f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
mangkunegara

Mangkunegara I, Pengentas Marginalisasi Perempuan Jawa

Perempuan dan ranah domestik menjadi paduan kata yang erat di kalangan masyarakat Jawa. Di mana ada perempuan, maka di sana urusan rumah tangga seolah menggelayut di balik lengan mereka. Itulah konstruksi yang berkembang. Padahal sebenarnya tidak demikian. Kalau kita telusuri lebih jauh, masyarakat dan adat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai kesetaraan.

Sejarah Jawa merekam salah satu sosok yang merombak citra perempuan pada abad ke-18. Mangkunegara I namanya. Seorang raja pendiri Praja Mangkunegaran di Kartasura. Konstruksi budaya yang menggambarkan posisi perempuan pada masa Mangkunegara I terekam dalam buku hariannya yang tergolong manuskrip kuno bernamakan Babad Tutur (BT) Mangkunegara I.

BT Mangkunegara I dan Peran Perempuan

BT Mangkunegara I layaknya karya sastra kuno yang menyimpan beberapa keunikan, di samping merekam citra perempuan Jawa yang berbeda. Jika babad biasanya berbentuk anonim tanpa diketahui penulisnya dengan jelas, pada manuskrip tersebut tertera keterangan bahwa ia dicatatkan oleh seorang carik estri perempuan.

Carik estri merupakan julukan bagi seorang juru tulis kerajaan Jawa. Bahkan dalam keterangan lebih lanjut diketahui bahwa juru tulis ini juga berprofesi sebagai prajurit perempuan di bawah asuhan Mangkunegara I.

Dalam perkembangannya, BT Mangkunegara I lantas ditransliterisasi oleh T.H. Pigeaud pada tahun 1929 berdasarkan titah Mangkunegara VII. Transliterisasi oleh Pigeaud ini kemudian menghasilkan judul Babad Nitik Mangkoenegaran: Wiwit taoen Alip 1707 (tahoen Walandi 1780) ngantos doemugi taoen Dje 1718 (taoen Walandi 1791) dengan tebal 590 halaman recto-verso. Naskah transliterisasi ini lantas disimpan dan dipelihara di Perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunegaran dengan nomor katalog B 29.

Resistensi BT Mangkunegara I di Tengah Citra Naskah Jawa

Hal yang menambah daya tarik daripada BT Mangkunegara I juga berpijak pada keberadaan manuskrip Jawa secara umum yang menempatkan perempuan sebagai second sex sebagaimana diistilahkan oleh bunda Simone de Beauvoir.

Baca Juga  Nabila Abdul Rahim Bayan; Perempuan Hafiz Inspiratif

Kita sebut saja misalnya Serat Nitisastra, Serat Wulang Putri, Serat Centhini Jilid II, Serat Sandi Wanita, Serat Dharma Wasita dan Serat Candra Rini. Pada beberapa bagian dari pada beragam naskah kuno tersebut membenarkan asumsi bahwa tempat bagi perempuan tidak jauh dari kasur, sumur dan dapur.

Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Christiana Dwi Wardhana dalam penelitiannya mengenai BT Mangkunegara I pada tahun 2015. Bahwa naskah Jawa sangat berperan dalam menyuburkan budaya patriarki. Di tengah kondisi ini, kemunculan Mangkunegara I yang menempatkan perempuan dalam posisi yang anti-mainstream patut memperoleh atensi.

Walaupun tidak menyebutkan kedudukan perempuan Jawa secara teoritis, segala aktivitas Mangkunegara I dalam BT menunjukkan indikasi keistimewaan posisi perempuan Jawa pada masa kepemimpinannya. Beberapa indikasi status wanita dalam BT oleh Mangkunegara I terlihat dari adanya tentara-tentara perempuan dalam barisan tentara Praja Mangkunegaran.

Prajurit Estri Mangkunegara I

Mangkunegara I juga merumuskan istilah tersendiri bagi tentara perempuannya yang masyhur dengan nama prajurit estri. Tidak hanya bertindak sebagai pemimpin, Mangkunegara I-lah yang mendidik dan melatih para prajurit estri sehingga terbentuk tentara-tentara wanita handal dengan julukan woman dragons.

