f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
perempuan broken home

Stop Diskriminasi Perempuan Broken Home

Saya mulai tertarik untuk menulis artikel ini karena banyak sekali dorongan bagi diri saya untuk menuliskan tema ini. Beberapa dorongan tersebut di antaranya yaitu, banyaknya stigma negatif masyarakat terhadap seorang perempuan yang memiliki latar belakang keluarga broken home. Karena“biasanya” masyarakat memiliki anggapan bahwa seorang anak dengan latar belakang broken home, terutama “perempuan” dipandang sebagai anak yang nakal, tidak tahu adab, sopan santun dan dianggap tidak memiliki masa depan.

Bahkan ada salah satu kutipan dalam sebuah buku yang sangat membuat hati saya terenyuh ketika membacanya, kutipan tersebut yaitu, “Akhlaq menjadi kriteria utama (sholehah). Cari istri sholehah tentu bukan di mall, di pasar, di tempat-tempat hiburan. Istri sholehah itu dididik dalam keluarga yang taat, rukun dan harmonis. Bukan dari keluarga yang broken home”.

Dalam kutipan tersebut sangat terlihat jelas adanya diskriminasi terhadap perempuan yang berlatar belakang dari keluarga broken home. Seakan-akan perempuan dengan latar belakang keluarga broken home merupakan seseorang yang sangat buruk sehingga dianggap tidak pantas untuk menjadi istri salehah dan dinikahi secara terhormat. Padahal dalam kenyataannya tidak semua orang yang memiliki pengalaman sama sifatnya pun akan sama. Tidak semua anak broken home itu nakal. Tidak semua anak broken home itu tidak memiliki masa depan. Dan tidak semua “perempuan” yang berlatar belakang keluarga broken home itu tidak layak untuk menjadi istri shalehah bagi suaminya.

Ini menjadi salah satu penyebab yang signifikan terhadap kesehatan mental seorang perempuan dengan latar belakang keluarga broken home. Ketika melihat rumah tangga orangtuanya hancur, ia memiliki luka batin tersendiri yang mungkin tidak pernah ia tunjukkan kepada orang-orang.  Ditambah dengan tumpahan berbagai stigma negatif masyarakat terhadap dirinya, trauma itu semakin mendalam.

Baca Juga  Air, Politik, Kebudayaan dan Kehidupan

Ia juga menjadi takut untuk menikah, karena ia takut jika keluarga yang akan ia bina akan berakhir pada perceraian juga. Bahkan ia juga merasa tidak pantas ketika disandingkan dengan pasangan atau laki-laki yang berlatar belakang dari keluarga yang harmonis dan utuh. Karena alam bawah sadarnya membenarkan stigma masyarakat terhadap dirinya tersebut. Tidak sedikit juga kasus perempuan yang lebih memilih untuk tidak menikah semasa hidupnya, karena trauma yang ia alami belum benar-benar sembuh.

Tidak ada orang yang menginginkan atau bahkan memilih untuk dilahirkan ke dunia ini dari keluarga yang broken home, tidak ada. Siapa orang yang mau hidup dan tumbuh dewasa tanpa kasih sayang orangtua yang utuh? Tidak ada. Tumbuh dewasa sebelum waktunya dan beranjak dewasa dengan membawa luka masa lalu yang teramat mendalam di hatinya. Tidak ada yang menginginkan kehidupan seperti itu, tidak ada.

Perceraian sangat tidak pantas untuk dijadikan tolak ukur baik atau buruknya agama seseorang, salehah atau tidaknya seseorang. Buktinya, Nabi Ismail menceraikan istrinya atas perintah dari ayahnya, yaitu Nabi Ibrahim. Pun ini terjadi pada sahabat Nabi yang bernama Zaid bin Haritsah yang bercerai dengan istrinya. Zainab binti Jahsy. Perceraian bukanlah suatu perbuatan dosa, melaikan diperbolehkan oleh Allah Swt. ketika di dalam pernikahan sudah tidak dapat memberikan kemaslahatan lagi. Perceraian juga merupakan suatu cara yang terpaksa dilakukan oleh seseorang untuk dapat menjaga kesehatan mentalnya dan kembali membina hidup agar dapat bahagia.

Semua orang mendambakan kehidupan yang bahagia. Tak ada satu orang pun yang mendambakan hidup menderita walaupun hanya sesaat. Andaikata hidup ini dapat memilih dari keluarga seperti apa kami dilahirkan, semua orangpun pasti menginginkan untuk hidup dalam keluarga yang harmonis, keluarga yang utuh, keluarga yang penuh dengan kasih sayang dan keluarga yang penuh kehangatan. Namun kenyataannya, hidup ini merupakan sebuah takdir dari Dzat yang sudah mengatur semua scenario hidup ini dengan jalan yang amat sangat baik.

Baca Juga  Humor Seksis adalah Kekerasan Verbal, Bukan Lelucon

Kita perlu, bahkan harus untuk menyudahi stigma negatif ini, karena stigma ini dapat menimbulkan diskriminasi terhadap perempuan dengan latar belakang broken home dan membuat kesehatan mentalnya terganggu. Semua orang berhak menjadi baik, berhak menjadi saleh ataupun salehah, terlepas dari bagaimana latar belakang keluarganya berasal. Kita sebagai sesama mahluk ciptaan Tuhan sangat tidak berhak untuk menentukan bagaimana orang yang pantas disebut saleh dan salehah. Karena di mata Tuhan pun derajat semua orang sama, yang membedakan hanyalah iman dan takwa setiap hambanya. Bukan darimana ia berasal, dari keluarga seperti apa ia dibesarkan.

Bagi kamu yang masih berpikir bahwa anak dengan latar belakang broken home itu merupakan seseorang yang buruk dan tidak memiliki masa depan, coba kamu kenali dia lebih jauh lagi, di sana kamu akan melihat seberapa kuat dan hebatnya perjuangan dia agar dapat melewati badai dalam hidupnya. Setidaknya jika kita tidak bisa membantu menghilangkan trauma tersebut kita janganlah menjadi orang yang semakin menambah trauma tersebut.

Bagikan
Comments
Post a Comment