f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pembelajran

Mengakrabi Model Pembelajaran Jarak Jauh

Pembelajaran awal semester genap Januari 2021 telah dimulai. Meski demikian, banyak sekolah yang membatalkan rencana untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Kebijakan tersebut sebagai upaya pencegahan virus Covid-19 di lingkungan sekolah. Dan itu artinya sekolah masih akan melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Tak bisa dipungkiri, kita masih menemukan kendala dalam pelaksanaan PJJ. Saya menemukan beberapa keluhan di media sosial dari seorang guru yang merasa terabaikan oleh murid-muridnya saat mencoba melakukan PJJ menggunakan aplikasi zoom. Sang guru mengungkap bahwa ia begitu bersemangat, tetapi ternyata murid yang hadir di zoom kurang dari setengah jumlah siswa.

Di lain waktu, saya juga menemukan cerita dari seorang murid yang merasa tertinggal begitu saja oleh gurunya di google classroom. Sang guru pergi begitu saja setelah memberikan tugas, padahal murid tersebut masih ingin bertanya. Nah, hal-hal semacam ini semestinya tidak terjadi andai para pelaku PJJ sama-sama berperan aktif dan menyadari bahwa keterlibatannya sangat berpengaruh dalam keefektifan pembelajaran jarak jauh.

Dinamika Pembelajaran Jarak Jauh

Sebelum ujian sekolah semester ganjil kemarin,  saya bertemu dengan salah satu guru anak saya yang kebetulan merupakan teman saya sendiri. Kami berbincang tentang beberapa hal termasuk PJJ yang harus terlaksana di sekolah anak saya selama ini. Di antara semua yang dia ucapkan, ada beberapa bagian yang begitu saya ingat.

“Sekarang, mau nggak mau, saya harus akrab dengan model pembelajaran jarak jauh. Kalau nggak berusaha mengakrabi, ya susah,” katanya.

Akrab? Ya, tampaknya kurangnya keakraban terhadap model PJJ itulah yang sebenarnya menjadikan PJJ kurang efektif.  Selama ini, kita hanya akrab dengan model pembelajaran tatap muka dalam proses kegiatan belajar mengajar. Tanpa tatap muka di kelas, kegiatan interaksi antara guru dan siswa seolah belum bisa disebut sebagai proses belajar.

Baca Juga  Pendidikan Perempuan Menurut Rasyid Ridha

Padahal, dalam konsep “merdeka belajar” ala Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, proses pembelajaran tidak harus selalu terlaksana di dalam kelas, sehingga baik guru maupun siswa bebas merdeka berinovasi dengan cara apa pun. Andai keduanya, guru dan siswa, mencoba akrab dengan PJJ tanpa menjadikan itu sebagai halangan untuk saling berkomunikasi dan bertukar pikiran, bukan tidak mungkin PJJ akan tetap efektif sebagai model pembelajaran.

Memanfaatkan Teknologi yang Ada sebagai Media Pembelajaran

Proses kegiatan PJJ memang selalu membutuhkan kuota internet  dan yang tak kalah penting adalah kelancaran sinyalnya. Memang tidak bisa dipungkiri, ada sebagian kecil  wilayah di negara kita yang masih memiliki problem keterbatasan akses internet sehingga PJJ sulit terlaksana dengan maksimal. Untuk hal tersebut, mari berharap pemerintah segera memeratakan akses internet di seluruh pelosok negeri.

Untuk sebagian besar wilayah Indonesia yang memiliki akses internet lancar,  sebenarnya tak cukup memiliki alasan PJJ sulit terlaksana. Andai ada yang masih beralasan karena keberatan dengan biaya pembelian data internet, pemerintah pun selama ini terus mengalirkan bantuan paket data internet ke sekolah-sekolah.

PJJ bisa terlaksana dengan menggunakan berbagai aplikasi yang memungkinkan guru terhubung dengan para siswa. Guru tentu saja bisa menyesuaikan aplikasi apa yang kiranya cocok dan tidak memberatkan peserta didik. Tidak harus memakai aplikasi yang dipandang keren dan prestise jika memang para siswa justru kesulitan untuk menggunakannya.

Di masa awal pandemi, sebagian besar guru di sekolah anak saya hanya memberikan tugas-tugas untuk dikerjakan di rumah. Namun belakangan, para gurunya termasuk teman yang saya ceritakan di atas, mengubah model pembelajarannya untuk sebisa mungkin menyerupai pembelajaran di dalam kelas.

Baca Juga  Membuka Pendidikan Darurat di Masa Pandemi

Jangan bayangkan anak saya belajar menggunakan internet dengan pemakaian data yang besar, seperti zoom misalnya. Tidak, menggunakan zoom adalah sesuatu yang terlalu mewah di desa kami dan tentu saja tidak semua siswa mampu mengaksesnya. Proses pembelajaran anak saya menggunakan grup whatsapp, dan semua guru di sekoahnya menggunakan aplikasi whatsapp.

PJJ Membawa Perubahan Signifikan bagi Siswa, Guru, dan Orang Tua

Sang guru memberikan penjelasan materi melalui fitur pesan suara yang tersedia di whatsapp, dan sesekali juga mengirimkan video agar anak lebih mudah memahami. Setelah materi selesai, sang guru tetap menemani peserta didik dengan memberikan kesempatan untuk bertanya. Interaksi antara guru dan siswa terus berjalan sampai waktu pelajaran selesai.

Anak saya yang biasanya cukup pendiam di kelas, justru dengan PJJ ini mulai berani bertanya apabila merasa belum paham dengan penjelasan gurunya. Awalnya, anak saya hanya bertanya dengan mengetikkan pesan, kemudian karena melihat beberapa temannya bertanya menggunakan pesan suara, akhirnya anak saya juga ikut-ikutan. Dia terlihat sangat senang dan ada satu perubahan baik yaitu saya tak lagi harus menyuruh-nyuruh dan mengingatkan anak saya saat jam PJJ tiba. Berbeda sekali dengan dulu ketika para gurunya hanya memberikan tugas untuk dikerjakan di rumah.

Proses pembelajaran jarak jauh semestinya tak menjadikan pendidikan selama pandemi ini seolah hilang arah. Memanfaatkan media yang ada dengan maksimal perlu dilakukan agar tercipta suasana pembelajaran jarak jauh yang menyenangkan dan efektif. Hanya saja hal tersebut membutuhkan usaha dan peran aktif baik dari guru maupun peserta didik.

Editor: Andi Eka Nur Wahyu

Bagikan
Post a Comment