f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bapak

Tiga Tahun Mengenang Keperagian Bapak (1): Bapakku Sang Pemimpin

Sudah tiga tahun Bapak meninggalkan kami sekeluarga, tepat pada tanggal 16 Maret 2018 Bapak dipanggil oleh sang khaliq. Ia meninggalkan tiga anak dan seorang istri. Bukan hanya keluarga besar yang merasakan kehilangan, akan tetapi alam sekitarpun ikut merasakannya.

Kepergian yang menyesakkan hati, terutama Ibu dan adik bungsuku yang terkadang masih mengingat-ingat. “ Ya Gusti, mengapa Bapak dan Suami kami engkau panggil secepat ini?”.

Sebenarnya saya juga merasa terpukul yang begitu dalam. Jika pembaca pernah bermain sepak bola dan tulang kering mengalami benturan dengan kaki lawan, atau siku yang terbentur dengan benda keras? Ya, begitulah sakitnya ketika ditinggalkan orang tersayang. Rasanya begitu sakit dan tidak bisa diceritakan dengan kata. Hal terbaik adalah menyibukan diri dan berusaha tegar dengan suatu keadaan.

…

Bapak bernama Asjo bin Asmu bin Raksanata. Kata Ibu, ia lahir pada tahun 60an tepatnya di daerah Cijemit, Kuningan Jawa Barat. Pada usia yang cukup muda, ia dibawa oleh orangtuanya ke Sumatera untuk merantau dan akhirnya menetap di Sumatera sampai akhir hayatnya.

Bapak hanya lulusan MI NU Kuningan, Sukamaju. Pendidikan dasar yang untuk saat ini seringkali dianggap sebagai pendidikan terendah; yang mana untuk memperoleh masa depan yang cerah teramat sulit. Paling mentok lulusannya hanya terstigmakan menjadi kuli atau buruh.  Ya itu memang benar, karena pekerjaan seseorang seringkali tergantung pada rendah atau tingginya pendidikan.

Meskipun hanya lulusan Madrasah Ibtidaiyah, jiwa leadershipnya angat menggembirakan. Sayang, Ia tidak bisa melanjutkan sekolah karena seringkali diajak jualan berkeliling desa oleh Mimih (Ibu) nya dan terkendala biaya untuk sekolah.

Bapak merupakan yatim pada masanya, ia ditinggalkan oleh Ayahandanya ketika usianya belum baligh. Beliau juga sering menceritakan kepada kami, anak-anaknya. Bahwa ia sangat terpukul atas kepergian Bapaknya (Abah kami).

Baca Juga  Bagaimana Abah Mendidik Saya agar Gemar Membaca Buku

Karena ia merasa bahwa yang sangat mencintai dan menyayangi dirinya hanyalah Abah kami, Ia tidak merasa disayangi oleh Eyang, Bapak merasa seolah Eyang menganak-tirikannya meskipun anak biologis. Sering dimarahi bahkan dikucilkan dari saudara-saudara yang lain. Namun begitulah dinamika yang terjadi dalam suatu keluarga, dari kejadian tersebut terdapat hikmah yang luar biasa yang dapat diambil pelajaran, dan Itulah pula yang membuat jiwanya besar.

Petualangan Kepemimpinan Bapak dimulai dari Madrasah Ibtidaiyah

Bapak seringkali menceritakan kepada kami bahwa pada saat sekolah ia sering menjadi juara kelas; sering diandalkan oleh gurunya; dan seringnya menjadi pemimpin pada saat upacara bendera hari senin.

Meskipun hanya lulusan Madrasah Ibtidaiyah, beliau dalam belajar tidak pernah putus asa. Di masa remajanya, ia berguru kepada K.H. Abdul Somad, atau lebih populer dikenal dengan nama Abah Endos; seorang Ulama Nahdlatul ‘Ulama yang cukup beken. Dari Abah Endoslah beliau belajar agama, maka jika disuruh untuk melantunkan pujian-pujian khas dari kalangan Nahdliyin, Bapak cukup mahir.

