Cita-Cita; Antara Keluarga dan Karir
Selesai kuliah S2 dan S3 di AS, pernah bercita-cita ingin mengajar di salah satu jurusan Social Work di AS. Persis di tahun terakhir sebelum saya lulus, sekitar bulan April 2013, saya ditawari untuk tetap stay di UT Austin Texas – dan menunda ujian disertasi agar dilakukan di akhir Fall semester. Alasannya adalah di Fall semester adalah waktu yang tepat kalau saya mau masuk job market.
Mahasiswa S3 biasanya di sana tidak diluluskan dulu sampai ada kepastian dia akan bekerja/mengajar di mana. Jadi, begitu lulus, sudah ada informasi Universitas yang akan menghire karena ini terkait dengan nama baik dan kredibilitas jurusan/universitas. Jurusan Social Work di UT Austin selalu bertengger di 10 besar se-AS, karena itu mereka selalu mengharapkan semua lulusan sudah diterima sebagai pengajar sebelum ada kelulusan.
Waktu itu rencana ujian disertasi sekitar Juli 2013. Mendengar tawaran tersebut, saya tidak kaget, tapi agak tanggung karena waktu itu sudah fix mau pulang kampung di akhir Agustus 2013. Kami sekeluarga sudah membeli tiket pulang sejak jauh-jauh hari sekitar Februari 2013. Saya hanya bergumam kalau saja tawarannya di awal tahun, mungkin saya iyakan. Waktu itu saya hanya bilang bahwa saya sudah membeli tiket dan memutuskan untuk pulang ke Indonesia.
Saya dan suami memang sudah mempertimbangkan bahwa kami berdua tidak akan apply ke manapun di AS setelah kami berdua lulus. Kami sudah bertekad untuk pulang dan mengabdi di Indonesia. Ada beberapa alasan. Pertama dan ini yang memperberat saya untuk setuju, yaitu anak-anak. Sophia dan Nahla sudah terlalu lama tinggal di AS (6 tahun untuk Sophia dan 5 tahun untuk Nahla).
Selama kami kuliah, belum sekalipun mereka pulang. Karena itu, memang penting untuk memikirkan kalau saya memutuskan untuk mengajar di AS, pasti anak-anak akan tetap tinggal di sana. Mereka perlu untuk memahami akar budaya sebagai orang Indonesia. Di satu sisi, di tahun ke-6 tersebut, Sophia sudah sangat senang dengan sekolahnya; terutama karena dia masuk sekolah percontohan (unggulan) di kelas 6 (di sana sudah mulai middle school/SMP sejak kelas 6 SD). Dia diterima di 3 sekolah unggulan sekaligus dan memilih salah satu yang fokusnya di science.
Alasan kedua, karena suami PNS dan dia harus pulang untuk kembali bekerja di LIPI setelah sekian lama sekolah. Ketiga, kita merasa kita akan lebih sejahtera di Indonesia (komparasi dengan situasi kami berdua waktu jadi student karena memang bergantung pada uang beasiswa dan sedikit income dari kerja sebagai asisten riset atau asisten pengajar di sana). Buat saya, agak berat memutuskan untuk pulang karena tidak terikat dengan institusi manapun (bukan PNS), dan menolak tawaran untuk tetap stay di Texas. Meski saya melihat banyak sisi yang harus disyukuri setelah kami pulang; namun ini merupakan keputusan besar dalam hidup yang mungkin saya masih menyesalinya hingga hari ini. Ini memang sebuah pilihan. Seperti kita tahu, banyak perempuan yang memilih “family first, karir belakangan”.
Ada banyak momen-momen yang tidak akan pernah saya lupa; yang merupakan dialog dan pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan kolega maupun ketua program S3 dan professor di UT Austin sewaktu saya bilang mau memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Mereka melihat journey yang begitu panjang yang sudah saya jalan bersama mereka selama 6.5 tahun, bukan waktu yang singkat. Di pertengahan mengambil program S3, saking jatuh cinta nya dengan profesi Social Work, saya meminta kampus agar bisa mengambil S2. Saya meyakinkan Ketua Program S3 perlunya ambil S2 karena background S1 dan S2 saya bukan social work.
