Perempuan Jangan Dipaksa Terlibat dalam Politik dong, Repot!
Saya akan bercerita pengalaman sendiri saat terlibat dalam politik. Disclaimer dulu ya, saya perempuan muda usia under 30. Pekerjaan sibuk sekali alias menjadi Ibu Rumah Tangga. Tidak pernah tergabung sebagai kader politik apapun. Namun dalam kontestasi pemilu 2024 ini saya ‘kecipratan gawe’ juga. Saya akan mengupas tiga peran yang dapat perempuan lakukan dalam pemilu ini. Saya harap pembaca nantinya bisa menilai urgensi perempuan terlibat dalam politik.
Yang pertama saya terlibat menjadi timses salah satu calon. Tidak usah kita cari-cari calonnya siapa, intinya kerjanya support kampanye. Saya memang tidak terlibat langsung dalam tim yang kampanye di lapangan. Ibarat dalam kantor, saya ada di bagian backoffice. Meskipun tidak tempak sebagai timses saya tau sedikit tentang bagaimana sistem ini berjalan.
Umumnya mayoritas timses itu laki-laki. Ndak usah libatkan Perempuan deh, karena peran ini cocoknya memang hanya untuk laki-laki. Alasannya ada dua, satu, timses itu harus punya waktu yang fleksibel, mana ada perempuan yang bisa srunthulan keluar rumah seenaknya? Perempuan punya waktu pasti saat beraktifitas di luar rumah. Perempuan bekerja misalnya, ketika waktu kerja selesai, ya pulang bukannya mampir ke basecamp. Alasan kedua, timses itu harus siap bergaul dengan lingkungan yang didominasi laki-laki, seakan laki-laki memang terlahir untuk dunia seperti ini. Kenapa kok laki-laki lebih cocok, karena dia punya daya tahan. Laki-laki mampu begadang, pola kampanye timses hingga larut malam bisa laki-laki taklukan. Laki-laki juga punya kemampuan komunikasi politis, karena dalam dunia ini akan mempertemukan banyak kepentingan. Apa ada perempuan yang begadang? Ya ada, begadang untuk nonton drakor biasanya. Kalau begadangnya konsolidasi dengan timses mana tahan?
Sekarang kita bicara kalau situasi tersebut dihadapkan para konteks “perempuan.” Perempuan kalau harus pulang larut malam, masih dianggap tidak umum. Perempuan kalau bergaul dengan lingkungan yang dominan laki-laki dianggap tidak patut. Selain itu, perempuan yang suaranya didengar oleh laki-laki dianggap menjatuhkan harga diri laki-laki. Di antara semua situasi yang menyulitkan tersebut, kita bisa simpulkan bahwa jika ada perempuan yang terlibat menjadi timses itu luar biasa. Kenapa? Karena ia bersedia untuk mendobrak budaya dan melahirkan keberanian.
Yang kedua, saya terlibat dalam pendidikan pemilih. Sebenarnya ini adalah panggilan hati, yang berangkat dari kekhawatiran pada ibu-ibu muda. Ibu muda seperti saya ini jarang sekali terpapar pendidikan politik. Boro-boro mau memperjuangkan isu strategis, Ibu muda umumnya tidak punya waktu lebih untuk mengenal dan membandingkan gagasan para calon. Kalau sudah begini, Ibu muda akan berakhir menjadi pemilih ikut-ikutan bukannya pemilih rasional.
Terlibat dalam pendidikan pemilih ini mungkin menjadi satu-satunya peran yang mudah bagi perempuan dalam politik. Perempuan tidak perlu berafiliasi dalam partai politik dan menjadi timses apapun untuk memberikan pendidikan pemilih. Tantangannya adalah menyajikan pendidikan yang tepat sasaran. Pendidikan politik bagi pemilih ini tidak sekedar mempertemukan narasumber untuk bicara tentang tata cara memilih. Lebih dari pada itu, pendidikan pemilih harus dibuat untuk memantik aspirasi para pemilih yang nantinya dapat mendorong perubahan kebijakan yang pro-perempuan. Saya rasa, perlu kolaborasi dengan banyak pihak untuk mewujudkan pendidikan pemilih yang tepat sasaran. Pendidikan ini juga harus berdampak setidaknya bisa merumuskan gagasan untuk diperjuangkan para wakil rakyat. Dan mau nggak mau proses kolaborasi ini menjadi tantangan sendiri, apalagi bagi gerakan perempuan yang branding-nya “inklusif”
Kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk saling memberdayakan. Salah satu contoh positifnya sebagaimana telah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur lakukan dengan program Bijak Memilih. Melalui program tersebut, mereka membuat Roadshow Festival Pemilu di Surabaya dan membentuk ruang bagi pemilih dan para wakil rakyat untuk “ketemuan” dan saling mengenal. Bijak Memilih dalam hal ini memberikan pendidikan politik bagi pemilih muda agar lebih bijak dalam memilih dengan melihat isu dan gagasan yang para kandidat tawarkan. Nasyiatul Aisyiyah adalah rumah besar bagi perempuan muda yang masuk dalam segmen Bijak Memilih. Harapan dari kolaborasi ini agar warga Nasyiah dapat berdaya dalam menentukan pilihannya.
Kerja kolaborasi ini juga ada tantangannya, lho. Kita juga harus menyediakan waktu dan tenaga dalam prosesnya. Kita juga perlu membangun engagement yang baik dengan kolaborator. Selain itu, kita harus siap bekerja “tidak mendapat bayaran”, karena upaya seperti ini adalah bentuk kerelawanan. Apa perempuan mampu bekerja tidak dibayar? Apa perempuan bisa membangun komunikasi dengan pihak lain? Dan apakah perempuan bisa punya komitmen untuk menyelesaikan program dengan baik? Jawabannya, bisa! dan kita butuh lebih banyak gerakan lagi yang mampu melakukannya.
Yang ketiga, adalah keterlibatan langsung sebagai kandidat. Wah ini sih belum kepikiran ya. Belum ada strategi ke sana. Nampaknya untuk jadi kandidat ini perlu memenuhi semua unsur lengkapnya. Menjadi kandidat harus capable, kalau tidak ya hanya jadi kandidat pemenuh kuota saja. Sebagaimana kita tahu bahwa Undang-Undang Pemilu Nomor 7 Tahun 2017 Pasal 245 menyebutkan bahwa syarat keterwakilan perempuan paling sedikit 30% harus terpenuhi di setiap Dapil. Namun dalam Pemilu kali ini hanya ada satu partai yang memenuhi syarat tersebut, yakni PKS. Lantas, sudah sejauh apa peran partai politik dalam menciptakan kader-kader politik perempuan?
Kesimpulannya adalah, untuk mendorong perempuan dalam politik tidak cukup dengan memberikan kesempatan. Ruang-ruang politik yang erat dengan keberadaan laki-laki harus mulai diisi oleh perempuan. Perempuan harus dibebaskan dari tanggung jawab domestik yang hanya disandarkan padanya. Ruang politik yang inklusif mampu mendorong perempuan untuk terlibat dalam peran politik baik sebagai timses, relawan pendidikan pemilih, maupun kandidat. Nah, setelah membaca tulisan ini, saya khawatir para pembaca masih ada yang mbatin “emangnya penting banget ya perempuan terlibat dalam politik?” wes mbuhlah repot..
Seorang Ibu sekaligus Pekerja Politik. Baginya urusan dapur dan negara sama-sama butuh keberdayaan.
