f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Kehilangan Pengetuk Pintu Langit

12 Maret 2020, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan di Yogyakarta. Saya merasa ragu untuk berangkat karena harus meninggalkan suami dan kedua putri yang masih kecil. Akhirnya saya memutuskan untuk berdiskusi dengan ibuku via telepon.

“Bu, saya ada pelatihan di Jogja selama dua hari tapi saya nggak tega meninggalkan anak-anak”.

“Pulanglah, Nak. Ibu rindu sama kamu, sebentar saja”. Ibu meminta dengan mata berkaca-kaca. Saya tidak melanjutkan diskusi lagi dengan beliau, karena saya tahu besar harapan beliau agar putri kesayangannya dapat pulang meski sebentar saja.

Saya meminta izin kepada suami untuk mengikuti pelatihan selama dua hari ditambah menginap di rumah ibu selama satu malam. Alhamdulilah, saya diizinkan kemudian saya berangkat dari Melawi menuju Kulon Progo.

Setibanya di sana, ternyata ibuku sudah menunggu. Saya dipeluknya, diciumnya sambil menangis. Sebelum saya berangkat ke tempat pelatihan, saya pulang ke rumah ibu. Seperti biasa, ibu sudah menyiapkan makanan kesukaanku; pindang ikan dan buah-buahan. Saya menceritakan keadaan di perantauan dan tak terasa sudah dua jam berlalu kemudian saya pamit untuk berangkat pelatihan.

Saya sudah janji, setelah pelatihan selesai untuk kembali menemuinya. Ibuku sudah menunggu, mengajakku belanja, memasak; dan malam harinya, saya tidur bersamanya. Saya memeluknya dengan menghela nafas panjang. Melihat badannya yang semakin kurus, wajahnya sudah mulai keriput. Semakin saya dekap dan tertidur sampai pagi.

Sangat singkat perjumpaan kita, ketika hari pertama dinyatakan harus PSBB, saya berjanji akan mengunjunginya lebaran tahun 2021. Ibuku memberiku gulungan uang yang diikat oleh karet. “meskipun kamu sudah bekerja, kamu tetap putri kecilku, jadi jangan menolak pemberian ibu ya, ini cukup untuk beli tiket dan oleh-oleh untuk anak-anakmu”. Itu kata-kata terakhir yang membuat saya meneteskan airmata.

Baca Juga  Berbeda Agama dalam Satu Keluarga
Saya pun pulang ke Melawi.

Setiap selesai shalat subuh, saya selalu video call padanya. Hanya menanyakan kesehatan dan aktivitasnya sehari-hari. Dan pada tanggal 18 Oktober 2020, ibuku tak seperti biasanya ingin melihat wajahku melalui video call di sore hari. Dia menceritakan bahwa badannya dingin. Tentu saya panik, dan saya bertanya, “sudah minum obat?”, “Sudah periksa ke dokter?”.

Saya meminta untuk tidak berpuasa hari senin. Kemudian beliau menjawab, “Mohon maaf ibu tidak bisa menemanimu puasa pada hari senin, dan maafkan ibu jika punya salah”. Meskipun kami berjauhan, kami merasa selalu dekat, saya merasakan kasih sayangnya yang sangat luar biasa.

Perbincangan menjadi terhenti, telepon terputus. Hatiku menjadi berdebar-debar tak karuan. Tak lama kemudian adik bungsu mengirim pesan bahwa ibu sudah tidak dapat berdiri dan ibu digendongnya ke dalam mobil kemudian diantar ke Rumah Sakit.

Saya menunggu kabar tapi tak satupun dapat dihubungi. Hingga sampai jam 10 malam, saya hanya tertidur sebentar karena kelelahan menunggu. Kemudian suamiku membangunkanku, memberitahu bahwa ibuku sudah meninggal.

Saya hanya terdiam, dan tidak percaya akan apa yang baru saja terjadi. Ibuku baik-baik saja, beliau memang sedikit kelelahan setelah menunggu dan merawat bapak yang bolak-balik masuk ke rumah sakit. Saya sangat terkejut. Dan pandemi Covid-19 membuat saya tidak dapat pulang untuk melihat wajah ibu untuk terakhir kalinya.

