f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ayah

Ayah: Sejuta Kerinduan Untuknya

Bersyukurnya diriku lahir dan besar di keluarga yang mungkin dalam bahasa gaulnya adalah fanatik terhadap agama. Bahkan sangat teringatnya diriku saat masa kecil selalu mencari alasan untuk bolos mengaji dan berujung sapu melayang. Tapi itu bukan menjadi alasan penyebab benciku terhadap orang tuaku di masa dewasaku kini.

“Nduk, ngaos kanthi temenan gih” ucap ibuku kala mengantarku masuk ke pondok di jenjang Sekolah Menengah Pertama yang berarti “nak mengaji yang serius ya”. Sebenarnya bukan hanya ibuku saja yang mengantarku, melainkan ada ayah yang melihatku dari kejauhan, dan kulihat matanya yang memerah tatkala kujabat dan kucium tangannya.   

Terutama seorang ayah. Ayah merupakan sosok paling berharga bagi putrinya, baik di kehidupan masa lalu, sekarang, maupun yang akan datang. Menurut versiku, seorang ayah adalah sosok garda terdepan bagi keluarganya. Beliau juga menjadi sosok pelindung bagi putra-putrinya.

Beliau jugalah, mungkin menjadi sosok yang paling tidak ingin melihat anak-anaknya gagal. Dalam artian apapun akan ia jalani demi keinginan serta masa depan anak-anaknya. Mungkin pengertian sosok ayah memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Lantas bagaimana menurut kalian definisi dari sosok ayah itu sendiri?

Kehidupan yang Berbeda

Di awal tatkala aku melaksanakan kehidupan di pondok, berat terasa hari-hariku. Dimulai dari kebiasaan para santri yang diwajibkan bangun pada pukul 02.30 WIB untuk jamaah salat tahajud dan dilanjutkan tadarus Al-Qur’an yang didampingi akhwat sampai masuknya waktu subuh.

Setelah salat subuh dan wiridan, terdapat kegiatan mengaji kitab kuning dan salat Duha sampai pukul 06.30 WIB. Pada pukul 07.00 WIB para santri wajib untuk berangkat sekolah sampai masuknya salat Zuhur. Setelah salat Zuhur pun masih ada mengaji kitab kuning sampai masuknya salat Asar.

Baca Juga  Hikmah dari Dua Kisah Istri Terpidana Terorisme

Setelah salat Asar, kemudian terdapat kegiatan sekolah sore atau biasa orang-orang sebut dengan madrasah diniyah. Selepas madrasah diniyah kami harus menjalankan salat Magrib berjamaah dan lanjut dengan mengaji kitab lagi sampai Isya. Selepas Isya, kami wajib untuk menyetorkan hafalan yang menjadi target pembelajaran di jenjang SMP untuk syarat kelulusan kelak.

Jujur saja, kehidupan sehari-hari seperti ini sangat melelahkan. Kerap kali waktu orang tua menjenguk atau penyebutan di kalangan santri adalah sambangan, aku mengeluh pada ayah ibukku. Selalu kuceritakan segala keluh kesahku di hadapan mereka. Apalagi tuntutan hafalan imrithy yang terdiri dari 254 nadhom.

“Yah, kulo saget nopo mboten nggeh?” dengan makna “yah saya bisa ndak ya?” ucapku selalu pada ayahku di waktu sambangan setiap bulan. Betapa ajaibnya ucapan ayah, meskipun beliau hanya memberikan wejangan tentang kamu bisa tetapi itu sudah sangat ampuh untuk membangkitkan semangatku kembali.

Pada awal pertengahan kelas 9 SMP, tiba-tiba terdapat kabar bahwa mulai angkatanku harus menyetorkan hafalan maqsud sebagai syarat kelulusan,  itu sempat membuatku dan teman-temanku down. Tapi aku selalu mengingat pesan ayah dan raut wajah ayah yang tampak bahagia tatkala kuceritakan prestasiku kepadanya.

Nyaris di setiap malamku yang tak pernah tidur, kuhabiskan waktuku untuk mengejar targetku di tengah ujian. Huftt, jujur, aku ingin putus asa. Tapi aku tetap kekeuh bahwa aku harus menuntaskan apa yang menjadi tanggunganku dan berprinsip bahwa apa yang aku mulai harus aku akhiri.

