f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan

Inferioritas Perempuan Jawa dalam Konsep “Suarga Nunut Neraka Katut”

Oleh : Nyufi Ati

Siapa yang tidak pernah mendengar ungkapan Jawa yang begitu melekat dalam pendengaran kita. Ya “Suarga Nunut, neraka katut” (red: Ke surga ikut, ke neraka terbawa). Bagi orang Jawa ungakapan ini sering kali diartikan sebagai cermin kesetiaan seorang perempuan terhadap suaminya, yakni mengikuti kemanapun suaminya pergi baik itu surga maupun neraka. Karena bagi perempuan Jawa, setia merupakan kriteria wajib yang mesti dimiliki. Setia yang dimaksud adalah setia pada apapun kondisinya baik dalam keadaan bahagia maupun sengsara, termasuk salah satunya bentuk kesetiaannya adalah untuk masuk surga maupun neraka bersama suaminya.

Sedangkan pada masyarakat kebanyakan, menafsirkan ungakapan ini sebagai wujud inferioritas perempuan sebagai seorang istri dalam kehidupan rumah tangga. Dalam ungkapan itu digambarkan posisi seorang istri seolah tidak memiliki kuasa apapun atas dirinya dan keinginannya. Faktor suami seolah menentukan kebahagiaan ( surga) dan kesengsaraan (neraka ) seorang istri. Namun, walaupun begitu panafsiran yang sedemikian ini seringkali di-aamiin-kan dan terus menerus dikampanyekan oleh tokoh agama maupun tokoh masyarakat. Doktrin surga nunut, neraka katut merupakan hal yang wajib disampaikan dalam setaip acara pernikahan. Sehingga perlahan pola pikir yang kurang egaliter ini mengakar kuat dalam masyarakat.

Sebagai perempuan yang terlahir menjadi bagian dari perempuan Jawa, saya memiliki keyakinan lain bahwa ungkapan surga nunut, neraka katut ini memilki filosofi nilai yang lebih adil. Jika kita tarik kepada konteks hari ini, banyak laki-laki yang tidak taat, suka mabuk-mabuk an, main perempuan, bersikap kasar, tidak memberi makan dan sikap buruk lainnya. Sementara sang istri merupakan perempuan taat, bekerja keras bahkan rela membantu mencari nafkah. Apakah dalam konteks tersebut perempuan juga akan ikut terseret ke dalam neraka akibat dari perbuatan suaminya?

Di luar sana banyak istri yang berjuang keras untuk menghidupi keluarganya, mendidik anak dan mengajarinya ilmu agama. Namun apa yang dilakukan sang istri sama sekali jauh berbeda dengan sang suami. Sebut saja ini merupakan kisah dari paman dan bibi saya. Di mana dalam hal mencari nafkah atau sebut saja kebutuhan dunia mereka melakukan bersama-sama bahu membahu untuk mencukupi kebutuhannya. Namun dalam masalah mendidik anak dan juga dalam hal ketaatan dalam ibadah,suami tidak sedikitpun peduli akan hal itu. Jauh untuk layak dikatakan sebagai imam dalam sholat berjamaah di keluarganya, jangankan membaca Al Kafirun. Annas saja tidak hafal. Lantas kemudian apakah dalam kisah yang seperti ini nasib sang istri di akhirat ditentukan oleh suaminya? tentu saja tidak bukan.

Baiklah, mari kita merenungi memutar kepada memoar cerita sejarah masa lalu, cerita tentang Asiyah binti muzahim, perempuan yang jelas-jelas dijamin masuk surga oleh Allah SWT. Bukankah beliau merupakan istri dari raja Fir’aun yang terkenal dengan segala sifat buruk yang melekat kepadanya. Berlainan dengan raja Fir’aun sang suami, Asiyah justru begitu menyayangi orang miskin dan sering memberikan sedekah kepada mereka. Asiyah memeluk Islam setelah mendengar kisah nabi Musa yang berhasil mengalahkan semua tukang sihir dengan kehebatan mukjizatnya.

Baca Juga  Asumsi Rumah Tangga Sebagai Kodrat Perempuan

Raja Fir’aun tidak tinggal diam, kemarahannya begitu membeludak ketika mendengar Aisyah Sanga istri memeluk Islam. Dijemurmya sang istri, Asiyah dibawah terik matahari Negeri Mesir dengan kondisi kaki dan tangan yang terikat. Sebagaimana di diabadikan dalam QS at Tahrim ayat 11 Asiyah berdoa ditengah siksaan tersebut.

“Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah Disisi-Mu dalam firdaus. Selamatkan lah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari orang-orang yang dzalim.”

Dan Allah pun memperlihatkan kekuasaan-Nya terhadap hambanya dengan menjadikan Asiyah menjadi salah satu perempuan yang dijamin masuk kedalam surga-Nya.

Kacamata Islam: Perempuan dan Laki-Laki Setara

Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan bahwa kedudukan antara perempuan dan laki-laki itu sama, hanya ketakwaannya saja yang membedakan.. (QS Ali Imran [3]:195, Al Ahzab [33]: 35). Dalam hal menuju surga keduanya laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama. Begitupula akan peluang masuk neraka.

Ungkapan surga nunut, neraka katut kemudian tidaklah mesti menjadi pegangan mutlak bagi setiap pasangan, karna secara personal sebagai hamba-Nya surga dan neraka seorang istri tidak bergantung kepada suaminya. Begitupula sebaliknya. Bahkan dalam titik tertentu pola semacam itu bisa dikatakan sebagai bentuk penindasan khas patriarki.

Keduanya, baik laki-laki maupun perempuan berhak untuk masuk surga ataupun neraka. Hal itu ditentukan dari tanggungjawab nya atas perbuatan yang mereka lakukan didunia. Karna yang Allah lihat hanyalah perbuatan dan ketakwaan nya saja.

Sebagai pasangan tanggung jawab untuk saling mengingatkan dalam kebaikan melekat pada keduanya. Jika salah satu lalai, maka sudah menjadi tanggungjawab yang satunya untuk kemudian mengingatkan. Jika ditanya bukankah laki-laki adalah imam? Ya memang benar, namun dalam hal ini relasi antara imam dan makmum di sini tidak jauh berbeda dengan imam dan makmum dalam shalat. Jika imam salah, makmum berhak untuk mengingatkannya.

Maka dari itu, Rahmania, ungkapan di atas akan lebih pas apabila diletakkan secara proporsional. Konsep surga nunut neraka katut ini berlaku untuk kedua belah pihak, bukan hanya dibebankan kepada pihak perempuan. Sebab seperti penjelasan di atas, keduanya memiliki kewajiban yang sama untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Bisa saja istri menjerumuskan suami masuk kedalam neraka atau justru menjadikannya imam yang menuntun bersama-sama ke surga.

Baca Juga  Suryani Thahir: Penggagas Majelis Taklim Khusus Perempuan

*)Nyufi Ati, Kader PK IMM Pondok Internasional KH Mas Mansur UMS

Bagikan
Post a Comment