Saya belum dapat memberi kebahagiaan untuknya, saya sering merepotkan. Hanya nasihat-nasihatnya yang tertanam rapi di ruang hati. “Jangan merepotkan orang lain, harus mandiri, selalu berbuat baik di manapun berada, jangan lupa shalat dan sedekah”.

Merasa waktu masih cukup panjang.

Kadang kita merasa waktu masih Panjang, sehingga kita berleha-leha untuk berbuat sesuatu. Apalagi perihal kebajikan. Begitupun terhadap ibu, terkadang kita merasa banyak pintu untuk membahagiakannya, nanti-nanti.

Baca Juga  Menikmati Cinta Ibu Lewat Masakannya

Seperti saya, hanya bisa melihat foto ibu saja dan selalu mendoakan agar beliau diterima segala amal ibadahnya oleh Allah. Saya menyadari dan percaya bahwa setiap keberuntungan yang terjadi dalam kehidupan kita, bukan karena usaha kita sendiri melainkan hasil dari doa-doa baik yang mengalir dari orang-orang yang menyayangi kita; di antaranya do’a ibu.

Dalam islam, ada hadis yang menerangkan bahwa kita semua wajib menghormati orang tua terutama ibu. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radiyallahu’annhu, Rasulullah pernah ditanya oleh salah seorang sahabat tentang kepada siapa saja dia harus berbakti.
Rasulullah pun menyebut nama Ibu sebanyak tiga kali, sementara ayah hanya satu kali.

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?”. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ibumu!” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ibumu!” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi,” Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu. (HR. Al Bukhari).

Saya telah kehilangan pusaka.

Dia adalah penyejuk kalbuku; orang yang ikhlas memberikan doa dan restu yang dapat mengetuk pintu langit. Jika saya punya masalah, maka beliau tahu bagaimana cara menenangkanku.

Dari sejak kecil, setiap saya berada dalam kesulitan, beliau adalah orang yang siap sedia berada di garis depan; untuk memotivasi, memberikan solusi, memberikan bantuan baik secara moral maupun materi. Beliau adalah pintu bagi setiap solusi permasalahan yang ada.

Benar kata orang, bahwa ibu adalah pembuka pintu langit, bisa menggantikan siapapun dan tidak akan pernah dapat tergantikan oleh siapapun. Selalu menyembunyikan letih dalam senyumnya, tak kenal lelah, rela memikul beban di pundaknya. Rasanya tak pantas kita mengeluh tentang hal sepele padanya. Kesederhanannya, kelembutannya, keikhlasannya, yang mewujud dalam menjalankan hidup dengan penuh kebahagiaan.

Baca Juga  Kiat Menghadapi Kaum yang Suka Termakan Isu Hoaks

Sebagai seorang perantau, jauh dari keluarga merupakan tantangan terbesar. Hal yang tak bisa dihindari ketika orang-orang yang kita sayangi, satu persatu meninggalkan kita dan kita tak dapat berada di sampingnya untuk yang terakhir kalinya.

Kalau saja saya tidak memenuhi permintaan ibu untuk pulang pada bulan Maret yang lalu, pasti saya akan menyesal. Semuanya sudah benar adanya, Allah telah mengatur hidup kita dengan sedemikian baiknya, hanya kita perlu meluaskan penerimaan dan kesabaran untuk menjalaninya. Berjalan pada relnya, dan yakin di balik kejadian apapun pasti akan ada hikmahnya, meskipun pintu langit sudah tertutup.

Bagikan
Comments
  • Miyati

    Subhanallah,Allahu Akbar,
    Cerita nyata ini juga nyata ibu alami,Juni 2021 sy bergegas pulang ke Semarang karena PAS sdh selesai,satu bln bersama ayahku ku manfaatkn dgn baik,Juli aku kembali,Agustus tgl 18 2021 ayah di panggil oleh Allah SWT,Allahu Yarham

    September 4, 2021
Post a Comment