Prajurit estri tidak hanya rupawan dari segi penampilan namun juga memiliki keterampilan dan kemampuan bersenjata layaknya prajurit laki-laki. Kualitas prajurit estri tidak jarang mengundang decak kagum dari masyarakat bahkan para tentara Belanda. Hal ini sebagaimana dituturkan dalam BT Mangkunegara I:

Cingak eram kang mulat/ kebat acukat tarampil/ gawok katemben kang mulat/ miwah upruk wong kumpeni/ gedheg-gedheg ningali/ estri lir prajurit kakung/ tanah Jawi tan ana/ kang kadi Pangran Dipati/ sasampune sadaya sampun umangkat// (BT, Sinom, bait 6, hlm. 107b)Tercengang mereka yang melihatnya, lincah, cekatan dan terampil, semakin terheran-heran yang melihatnya, Kumpeni, sampai menggeleng-gelengkan kepalanya dalam melihat, prajurit wanita seperti prajurit pria, di seluruh tanah Jawa tidak ada, yang menyerupai prajurit wanita seperti Prajurit wanita binaan Pangeran Adipati Setelah menyaksikan ketangkasan prajurit wanita mereka pulang.

BT Mangkunegara I tidak hanya menyiratkan tingginya posisi perempuan dari segi militer, ia juga menggambarkan kualitas perempuan dari sisi pendidikan. Meskipun destrukturasi budaya hanya berlaku di sekitar Praja Mangkunegaran, namun Mangkunegara I mementingkan aspek dunia baca-tulis bagi para perempuan.

Baca Juga  Mengenal Kembali Bapak Pendidikan Indonesia

Keberadaan carikatau sekretaris perempuan baik sebagai penulis dari BT Mangkunegara I atau tugas pemerintahan lainnya menjadi bukti tidak terbantahkan akan perbedaan posisi perempuan dalam BT Mangkunegara I.

Resistensi Islam atas Wacana Perempuan

Sosok Mangkunegara I turut menangkis stigma betapa tertindasnya perempuan di bawah kendali Islam sebagaimana tertuang dalam tulisanWhy The West Is Wary of Muslims karya Will Hutton (2014). Hal ini tentu saja berangkat dari fakta bahwa Mangkunegara I merupakan raja Muslim.

Ann Kumar melalui tulisannya Javanese Court Society and Politics in The Late Eighteenth Century: The Record of A Lady Soldier menggambarkan citra Mangkunegara selaku penganut Islam taat. Religiusitasnya begitu menonjol di lingkungan kerajaan Mangkunegaran. Kumar menyebut kebiasaan Mangkunegara I salah satunya menyalin Al-Quran dan menjadi raja yang melindungi komunitas Muslim pada masa kekuasaannya. Tidak cukup sampai di situ, ia juga memastikan pemeliharaan tempat ibadah seperti masjid bagi pemeluk Islam.

Praktik keislaman Mangkunegara yang dikutip Kumar juga menegaskan adanya peran perempuan di kalangan penegak hukum kala itu. Diceritakan bahwa salah satu kebiasaan Mangkunegara I berkisar pada slametan ba’da salat jumat bagi berbagai elemen termasuk petugas perempuan di bidang peradilan kerajaan.

Pada akhirnya Mangkunegara I melalui BT-nya telah menyuguhkan novelty dalam bidang kesusateraan yang menangkal adanya anggapan naskah kuno sebagai penyebab budaya sub-ordinasi perempuan. Di samping adanya hal baru yang diangkat dari BT Mangkunegara I, ia menambah warna pada tema mengenai konstruksi budaya dalam aspek gender yang masih terus menjadi hal relevan. Sejak isu gender mulai mengemuka pada tahun 1990 berkat kebangkitan demokrasi dan sistem ekonomi global. Maka wacana tersebut terus bergulir hingga hari ini dan bahkan menjadi topik yang seolah tidak pernah habis.

Bagikan
Post a Comment