Muktamar ke 48 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Surakarta tempo hari merupakan suatu event besar yang sangat dinantikan oleh seluruh warga persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Event yang melibatkan jutaan manusia ini memberikan nuansa antusiasme yang positif dari para tamu undangan hingga para penggembira dari seluruh penjuru negeri. Meski antusiasme warga persyarikatan yang membludak. Namun mereka datang berbondong-bondong dengan tertib hati yang tulus dan penuh khidmat tanpa meninggalkan kerusuhan dan menjaga lingkungan sesuai pada konsep Muktamar kali ini dengan hastag #lebih mencintai alam #bersih dan green.
Sebagaimana pandangan keagamaan tentang “Islam Berkemajuan” yang dikembangkan Muhammadiyah melalui Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua tahun 2010. ’Aisyiyah terus menerus mengaktualisasikan Islam Berkemajuan untuk tegaknya ajaran Islam sebagai dīn al-ḥadhārah. Hal ini dilakukan untuk terwujudnya peradaban utama yang memuliakan dan memajukan perempuan serta memajukan kehidupan umat manusia semesta.
Progam Penguatan Ideologi Gerakan bagi Kader ‘Aisyiyah
Khusus bagi ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Muhammadiyah yang selama ini membawa panji Islam berkemajuan dalam pemikiran dan dunia nyata dalam memasuki abad kedua dihadapkan oleh maraknya ideologi yang muncul. Termasuk meluasnya pemahaman Islam yang tidak selaras dengan pandangan Islam Berkemajuan.
Bersamaan dengan itu, ‘Aisyiyah juga memiliki pandangan yang maju dalam menghadapi berbagai problem sosial, budaya, ekonomi, dan aspek kehidupan lainnya di era disrupsi yang kompleks. Tantangan kehidupan dimasyarakat, keumatan, kebangsaan, kemanusian dan semesta. Semua tantangan tersebut begitu cepat berkembang dan para penggerak persyarikatan harus cepat adaptasi akan hal itu. Kehidupan yang mudah menerabas, lemahnya kebersamaan bisa dihadapi melalui dakwah ‘Aisyiyah yang berprinsip amar ma’ruf nahi munkar dengan tetap mengandung nilai-nilai Islam berkemajuan namun senantiasa membumikan nuansa Islam rahmatan lil alamin.
Dalam konteks ini, penting untuk dirumuskan pemikiran teologis dan ideologis tentang Risalah Perempuan Berkemajuan. Siti Noordjannah Djohantini menyebut beberapa karakter perempuan berkemajuan seperti membawa nilai-nilai ajaran Islam yang damai, harmoni, menjunjung tinggi keadaban mulia, dan berwawasan wasathiyah-berkemajuan untuk terwujudnya peradaban utama yang rahmatan li-‘alamin. Pada pidato iftitah Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah pada Muktamar 48 , Sabtu (19/11/2022).
Siti Noordjannah Djohantini menyebut bahwa ‘Aisyiyah yang sudah berusia lebih seabad lamanya digerakkan oleh para perempuan berkemajuan. Para perempuan berkemajuan ini memiliki pemikiran dan pengetahuan yang maju, ikhlas, istiqomah, komitmen tinggi, dan pengkhidmatan.
“Semua dilakukan dalam perjuangan dakwah yang luas melintas bagi pemajuan masyarakat dan bangsa,” tutur Noordjannah.
Dengan tema Muktamar 48 ‘Aisyiyah yakni “Perempuan Berkemajuan Mencerdaskan Peradaban Bangsa,” tema ini sangat penting dan menggambarkan arah pandang, perspektif, cara pikir dan langkah-langkah yang akan dilakukan ‘Aisyiyah dalam perjuangan memajukan perempuan. Muktamar ke-48 ini disebut Noordjannah juga membahas “Risalah Perempuan Berkemajuan” yang merupakan pandangan ‘Aisyiyah tentang perempuan berkemajuan.
Risalah Perempuan Berkemajuan Menjawab Tantangan Zaman
Perempuan dikatakan berkemajuan jika alam pikiran dan kondisi kehidupan perempuan yang maju dalam segala aspek kehidupan tanpa mengalami hambatan dan diskriminasi. Baik secara struktural maupun kultural sejalan dengan ajaran Islam.
“Perempuan berkemajuan dalam pandangan Islam adalah kehidupan perempuan yang memiliki derajat dan perlakuan yang sama mulia dengan laki-laki tanpa diskriminasi. Yang ukuran kemuliaannya terletak pada ketakwaan, iman, ilmu, dan amal saleh. Risalah Perempuan Berkemajuan merupakan dokumen pandangan ideologis persyarikatan Muhammadiyah ‘Aisyiyah tentang perempuan dalam berbagai aspek kehidupan” tegas Noordjannah.