Ketua jurusan mengijinkan dengan syarat agar mengajukan surat permohonan kepada Dekan karena ini menyangkut dan akan memperlambat tahun kelulusan S3 dan membuat kampus harus tetap mempekerjakan hingga lulus (ada tambahan 2 tahun dari yang seharusnya 4-5 tahun untuk S3). Dekan memberi ijin dan akhirnya saya ambil S2.
Sebuah keputusan yang tidak mudah karena menjadi mahasiswa S2 sama sulitnya atau bahkan lebih sulit dari menjadi mahasiswa S3 Social Work karena ada requirement 1000 jam magang (separuh waktu selama 2 tahun berturut-turut) di luar kampus. Selain itu, selama menjadi mahasiswa, meski mendapatkan beasiswa Ford Foundation, saya sudah mulai menjadi teaching assistant di tahun ke-3. Beasiswa akan berakhir di tahun ketiga, sehingga tahun ke-4 dan seterusnya akan tergantung pada kampus untuk membiayai kuliah dan living cost selama di sana.
Dalam masa-masa saya ambil S2 dan S3, saya hampir give up karena punya kewajiban double di kampus, harus mengajar, dan ada anak-anak di rumah. Situasi terselamatkan karena suami akhirnya tinggal di Austin setelah beasiswa Fullbrigth habis dan masih harus menyelesaikan disertasi. Tiga tahun perjalanan suami menulis disertasi dilakukan sepenuhnya di Austin, bukan di Santa Barbara sambil mengurus anak-anak. Alhamdulillah, pada akhirnya kami berdua lulus bersamaan di Juli 2013. Suami menghabiskan masa 6 tahun untuk menjadi PhD murni (dengan penulisan disertasi selama full 3 tahun terakhir). Saya tidak ideal, dan menggunakan prinsip “a good dissertation is done dissertation“.
Saya hanya punya waktu 1 tahun kurang lebih untuk menyelesaikan disertasi dengan 6 bulan pertama disibukkan dengan mengolah data statistik. Tidak ada turun lapangan, dan lain-lain karena memang menggunakan secondary data dari Indonesian Family Life Survey. Meski demikian, sebagai mahasiswa S3, tuntutan untuk presentasi di konferensi besar di bidang Social Work saya lakukan dengan menggandeng teman sesama PhD dan professor pembimbing – sesuatu yang sangat mereka apresiasi. Di tahun keempat (sekitar 2011), jauh sebelum lulus, ada publikasi internasional yang sudah terbit hasil kolaborasi dangan professor di sana; dan kebetulan artikel tersebut sangat berpengaruh di bidang spirituality dan social work karena tidak banyak yang meneliti dan menulis untuk topik itu.
Beberapa dialog yang persis saya ingat adalah dari Ketua Program PhD ketika tahu saya memutuskan pulang. Dia bilang “we used to have you here…”. Terus ketika bertanya saya akan bekerja di mana di Indonesia. Dia bilang “after all these years?…” Dialog lain dari professor yang sangat mengkhawatirkan anak-anak “how is your kids school?” “where are they going?“. Ditanya seperti itu, saya menjawab kalau saya akan kembali lagi dan memastikan mereka akan sekolah di US lagi ketika mereka SMA atau pas kuliahnya.
Dangan menuliskan ini, hanya bagian dari refleksi betapa berat dan sulit akulturasi dan adaptasi baik ke negara baru maupun ketika kembali ke negara sendiri. Mungkin masih ada asa, kalau suatu saat nanti entah kapan, akan ada kesempatan mengajar di AS. Sepertinya sangat sulit setelah hampir 9 tahun lulus, saya bahkan masih belum berkesempatan kembali ke sana. Terutama beberapa tahun ini disibukan dengan kerja managemen, jadi tidak/kurang terurus akademiknya. Satu janji yang sudah tertepati, Alhamdulillah Sophia bisa kembali ke sana untuk S1 nya. Sebagai seorang Muslim, kita harus selalu percaya, semua selalu ada hikmahnya dan selalu berucap “Alhamdulillah ‘ala kulli hal”. Terima kasih sudah membaca, semoga ada manfaatnya.
Bintaro, 3 September 2022.

Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta.
