di antara orang-orang miskin, agar menjadi tabungan pahalaku di sisi Allah.

4. Ketakwaan sebagai satu-satunya kemuliaan

Saya melihat sebagian orang memandang kemuliaan dan kehormatan terletak pada banyaknya anggota keluarga dan kerabat, sehingga mereka berbangga dengannya. Sebagian lainnya memandang kemuliaan dan kehormatan terletak pada berlimpahnya harta dan banyaknya anak keturunan, sehingga mereka berbangga dengannya. Maka saya merenungkan firman Allah:

… اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَ تْقٰٮكُمْ ۗ …

Artinya:

“… Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa… ” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13)

Maka saya pun memilih ketakwaan. Saya menyakini bahwa al-Qur’an itu benar lagi jujur. Adapun semua persangkaan orang-orang tersebut adalah kekeliruan dan kelak akan musnah.

5. Ridha dengan rezeki dari Allah

Saya memperhatikan sebagian manusia mencela sebagian lainnya. Sebagian manusia menggunjing sebagian lainnya. Saya mendapati pangkal dari semua itu adalah iri dengki dalam urusan harta, jabatan dan ilmu. Lalu saya merenungkan firman Allah:

 …نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا…

Artinya:

” …Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia…”(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 32)

Maka saya mendapati bahwa pembagian itu semua telah ditetapkan oleh Allah SWT sejak zaman azali. Maka saya tidak pun tidak pernah merasa iri kepada siapa lun dan saya ridha dengan pembagian jatah dari-Nya.

6. Setan sebagai musuh

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَـكُمْ عَدُوٌّ فَا تَّخِذُوْهُ عَدُوًّا ۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ 

Artinya:

“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak golongannya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”(QS. Fatir 35: Ayat 6)

Baca Juga  Nuriye : Rahim Perempuan Pencetak Ulama Dunia

Maka saya menyimpulkan larangan memusuhi seorang pun selain setan.

7. Tekun ibadah dan tidak tamak terhadap dunia

Saya melihat setiap orang bekerja keras, membanting tulang demi memenuhi kebutuhan hidup, sampai-sampai terjatuh dalam perkara syubhat dan haram, menghinakan dirinya dan merendahkan harga dirinya.

Maka saya merenungkan firman Allah:

وَمَا مِنْ دَآ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا…

Artinya:

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya..”(QS. Hud 11: Ayat 6)

Maka saya mengerti bahwa rezekiku berada di tangan Allah dan Dia telah menjaminnya. Lalu saya menyibukkan diri dengan beribadah kepada-Nya dan memutus harapanku selain-Nya.

8. Bersandar kepada Allah semata

Saya melihat setiap orang bersandar kepada satu makhluk tertentu. Sebagian orang bersandar kepada harta. Sebagian lainnya bersandar kepada kekuasaan. Maka saya merenungkan firman Allah:

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بَا لِغُ اَمْرِهٖ ۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Artinya:

“dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”(QS. At-Talaq 65: Ayat 3)

Maka saya berserah diri kepada Allah semata. Dia-lah yang mencukupi kebutuhanku dan sebaik-baik pelindung.

Kisah al-Hatim al-Asham dan Syaqiq al-Balkhi yang penuh hikmah ini dikutip dari buku ayyuhal walad karangan imam al-Ghazali.

Editor: Kholifatulhusna

Bagikan
Post a Comment