Idealisme dan Keputusan Etis Kartini Mau Dipoligami
Kartini yang Problematis
Banyak sekali pro kontra terhadap perjuangan historis RA Kartini dalam membebaskan kaum perempuan. Sebagian besar sepakat, namun sebagian besar lain masih memperdebatkan soal kelayakan gelar “pelopor emansipasi perempuan”. Kartini hanya bermodal surat-menyurat dengan Estella Zeehandelar, tidak sebanding dengan getirnya perjuangan pahlawan perempuan lain yang langsung maju ke gelanggang perang. Kurang lebih begitulah asumsi umum yang ada.
Bagi saya, tidak ada perjuangan yang layak untuk diperbandingkan. Sebab kesemuanya saling menyempurnakan sejarah dan memperkaya ragam perjuangan para perempuan Indonesia. Satu perjuangan dengan yang lainnya melahirkan pengorbanan-pengorbanan khusus yang tidak terceritakan.
Dan salah satu keputusan Kartini yang paling berani adalah tentang kesanggupannya dipoligami. Barangkali yang menjadi pertanyaan besar di kepala kita saat ini ialah; bagaimana mungkin seorang tokoh emansipasi perempuan, yang paling kencang melakukan pemberontakan pada masa itu, akhirnya menyerah untuk dipoligami?
Kartini Tidak Mau Menikah
Pemberontakan Kartini terhadap praktik poligami pada saat itu berdasarkan pada air mata sang Ibu yang ia saksikan sendiri. Ibunya, Ngasirah, adalah istri sah dari Bupati Jepara, Sostroningrat. Namun karena Ngasirah bukan dari kalangan bangsawan, maka ibunya tidak diperbolehkan tinggal di rumah utama. Ibunya tinggal di rumah belakang, berperan serupa pembantu, dan harus berjalan dengan merangkak serta menunduk. Bahkan di depan anak-anaknya sendiri.
Sementara istri sah ayahnya yang berasal dari kaum bangsawan, memperoleh keistimewaan tempat juga perlakuan. Kartini menyaksikan kepedihan dan ketidakadilan yang menimpa ibunya setiap hari dan merasa marah.
Kemarahannya tersebut ia tuliskan dalam sebuah surat yang ia kirimkan kepada sahabatnya, Stella:
“Saya tidak akan, sekali-kali tidak akan jatuh cinta. Karena mencintai seseorang, menurut hemat saya, pertama-tama harus ada rasa hormat. Dan saya tidak bisa menghormati seorang pemuda Jawa. Bagaimana saya bisa menghormati seseorang yang sudah kawin dan menjadi ayah, yang apabila sudah bosan kepada istri dan anak-anaknya, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya secara sah …”
Tidak hanya itu, saking kerasnya perlawanannya terhadap ketidakadilan yang timbul dari praktik poligami, bahkan semenjak usianya 16 tahun, ia sudah bertekad tidak akan menikah selama-lamanya.
Akibat tekadnya yang kuat, ia pun menjalani masa pingitan yang lebih lama daripada saudara-saudara perempuannya yang lain. Sebab ia selalu menolak perjodohan orang tuanya. Selama menjalani masa pingitan itulah, Kartini menggagas banyak sekali pemikiran penting mengenai emansipasi perempuan.
Menikah: Kekalahan Kartini?
Gong akhirnya yakni pada usianya ke-24 tahun. Usia yang sudah dianggap terlambat menikah untuk perempuan seusianya. Sang Ayah menjodohkannya dengan Bupati Rembang, Djojoadhiningrat. Pada saat itulah Kartini sadar, bahwa musuh terbesarnya bukanlah para penjajah kolonial Belanda, namun ia sedang melawan musuh yang jauh lebih kejam dan tak terelakkan, yaitu adat istiadat dan sistem sosial.
Karena bakti kepada sang ayah, Kartini mengiyakan permintaan ayahnya. Pada saat itu, ayahnya sudah sakit-sakitan dan meminta dengan sangat kesediaan Kartini untuk menikah.
Sostroningrat mempertimbangkan baik-baik perjodohan ini. Hubungan Kartini dengan ayahnya sangatlah dekat. Sostroningrat mengerti betul bagaimana pemikiran dan sikap Kartini yang sangat vokal terhadap ketidakadilan yang ada. Sama seperti Kartini, sang ayah pun tak kuasa melawan sistem sosial pada masa itu.
Bagi Sostroningrat, Djojoadhiningrat adalah calon suami terbaik. Djojoadhiningrat adalah seorang laki-laki cerdas yang memiliki pemikiran relatif progresif dibanding laki-laki lain pada masa itu, ia juga memperoleh pendidikan dari sekolah Belanda, dapat berbahasa Belanda, serta salah satu bupati yang disegani. Reputasinya sangat baik.
Satu-satunya kekurangan yang Djojoadhiningrat punya ialah, ia sudah memiliki tiga orang istri.
Alasan Etis Kartini Mau Dipoligami
Hal ini tentu menguji kesetiaan dan komitmen Kartini terhadap idealismenya. Kartini berada di antara dua persimpangan jalan; mengecewakan hati orang tuanya atau memegang teguh prinsipnya sebagai harga mati.
Akhirnya Kartini menegosiasikan beberapa syarat kepada calon suaminya. Syaratnya ialah, 1) ia ingin mendapat perlakuan setara dan tidak mau mengikuti prosesi pernikahan jawa yang sulit, 2) ia ingin ibunya memperoleh tempat di rumah utama, 3) ia ingin dibangunkan sekolah untuk perempuan dan diperbolehkan mengajar.
Tanpa ragu, Djojoadhiningrat menyanggupi semua syarat tersebut.
Syarat ini adalah jalan tengah yang Kartini tawarkan sebagai bentuk dari rasa belas kasih terhadap orang tuanya serta komitmennya terhadap gerakan pencerdasan perempuan. Barangkali Kartini tidak dapat memilih salah satunya, sebab orang tua juga cita-cita sama-sama memiliki tempat yang penting dalam hidupnya.
Baginya, memiliki suami yang mendukung cita-citanya adalah lebih dari cukup. Cita-cita yang lebih besar dari urusan ranjangnya sendiri.
Keputusan yang Kartini ambil merefleksikan sikap berani, empati, dan kepedulian terhadap sesama perempuan. Kartini sanggup menelan pedihnya berbagi hati, menomorduakan kebahagiaannya pribadi, agar perempuan-perempuan pada masa itu bisa sekolah dan tidak merasakan ketidakadilan yang ia alami.
Kartini mungkin kalah memperjuangkan kebahagiaannya sendiri, namun perempuan-perempuan lain harus cerdas. Sebab perempuan yang cerdas akan lebih mampu mengambil pilihan-pilihan yang baik dalam hidupnya.
Jika ada perempuan seperti Kartini yang berani menelan pil pahit poligami demi kemajuan pendidikan perempuan Indonesia, keberanian macam apa yang sanggup kita pertaruhkan pada masa kini?

Redaktur Rahma.ID, Ketua Bidang Ipmawati Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah 2021-2023
