f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
malin kundang orang tua

Malin Kundang Tidak Durhaka?

Kita sudah sering mendengar cerita tentang Malin Kundang, seorang anak yang dikutuk ibunya menjadi batu karena “durhaka”. Malin kundang, seorang anak yang merantau dari kampung ke kota untuk mencari pekerjaan agar ekonomi keluarganya membaik. Merantau selama bertahun-tahun, Malin Kundang pun akhirnya menemukan pujaan hatinya, dan menikahinya di kota.

Pada suatu waktu, Malin Kundang pergi berlayar dan kapalnya mampir ke sebuah dermaga yang ternyata kampung halamannya. Di sana, ada seorang wanita tua yang mengenali sosok Malin Kundang. Wanita itu pun menghampirinya dan memanngilnya, “Malin Kundang anakku, kau sudah pulang”, sapa wanita tua tersebut. Namun, Malin Kundang membantah sapaan wanita tersebut, dan tidak mengakui bahwa wanita tua tersebut adalah ibunya. Di saat itulah seorang Ibu murka dan mengutuk anaknya menjadi batu.

Legenda tentang Malin Kundang sudah sangat familiar di masyarakat Indonesia; sebuah legenda yang kerap kali orang tua ceritakan kepada anaknya dengan maksud agar anaknya menjadi seorang yang berbakti. Bagaimana jika sebenarnya Malin Kundang bukanlah anak durhaka “tidak mengakui bahwasannya wanita tua tersebut adalah ibunya”.

Mungkinkah Malin Kundang lupa dengan sosok ibunya karena lamanya ia merantau, sedangkan Ibunya semakin bertambah tua. Atau sebaliknya, semakin bertambahnya usia dan lamanya tidak bertemu menjadikannya lupa akan sosok anaknya. Tetapi layaknya seorang Ibu (orang tua) tidak boleh mengutuk anaknya, melainkan mendoakan anaknya, meminta agar bisa terus bersabar, dan mendoakan anaknya agar menjadi anak yang baik.

Analisa Hubungan Orang Tua dan Anak

Dari cerita di atas, jika kita analisa dari hubungan orang tua dan anak. Orang tua adalah sosok yang akan menjadi contoh bagi anak-anaknya. Apa yang orang tua lakukan dan berikan kepada anak, itu pula yang akan anak lakukan dan berikan kepada orang tuanya, bahkan orang lain di sekitarnya. Seorang ibu tidak boleh memarahi anaknya jika anaknya berkata kasar. Orang tua harus intropeksi terlebih dahulu apakah ia pernah mengajarkan anaknya tata krama cara berbicara yang baik dan sopan santun. Jika tidak pernah, maka itu menjadi salah orang tua. Tetapi, jika sudah diajarkan dan anak tetap melakukan, yang harus orang tua lakukan bukan memarahinya, tapi mengajarkannya kembali.

Baca Juga  Bahagia Belajar dan Mengajar di Era Virtual

Sikap seorang anak tergantung dari bagaimana konsep, gaya pengasuhan dan interaksi orangtua kepada anak. Orangtua bertanggungjawab penuh dalam membangun karakter seorang anak. Apakah orang tua akan mendidik anaknya dengan gaya pengasuhan otoritatif (tuntutan yang masuk akal, penguatan yang konsisten, disertai kepekaan dan penerimaan pada anak), otoriter (banyak aturan dan tuntutan, sedikit penjelasan, dan kurang peka terhadap kebutuhan dan pemahaman anak), permisif (sedikit aturan dan tuntutan; anak terlalu dibiarkan bebas menuruti kemauannya), atau tidak peduli (sedikit aturan dan tuntutan; orang tua tidak peduli dan peka pada kebutuhan anak).

Masing-masing gaya pengasuhan akan menciptakan emosi yang berbeda terhadap anak. Anak dengan orang tua yang otoritatif akan cenderung periang, memiliki rasa tanggung jawab sosial, percaya diri, berorientasi prestasi, dan lebih kooperatif. Anak dengan orang tua otoriter akan cenderung moody, kurang bahagia, mudah tersinggung, kurang memiliki tujuan, dan tidak bersahabat. Adapun anak dengan orang tua permisif akan cenderung impulsif, agresif, bossy, kurang kontrol diri, kurang mandiri, dan kurang berorientasi prestasi.

Orang Tua dan Kontrol Positif terhadap Anak

Anak-anak memerlukan aturan, petunjuk, dan rambu-rambu bagi tumbuh kembang mereka. Orang tua harus dapat memberikan kontrol dan pemantauan yang baik terhadap anak. Kontrol dalam artian positif, memegang kendali, memiliki wewenang, membuat tuntutan yang sesuai dengan usia anak, menetapkan rambu-rambu, dan memantau perilaku anak, maka anak dapat menjadi lebih baik. Melakukan pemantauan yang merupakan salah satu cara orang tua mengembangkan kontrol anak.

Orang tua dapat melakukan dua hal dalam memantau aktivitas anaknya. Pertama, metode aktif, yakni menanyakan langsung pada anak atau berpartisipasi dalam aktivitas anak. Kedua, metode pasif, mengetahui aktivitas rutin atau mendapatkan informasi dari orang lain yang mengetahui tanpa menanyakan pada anak.

Baca Juga  Ayah dan Anak Perempuannya

Dengan melakukan pemantauan, orang tua memiliki pengetahuan tentang aktivitas yang dilakukan oleh anak. Semakin tinggi pengetahuan orang tua terhadap aktivitas anak; maka semakin rendak perilaku delinkuensi anak (tingkah laku yang menyalahi secara ringan norma dan hukum yang berlaku di masyarakat). Sebaliknya, rendahnya pengetahuan orang tua berkaitan dengan tingginya perilaku delinkuensi remaja.

Pemantauan terhadap anak yang dilakukan secara intensif oleh orang tua, atau perilaku posesif orang tua, dapat menimbulkan perasaan kurang nyaman pada anak, dan hal tersebut akan mengakibatkan buruknya penyesuaian diri pada anak. Oleh karena itu, keterbukaan anak secara spontan untuk menceritakan aktivitas yang dilakukannya pada orang tua dipandang lebih baik daripada orang tua melacak jejak aktivitas anak dan upaya pengawasan.

Dapat kita simpulkan bahwa orang tua harus dapat memberi penjelasan kepada anak agar bisa memiliki sifat keterbukaan kepada orang tua. Komunikasi yang baik antara oran tua dan anak adalah solusi utama. Selain itu orang tua juga harus memberikan dukungan dan keterlibatan terhadap aktifitas anak. Relasi yang baik antara orang tua dan anak akan menjauhkan anak dari kata “durhaka”.

Malin Kundang bisa dikatakan tidak durhaka, karena mungkin saja orang tuanya tidak memberikan pengasuhan dan didikan yang baik kepada anaknya; banyak menuntut tetapi tidak memberikan pengasuhan yang baik, dan kurangnya keterbukaan antara orang tua dan anak. Tetapi selayaknya hubungan anak dan orang tua, hendaklah seorang anak janganlah sampai melupakan sosok orang tuanya. Bagaimana ia telah merawat dan membesarkan kita sebagai anaknya. Begitupula orang tua, hendaknya memberikan pendidikan yang baik kepada anaknya, menjadi contoh yang baik untuk anaknya. Bagaimana orang tua bersikap, memberi pendidikan, perhatian, itupula yang akan anak lakukan kepada orang tua kelak di usia tua.

Bagikan
Post a Comment