…

Bapak dan Ibu menikah pada tahun 1990. Pada tahun pertama, Ibu menunda kehamilan dengan ikut KB. Pada tahun pertama pula Bapak tinggal ditempat mertuanya. Karena tidak nyaman tinggal bersama mertua, akhirnya Bapak dan Ibu membuat rumah sendiri ala kadarnya di tanah milik Uwak, yang kemudian dibelinya secara kredit.

Mereka berdua tinggal di rumah gubuk yang hanya beralaskan tanah dan dinding yang terbuat dari anyaman bambu atau orang menyebutnya geribik. Pada tahun 1992 Ibu melahirkan seorang anak laki-laki yang cukup pandai, yang memiliki sifat sepertinya. Jika boleh memuji, Aa Muhsin adalah pelanjut mimpi Bapak.

Bagiku, Bapak dan Ibu adalah dua pasangan yang cukup romantis, karena setiap menjalani masalah kehidupan ia selalu bersama-sama dalam menyelesaikannya. Sebenarnya Bapak memiliki sifat yang keras dan tegas, tapi tidak satu kalipun Bapak memukul Ibu. Meskipun memiliki sifat yang keras, Bapak juga pekerja keras, sedangkan Ibu pekerja yang tekun dan memiliki sifat penyabar. Maka setiap ada permasalahan selalu menemukan solusi dalam penyelesaian, yang membuat utuh sebuah rumah tangga.

Baca Juga  Cerita Pria Hobi Berat Pada Peternakan

Belajar dari kerja keras Bapak, ketika masa kecil anak-anak seusianya disibukkan dengan bermain. Bapak justru disibukkan dengan membantu orang tua untuk berjualan keliling desa, menjajakan sorabi yang di suhun oleh Eyang di atas kepalanya, dan Bapak yang menenteng sangke yang berisi jenis makanan lain untuk dijajakan.

Dengan penuh kesabaran, mendapat untung dan dikasih upah oleh Eyang atas penjualan makanan itu. Kemudian uang yang didapat dikumpulkan untuk membeli seragam sekolah, hebatnya Bapak membeli dengan uang sendiri.

Hasil Kerja, Penjualan Sapi dan Hasil Panen di Tabung

Beranjak dewasa dan kemudian menikah, dengan tenaga yang ia punya, Bapak selalu siap sedia untuk bekerja meskipun serabutan. Seperti upahan memetik kelapa, memetik kopi, babut (nyabuti benih padi), ngokolongan (mencangkul galengan sawah), sampai dengan menggarap sawah miliknya orang lain dan berlangsung selama bertahun-tahun.

Beruntung Bapak memiliki seorang istri yang penyabar dan tidak boros, akhirnya dari hasil itu senantiasa menyisihkannya untuk ditabung dan digunakan untuk membeli sapi sebagai ternak.

Selanjutnya sapi tersebut berkembang biak dan banyak, kemudian Bapak menjual beberapa; dan ditambah oleh tabungannya Bapak-Ibu akhirnya mampu membeli sepetak sawah. Meskipun sawah yang ia beli belum produktif (masih dalam bentuk rawa).

Bapak dan Ibu berkolaborasi merawatnya dengan penuh ketekunan dan kesabaran. Membakar gambut, membabat pandan rawa, serta pepohonan rawa yang mengganggu ia tebangi. Akhirnya setelah beberapa kali menggarap, sawah itu telah menghasilkan padi yang bagus.

Hari demi hari sampai tahun demi tahun, dari hasil penjualan sapi dan hasil panen. Bapak mampu membeli beberapa petak sawah sekaligus tegal (ladang) yang kemudian ditanami karet. Meskipun sawah dan kebun karet yang Bapak punya tidak banyak dan luas, akan tetapi ia bisa dikatakan mampu melepaskan diri dan keluarga dari belenggu kelaparan.

Baca Juga  Menerima Takdir-Nya

Sifat tegas, keras, dan ulet, telah melahirkan anak-anak yang luar biasa, sebut saja Aa Muhsin. Anak pertama yang memiliki sifat yang hampir mirip dengan Bapak. Dalam jejaknya di persyarikatan, Ia pernah aktif di PD IPM OKU Timur, PW IPM Sumatera Selatan, PD Pemuda Muhammadiyah OKU Timur, dan LSBO PW Muhammadiyah Sumatera Selatan.

Bagikan
Post a Comment