Lanjutnya, “Kami ingin menyampaikan terima kasih kepada penggerak ‘Aisyiyah dari usia muda hingga senior yang telah berjibaku. Sebuah sinar mutiara yang tidak boleh padam, sebuah pergerakan yang harus nyata keberadaannya. Membumikan islam rahmatan lil alamin dalam kehidupan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal.”
Noordjannah juga berpesan sekaligus menyampaikan motivasi, “Aisyiyah ke depan harus lebih maju! Kecepatannya harus tiga kali lebih cepat dari dinamika yang telah diusahakan diperiode ini.”
Beliau turut menghimbau kepada semua anggota persyarikatan dengan senantiasa melestarikan kultur organisasi ini. Agar organisasi ini semakin kokoh memberikan kemaslahatan yang lebih luas menyeluruh bagi kepentingan ummat. Seperti tradisi yang ada dipersyarikatan ini, ketika problematika sedang menghinggapi maka hal tersebut harus didiskusikan secara bersama-sama. Ketika semua penggerak ‘Aisyiyah bekerjasama dalam menyelesaikan tugas maka seberat apapun tugas itu akan terasa ringan, seperti peribahasa “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”.
Tema ini tidak terlepas dari kiprah pergerakan ‘Aisyiyah yang sudah membuktikan dan menjalankan seluruh progam kemaslahatan. Keberhasilan tersebut berasal dari hasil jerih payah keringat perjuangan para penggerak persyarikatan baik dari akar rumput hingga pucuk. Guna memberikan yang terbaik bagi kehidupan bangsa. Pada tema Muktamar 48 ini juga mengandung spirit dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang teraktualisasikan dalam terselenggaranya acara ini dengan penuh khidmat.
Pentingnya Meneguhkan Peran Keumatan dan Kebangsaan Gerakan ‘Aisyiyah
‘Aisyiyah pada saat ini telah menapaki perjalanan sejarah abad ke- 2. Muktamar periode ke 2 diabad ke 2. Perjalanan perjuangan sebuah organisasi perempuan muslim yang tak pendek tersebut sepenuhnya didedikasikan pada umat, masyarakat, bangsa dan kemanusiaan semesta yang dilandasi nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin. Pada muktamar kali ini mengusung tema, “Perempuan Berkemajuan Mencerahkan Peradaban Bangsa”.
Tema ini menggambarkan perspektif, cara pikir dan langkah-langkah yang akan dilakukan organisasi besar ini untuk turut membangun peradaban bangsa Indonesia sebagaimana yang tertuang dalam lirik Mars ‘Aisyiyah. “Berkibarlah Panji Matahari; Menghias langit Ibu Pertiwi. Itu lambang perjuangan kita. Dalam menyebarluaskan Agama. Islam pedoman hidup Wahyu Ilahi. Dasar Kebahagiaan sejati. Mari beramal dan berdarma bakti. Membangun negara. Mencipta masyarakat Islam sejati. Penuh karunia”.
Penggalan lirik tersebut mengandung makna yang sangat nasionalis namun tetap penuh dengan nilai-nilai Islam berkemajuan dan perempuan berkemajuan. Ini menjadi komitmen seluruh komponen bangsa termasuk para perempuan Indonesia.
Ideologi Muhammadiyah untuk Menggerakkan ‘Aisyiyah dalam Mewujudkan Islam Rahmatan lil Alamin
Pemikiran ‘Aisyiyah tersebut merupakan reorientasi gagasan dan kepeloporan ‘Aisyiyah untuk memajukan perempuan secara inklusif. Tanpa melihat latar belakang suku, ras, maupun agama untuk mewujudkan kehidupan perempuan yang lebih baik. “Selain itu, kekuatan nilai- nilai Gerakan yang bersumber dari ajaran Islam memberikan fondasi kesadaran bagi kader dan pimpinan. Hal ini untuk mengemban dakwah yang melintas sebagai bentuk menunaikan risalah kenabian yang berujung pada penghambaan diri sebagai khalifah di muka bumi,” kata Noordjannah dalam Pidato Iftitahnya, Sabtu (19/11/2022).
“Oleh karenanya, mari kita maknai dan isi Muktamar ini dengan mengedepankan kesungguhan, pengkhidmatan, komitmen, keikhlasan, kebersamaan dengan pikiran dan ide-ide cemerlang seta etika permusyawaratan yang terpuji. Sehingga menghasilkan keputusan Muktamar yang bermanfaat bagi kemajuan umat dan bangsa,” lanjut Noordjannah.
Terakhir, Noordjannah menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya jika ada khilaf dan salah serta kekurangan selama dalam kebersamaan mengemban amanah organisasi ‘Aisyiyah.
“Harapan yang besar ke depan ‘Aisyiyah semakin maju memimpin pergerakan perempuan muslim yang terbesar dan berpengaruh baik secara nasional maupun internasional karena kontribusi yang besar dan nyata bagi kemajuan umat, bangsa, dan kemanusiaan universal,” katanya.
Reportase oleh Izza Safitri Rahmadani