Why Me?

Setelah kurang lebih aku menghabiskan waktu sebulan, aku berhasil menuntaskan apa yang menjadi targetku. Aku berhasil menjadi penyetor pertama dari angkatan perempuan dengan waktu satu bulan kala itu. Menurutku itu membawa dampak positif kepada teman-temanku untuk berjuang pada tuntutan mereka.

Baca Juga  Mengumpulkan Curahan Hati Perempuan Muda

Aku melihat mereka mulai bersaing satu dengan yang lainnya. Wah, teman-teman banyak yang memberiku ucapan selamat atas pencapaianku. Terima kasih ya gais hehehe. Hari-hariku berjalan dengan baik setelah itu, hingga pada akhirnya tibalah waktu liburan. Kala itu aku sangat bangga, menanti jemputan dari ayah dan ibuku.

 Hingga pada akhirnya salah satu temanku memanggilku “heyy ummuki!” Baik, hatiku berdebar, 6 bulan tidak merasakan kehidupan luar. Dengan semangatnya diriku membawa ransel dan beberapa tas lainnya untuk kubawa pulang.  Namun siapa sangka, tidak kutemui ibuku melainkan tetanggaku lah yang ada di depanku sekarang.

Tetapi aku tidak pernah memiliki pikiran negatif sekalipun. Aku tetap bahagia di hari pertama liburanku. Di sepanjang jalan kami mengobrol, berbincang-bincang mengenai keseharianku Dengan membawa bukti telah selesainya targetku, untuk kutunjukkan pada ayah dan ibuku.

Kususuri halaman rumahku dengan langkah yang pelan. Banyak orang di sana, dan semua mata tertuju padaku. Aku bingung, apa yang sebenarnya terjadi. Semua orang menangis tatkala melihatku. Pelan-pelan ku masuki rumah dengan suasana yang kurasa itu, haru? Atau sedih?

Memang benar, kudapati ayahku yang telah berbaring dengan keadaan yang pucat. Di sini aku baru memahami perilaku aneh orang-orang sedari tadi. “Yang sabar ya nduk, ayahmu orang baik, makanya di jemput Allah dulu”. Sakit, ku remat kertas yang ku bawa di samping jasad beliau.

Aku merasa sia-sia apa yang telah ku perjuangkan selama ini. Momen yang seharusnya menjadi momen pertama dalam hidupku bersama beliau. Tapi kini hanya sebuah mimpi belaka. “Yah, kulo kecewa, kulo pun berjuang demi panjenengan, teng nopo panjenengan tindak rumiyin? Kulo tasik butuh panjenengan yah”

Baca Juga  Bu Nyai Sebagai Garda Terdepan Menjaga Kemandirian dan Lingkungan Pesantren

Dengan arti “Yah, saya kecewa, saya sudah berjuang demi kamu, mengapa kamu pergi dulu? Saya masih butuh kamu, yah” ucapku di samping jenazahnya. Di sini semuanya berduka, terutama ibu. Ibu yang kurang lebih menjalin ikatan pernikahan selama 22 tahun itu tidak percaya apa yang telah terjadi dihadapannya.

Beliau mungkin syok dan kudapati beberapa kali pingsan saat melihat jenazah ayahku. Mungkin ibu juga tidak bisa membayangkan bagaimana bisa dia menjalankan kehidupan ini seorang diri dengan kewajiban menghidupi kedua putrinya. Wah, aku paling tidak bisa melihat kehancuran hidup ibu. Tapi bagaimana pun kehidupan ini senantiasa tetap berjalan.

 Sesekali aku selalu berfikir, kenapa Allah memberiku kisah hidup yang sesakit ini? Kenapa hidupku lah yang Allah pilih untuk memiliki jalan serumit ini? Tidak! Aku selalu meyakinkan diri bahwa Allah tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya. “Yah, di sini aku mendapat pelukan, tetapi tidak sehangat pelukanmu”.

Bernostalgia sedikit mungkin tidak menjadi masalah, akupun tak bermaksud melupakannya, walaupun pedih

Editor : Itsna Naziihah

Bagikan
Comments
  • P

    Anjay

    Desember 6, 2023
  • y

    Keren 😎

    Desember 6, 2023
Post a Comment